What is The Real Jihad?

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (QS.Al Hajj: 22)


Jihad. Setiap orang mungkin punya penafsiran yang berbeda-beda mengenai pengertiannya. Di dalam surat Al-Hajj ini Allah menegaskan dengan tegas, bahwasanya Ia memerintahkan kita untuk berjihad, “wajaahidu fii sabiilillah”, dengan keterangannya, “Haqqo Jihadihi”, jihad yang sebenar-benarnya. Disana tersirat sesuatu yang membuat kita berfiikir, apa itu jihad yang sebenar-benarnya. An rasa untuk mengkaji hal tersebut, dibutuhkan suatu studi yang sangat detail dan komperhensif, dan keputusan memberikan suatu definisi yang sah tentulah hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang dikaruniai oleh Allah ilmu, yakni para Ulama. Akan tetapi, kita sebagai umat Islam, tentu seyogyanya harus tetap berusaha mencari tahu sebuah kebenaran, apalagi kebenaran yang terpaut dengan ajaran agama kita sendiri, karena menuntut ilmu agama, fardhu ‘ain hukumnya.

Bom Bali I

Malam itu, 12 Oktober 2002 sebuah bom meledak dengan dahsyat di kawasan Pantai Kuta Bali. Ratusan orang tewas, ratusan pula yang luka-luka. Tak puas hanya sekali, 1 Oktober 2005 bom kedua pun meledak, masih di Bali. Puluhan tewas, ratusan luka-luka. Akhirnya kasus ini pun diusut, dan berakhir dengan eksekusi tiga terpidana utama, Amrozi, Imam Samudera, dan Ali Gufron. Namun mereka berdalih, ini adalah Jihad Fisabilillah, melawan sistem demokrasi yang diusung oleh Amerika. Dengan haqqul yakin mereka mengklaim eksekusi ini adalah jalan untuk mati syahid. Inikah yang dimaksud dengan “Haqqo Jihadihi” yang Allah sampaikan itu?

Rentetan peristiwa teror pun semakin subur semenjak kasus Bom Bali tersebut. Bom JW Marriot, hingga bom buku dan yang baru-baru ini bom bunuh diri di dalam MASJID pun! Korbannya pun adalah sesama muslim, orang yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Namun katanya inilah jihad fisabilillah. Benarkah? Jihad seperti inikah yang dimaksud dengan “Haqqo Jihadihi” itu?

Cerita dari Palestina, negeri yang sedang digempur oleh tentara zionis. Ribuan nyawa melayang tak peduli wanita atau pria, tua maupun muda. Semuanya digempur habis-habisan oleh Israel. Sebuah penganiayaan yang biadab terhadap orang-orang muslim. Muslim disana pun bersatu dan berusaha melawan serbuan tentara Zionis. Meski dengan alat seadanya tapi tekad mereka tetap kokoh dan membara di dalam hatinya, demi membela agama Allah yang diinjak-injak oleh bangsa Yahudi itu. Bukankah hal ini yang merupakan sebuah jihad fi sabilillah?

Atau cerita tentang para pahlawan kita yang merebut kemerdekaan dari para penjajah. Belanda maupun Jepang. Dengan dentuman teriakan Allahuakbar, sampai tetes darah penghabisan mereka senantiasa berjuang hingga kita sekarang dapat beribadah dengan tenang. Bukankah ini jihad fisabilillah juga?

Sekali lagi mungkin penafsiran jihad setiap orang berbeda-beda. Akan tetapi yang An pahami, jihad tidaklah semata-mata di medan peperangan yang nyata, akan tetapi jihad sejatinya bisa dilakukan dimana saja, kapan saja dan dalam situasi apa saja. An teringat sebuah hadits yang menceritakan, bahwasanya ketika Rasulullah saw kembali dari Perang Badar, beliau bersabda, “Roja’na minal jihadil asghar, ilal jihadil akbar. Jihadun nafsu.”Kita keluar dari jihad kecil, menuju ke jihad besar. Yaitu jihad melawan hawa nafsu kita sendiri. Melalui hadits ini, An menangkap maksudnya bahwa sejatinya hawa nafsu kita sendiri adalah musuh yang amat berat untuk ditaklukan, dan kita harus senantiasa “berjihad” untuk dapat menaklukannya hingga kita dapat mempergunakannya untuk mencari keridhoan Allah.

Di akhir kalimat ayat ini Allah pun menegaskan bahwa “Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” Kita telah dipilih menjadi umat yang mampu menaklukan hawa nafsu itu. Bukankah demikian? Dan Allah tidaklah menjadikan agama ini sebuah kesempitan, melainkan rahmatan lil ‘alamin.. Rahmat bagi seluruh alam. Di tangan kitalah rahmat itu akan dipancarkan dan dialirkan. Di tangan orang mukminlah sejatinya kedamaian dan ketentraman dapat terwujudkan. Akan tetapi yang terjadi saat ini justru berkebalikan, jihad hari ini identik dengan aksi teror, bunuh membunuh, bom mengebom, bantai-membantai, dan teman-temannya. Apakah dengan seperti itu akan muncul rahmatan lil ‘alamin? Wallahu’alam.

