Medali dari Wakil Menteri

Wajah itu terlihat keheranan, melihat enam mahasiswa duduk di ruang tengah gedung putih fakultas kedokteran itu. Saya salah satunya. Kami pun digiring ke ruangan ‘khusus’, ya.. hanya orang2 tertentu saja yang boleh masuk ke ruangan itu. Tertulis di depan pintu, “Ruang Dekan”. Tak ayal kami sempatkan berdo’a dipimpin mahasiswa senior saya. Itulah saat dimana pertama kali saya bertemu langsung dengan dekan di ruangan pribadinya.Monkey Icon

Kami berenam membawa misi khusus ketika itu. Sekitar 40 menit ba’da azan Ashar, sembari menunggu beliau menyelesaikan Shalat Asharnya, kami akhirnya duduk di sofa tamu ruangan tersebut. Banyak hal yang beliau sampaikan, demikian juga dengan kami. Hingga keluarlah statement tersebut dari mulut beliau.Monkey Winks

“Satu hal yang dicita-citakan Bapak Prof.Fasli Jalal pada fakultas ini..,” tapi tak jua terwujud hingga saat dimana alumni Fakultas Kedokteran ini pun telah menjadi Wakil Menteri Pendidikan Nasional RI. “..beliau berkata, ‘selama ini, saya selalu mengalungkan medali bagi mahasiswa yang berhasil memenangkan penelitian di Indonesia ini.. Tapi kapan…. ya, saya akan mengalungkan medali di leher mahasiswa fakultas kedokteran tercinta ini, barang medali perunggu saja tak apalah..” Demikian kurang lebih. Monkey EmoticonsHiks. Ya, kenyataannya hari ini memang seperti itu. Fakultas ini belum jua menunjukkan “taring” terpendam yang ia miliki. Harimau masih dalam kandang, tak mau jua keluar. Yang demikian itu terlontar menunggu hasil karya penelitian kami, mahasiswa fakultas kedokteran yang tak jua menunjukkan progres yang memuaskan. But it would be a motivation. Monkey WinksTeruntuk jua bagi saya yang belum tahu apa2 mengenai penelitian ilmiah ini.
Saat ku memandang langit sore itu, disudut jalan menuju sebuah tangga menurun dari lantai dua gedung putih fakultas ini, pikiranku melanglang buana. Teringat banyaknya cerita yang beliau sampaikan pada kami, hingga beliau pun tak sadar bahwasanya beliau juga ada agenda penting lainnya. Ku ingat canda dan tawa bak seorang ayah pada anak2nya, sepertinya tulus dan tersirat harapan mendalam. Tegas, lugas namun elok.
Luas sekali langit itu, warnanya biru, namun mulai pudar dengan merahnya langit menjelang magrib kala itu. Dunia ini sungguh luas ya. Serasa kerdil jika kita melihatnya dari jauh seperti ini. Sesekali ku perhatikan tanganku, kembali terfikir hal2 aneh di benakku. Ku ingin menggenggam langit itu. Tapi, bisakah dengan tangan mungil ini?Monkey Emoticons Ah.. biar saja. Allah punya banyak cerita pikirku. Saat itu entah kenapa, impian baru meresuk batinku. Ku berkhayal .. Andai saja… medali mentri itu dipasang dileherku. hhihi…. Monkey Emoticons

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s