Kita Adalah Tunas-Tunas Berlian #Simplestory

Mereka tetap sama, muda-mudi yang labil dan galau. Meskipun terkadang ngigau, tapi sejatinya ngena. Mereka menyebutnya Makula Densa. Dipelesetkan menjadi nama keren dan beken, meskipun maaf, agak norak, haha. “Mak Den”. Bukan emak loe atau emak gue. Hehe.

Dia, seorang cowok, datang kala itu dengan wajah terlugu yang ia punya. Memang sejatinya dia adalah anak yang sungguh lugu dan polos. Cupu dan agak pendiam. Dia sendiri yang menyebut dirinya demikian. Well, setidaknya ia patut diancungi jempol karena dia cukup tahu diri.

Mereka mengajaknya duduk melingkar di atas sebuah teras. Dia memang pantang diajak, karena sebuah ajakan menurutnya adalah sebuah penerimaan. Anak yang sejatinya kuper dan rumahan, bukan karena dia memilih demikian, tapi ia tak merasa ada di luar sana. Semacam introvert tingkat dewa. Tentu saja ia senang diajak. Apalagi, kali ini ia diajak duduk melingkar di sebuah teras, dalam sebuah kelompok belajar, didengar dan diperhatikan.

Entah bawaannya yang wibawa ataukah ada hal lain yang melatar belakangi raut mukanya. Dia tak menyadari sejak kapan dia dipilih menjadi ketua dari mereka. Entah mengapa. Setiap minggu, mereka berkumpul di teras yang sama. Waktu itu, pepohonan masih sangat rindang. Angin masih sangat sejuk. Entah berapa memori mereka yang tersimpan di benaknya yang introvert. Secara, dia kadang terlalu labil dan melihat jauh ke dalam, menyimpan baik-baik.

Belajar. Itu mungkin tujuan mereka duduk di teras itu. Namun bercanda, tertawa, teriak-teriak, jalan-jalan, makan-makan, curhat-curhatan, dan hal-hal lain yang tak tergambarkan, mungkin lebih banyak dibanding belajarnya. Haha. Terlihat seperti kumpulan ABG galau yang baru gede. Lebih tepatnya, belajar untuk lebih dewasa, cie ela. Perlahan tapi pasti, dia yang cupu ini, mulai menerima dunia luar. Dari mereka, dia belajar banyak hal. Dia menemukan dunianya yang nyaman, yang jarang ia temui.

Mereka menyebutnya keluarga. Ada mamah, papah, adek, kakak, pak de, paman, tante yang gak mau dibilang tante, hingga alumni. Hehe. Untuk mereka yang singgah dan kemudian merantau. Mereka sudah seperti saudara saja.

Tiga tahun berlalu semenjak hari itu. Dan keluarga besar ini memang sudah semakin besar. Banyak yang lamaran, sehingga jadi anggota keluarga, dan ada pula yang pulang dari perantauan. Mereka pun ketemu siang dan malam, pagi dan sore. Kapanpun mereka suka. Seperti saudara sendiri saja. Namun takdir tak bisa dipaksakan, ketika dia harus meraih gelar sarjananya sendirian. Seleksi alam atau apalah namanya, ya akan selalu ada. Merasa duluan menjadi sarjana, tak selamanya menggembirakan baginya. Seharusnya ia bisa lulus bersama-sama tepat waktu. Tapi, itulah nasib.

Mereka sepenuh hati mensupportnya mengikuti ujian akhir. Dan satu-satunya yang ia andalkan saat itu memang hanyalah mereka. Ia berhutang budi pada mereka.

Dia tak menyebut dirinya manusia setengah dewa, atau apa. Dia hanya merasa menjadi orang beruntung yang bisa lulus lebih dahulu. Dia berkata,”Kita adalah tunas-tunas berlian, yang akan tumbuh di kemudian hari.” Ini hanya masalah waktu, pikirnya. Lagipula, yang tahu masa depannya hanyalah Allah.

Dia berfikir, seperti apa cerita Mak Den sepuluh tahun lagi. “Semoga masih hidup, dan semoga udah gak galau-galau lagi. hehe.” Pada akhirnya, dia merasa, Mak Den telah mempengaruhi hidupnya, sedemikian dalam, hingga dalam do’anya, terselip nama-nama mereka.

About these ads

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s