Aktivis Munafikkah Ia?

Seorang muslim yang baik, adalah seorang muslim yang taat. Taat kepada ajaran Al-Qur’an, ajaran Allah yang disampaikan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wassalam. Seorang muslim yang taat, tentu adalah seorang muslim yang taqwa, sanggup menjalankan segala perintah-Nya, dan pandai menuntun dirinya untuk meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Sungguh sebenarnya, barangsiapa yang mencita-citakan bahwasanya dirinya mampu mewujudkan hal sedemikan itu, adalah orang-orang yang dikaruniai hikmah dan hidayah dari Rabb-nya.
Akan tetapi, ada seorang pemuda. Usianya masih separuh baya. Ia pernah mencita-citakan hal demikian. Ia pernah berusaha untuk mewujudkan hal yang demikian. Ia pernah berkecimpung dengan dunia orang-orang yang demikian. Tapi sekarang ia mendapati dirinya sudah berbeda, bukan lebih baik akan tetapi kelihatannya lebih buruk. Ia tak lagi sering ke mesjid, tak sempat lagi bertilawah, tak sanggup lagi shalat tepat waktu. Dhuha telah pupus, tahajjud makin terlupakan, apalagi berpuasa sunnah, tak lagi dikerjakan. Hidupnya sering dihabiskan kepada hal-hal yang tiada berguna, hari-harinya terbuang percuma dengan aktifitas dunia. Kata-katanya mulai tidak terarah, penglihatannya mulai buyar dan prilakunya mulai terpuruk. Apakah pemuda yang dulunya mendapat hidayah ini, kembali buta, tuli dan bisu dari ajaran Allah?
Orang-orang masih menaruh harapan penuh padanya. Seorang mantan aktivis dakwah, yang dulunya senantiasa menghabiskan hari untuk ibadah dan dakwah. Prestasi akademik tak pernah lepas dari pundaknya, meski beban dakwah yang dipikulnya semakin hari semakin berat. Entahlah, sampai hari ini orang-orang masih saja menaruh harapan itu padanya. Padahal sekarang ia mendapati dirinya semakin jauh dari Allah. Semua hal yang dulu melekat pada dirinya, satu persatu kian musnah. Naudzubillah.
Adakah layak pemuda itu memegang status sebagai aktivis dakwah? Ia pun berfikir apa itu aktivis dakwah. Ia tak paham lagi dengan dunia para aktivis dakwah. Hatinya telah malas dan futur dengan pekerjaan para aktivis dakwah yang ia pahami. Tapi masih saja mereka menyebutnya aktivis dakwah.
Ia pun bingung, sedih dan gundah gulana. Ia merasa seperti bermuka dua, terlihat baik tapi sebenarnya busuk. Terlihat anggun tapi sebenarnya renta. Ia terus beristighfar. Akankah ia benar-benar telah menjadi orang yang bermuka dua. Apakah ia seorang yang munafik? Akankah ia tergolong orang-orang yang dilaknat oleh Allah? Masya Allah. Hingga hari ini ia pun belum menemukan jawaban. Semoga suatu saat Allah kembali menuntunnya kepada jalan kebenaran.

2 thoughts on “Aktivis Munafikkah Ia?

  1. sudah sunnatullah ketika ada yg mengalami fenomena futur an, karena kondisi iman itu memang mengalami kondisi2 naik turun. tinggal cara kita aja yg harus lebih bijak menghadapinya ketika kita berada pada kondisi futur.
    taklah rugi sebatang pohon ketika satu persatu daunnya berguguran, karena ia malah akan semakin menyuburkan sang akar. muncul daun baru yang lebih segar untuk mnghasilkan buah yang lebih banyak. seperti itu jugalah kondisi kita di dalam jamaah dakwah, kitalah yang butuh dengan lingkungan ini.
    dan gelar aktivis dakwah di pundak kita memang suatu yang seharusnya kita jaga, orang lain sudah terlalu menaruh harapan dengan kehadiran kita, sehingga ketika kita pada kondisi futur mereka akan kecewa. maka tak jarang aktivis di cap Munafik, itu sebenarnya adalah kontrol gratis dari orang awam untuk kita.meski disadari aktivis juga manusia yg bisa saja berbuat salah…..
    semangat an!!!

    pnjang banagt ya..h he he he

    Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s