Kondisi keluarga binaan di Pasiak Jambak, Padang

An teringat dengan nasib keluarga binaan di kegiatan FOME yang an garap. (FOME, Family Oriented Medical Education, sebuah kegiatan turun langsung ke masyarakat kecil yang butuh edukasi tentang kesehatan). Kehidupan mereka demikian kontrasnya dengan kehidupan orang-orang di luar sana. Serba kekurangan, apakah itu harta, tempat-tinggal, pendidikan dan kesehatan. Mungkin tak bisa an uraikan di tulisan ini, akan tetapi bukankah kita juga bisa berjihad fi sabilillah untuk mereka dengan memberi bantuan moril maupun materil? Kita disini punya PR nyata yang sesungguhnya, jika mau berjihad, kenapa harus membunuh orang-orang, bahkan saudara seiman kita? Jika mau berjihad, mengapa harus membuat teror dimana-mana? Apakah yang dicari? Yang ada hanyalah citra Islam di mata dunia menjadi terpuruk. Ia tak lagi menjadi rahmatan lil ‘alamin. Ia identik dengan teror. Kenapa jihad kita tidak kita berikan untuk kemaslahatan orang banyak seperti masyarakat kecil itu? Masyarakat yang terbelakang dan minim bahkan dengan ajaran agama Islam yang mereka peluk.

Tulisan ini murni hanya opini semata. An tidaklah berusaha menggurui atau semacamnya. Tapi ya..mungkin hanya sebagai bahan diskusi saja. Jihad adalah suatu perintah Allah. Karena itu, ..berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.. Wallahu’alam… ^^

7 thoughts on “What is The Real Jihad?

  1. Abang ada dengar dari ustadz Dede Bafaqih, katanya hadits yg menyebutkan jihad hawa nafsu lebih besar dari jihad qital itu adalah hadits maudu'. Hadits itu disebarkan untuk menurunkan semangat jihad qital umat Islam.

    Abang juga tidak setuju dengan jihad teror, karena itu bukan jihad. Tapi Jihad yg sesungguhnya adalah membela agama Allah seperti yg dilakukan saudara kita di Palestina.

    Oya, jihad tertinggi adalah jihad qital an. Karena orang yg ikut jihad qital, telah mengubur hawa nafsunya dalam2. Kalau kita tidak mampu melakukan jihad qital, itu karena jihad melawan hawa nafsu masih belum beres. Sungguh mulia para syuhada yg syahid di jihad qital.

    Like

  2. Bukan orang-orang itu yang salah memahami jihad, tapi ada pihak lain yang memang ingin mendiskreditkan arti jihad. Mereka pun bisa jadi adalah korban.

    Ini opini kakak an. Kakak tidak sepakat dengan aksi bom yang sasarannya muslim, tapi kakak juga tidak membenci orang-orang yang dijadikan tersangka oleh Densus 88. Kakak lebih tidak suka Densus 88 nya. Kakak yakin dalang sebenarnya adalah Zionis beserta Freemasonnya.

    Dan kalau dijabarkan alasannya bisa jadi satu tulisan..

    Wallahu a'lam.

    Like

  3. @bg dodo.. sykrn for sharing bg. bg dodo mungkin benar, ttapi an rasa jihad untuk kemaslahatan umat jauh lebih baik daripada teror bom dan pembunuhan yang mereka bilang jihad itu. Mnurut an, mengapa harus menumpahkan darah di negeri sendiri pd org2 kafir yg tdk menyerang islam secara qital,, kalo mmg mw jihad scara qital, pergi lah ke palestin, bantu sodara2 di sana, bukan malah membunuh muslim pula di sini. Bukankah klo mereka (org kafir) itu condong kepada perdamaian, maka lebih baik berdamai? Wallahu'alam.. ^^”

    Like

  4. @kak fifah.. entahlah. an pun g ngerti lah kak,, sungguh kasihan jika mrka itu adalah sbg korban. Tp an rasa densus 88 jg tdk bisa disalahkan, karena tugas mereka adl mnjaga keamanan rakyat dari teror smacam itu.. Klo an g mw berprasangka dlu lah kak. Biarlah Allah sndiri yg membalas, kecuali jika ada bukti konkritnya.

    Like

  5. Kl gt jangan berprasangka sama pelaku bomnya dulu ya an.. Hehe.
    Udah ada bukti kok tentang pendapat kakak di atas.
    Tapi ya, Allahlah yang akan membalas dengan seadil-adilnya. Tugas kita sekarang adalah menjadi rahmatan lil 'alamin dimulai dari diri sendiri, dan secara menyeluruh tanpa meremehkan hal-hal yang sepertinya sepele dan pantang surut untuk hal-hal yang besar.

    Like

  6. Rasanya tidak ada orang yang begitu bodoh mau mengorbankan nyawanya untuk sesuatu yang tidak penting an, kecuali dia sudah gila.

    Sesalah apa pun mereka dari sudut pandang kita, tapi kalau dia melakukannya ikhlas karena Allah Ta'ala, maka cukuplah Allah menjadi saksi atas apa yang mereka lakukan.

    Tidak semua yang kita lihat itu benar apa adanya..

    Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s