Ibu, Aku Rindu

Di bangku kayu yang lusuh

engkau mendudukkanku sembari menggayuh sepedamu
hingga di saat matahari hendak terbenam
semangatmu tak jua luntur

senyum senantiasa terpancar di wajahmu
terlihat betapa sucinya sebuah ketulusan sejati
wajah itu hanyalah ada pada wajahmu
yang tak pernah terlihat mengeluh
meski keringatmu telah mengalir hingga dagumu


Kau bernyanyi untuk ku
sedari kecil kau timang diriku
pelukan hangatmu tak kan pernah tergantikan
ku masih ingat
hingga saat inilah aku sangat merindukannya
lagi.. dan mungkin akan selamanya merindu

Ku tak tahu ternyata sekarang ku telah dewasa
telah jauh berkelana melintasi bukit dan lautan
hingga ketika untaian kata ini ku tuliskan
ku semakin luruh dengan kesedihan
di antara kenyataan bahwa kau telah jauh nun disana

Ibu, kau adalah manusia yang istimewa bagiku
tiada kata yang pandai ku rangkai demi menggambarkan ketulusan cintamu
ku tak punya daya membalas segala jasa-jasamu
hingga detik ini emosi jiwa pun tak pernah mampu ku redam
ketika ku teringat dirimu

Ibu, ku ingin selalu berada dekat disisimu
hingga aku sanggup mendampingimu selamanya
ku pasti akan senantiasa melakukannya untukmu
karena ku pikir, engkaulah orang yang paling mencintaiku

Ibu, aku rindu.

5 thoughts on “Ibu, Aku Rindu

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s