Hormon Tiroid Saat Kehamilan

Saat seseorang hamil, tubuh akan mengalami berbagai macam perubahan homeostasis. Salah satu diantaranya adalah tentang hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid merupakan sebuah organ endokrin yang terdapat di batang leher manusia, spesifiknya di anterior kartilago krikoid di bawah laring. Kelenjar ini memiliki dua lobus lateral yang dihubungkan oleh sebuah ismus. Ada tiga jenis hormon yang dihasilkan oleh kelenjar ini, yakni T3 (triiodotironin), T4 (tiroksin) dan kalsitonin.

Secara fungsional, kelenjar tiroid disusun oleh folikel-folikel yang dibungkus oleh sel folikular epitelial. Pada saat aktif memproduksi hormon, sel folikular epitelial ini berbentuk kolumnar, dan ketika tidak aktif ia berbentuk kuboid. Setiap folikel tersebut berisi cairan koloid yang terdiri dari protein tiroglobulin dan cadangan hormon tiroid yang akan disekresikan. Melalui sel-sel folikel inilah hormon T3 dan T4 diproduksi. Berbeda dengan Kalsitonin, ia dihasilkan oleh sel parafolikular (sel C), yang bisa berupa kelompok-kelompok sel ataupun hanya satu sel yang menempel pada basal membran dari sel-sel folikel. Sel ini mempunyai ukuran lebih besar dan warna lebih pucat dari sel folikel.
Anatomi Kelenjar Tiroid
Histologi kelenjar tiroid
Berikut ini saya sedikit bercerita tentang fisiologi pembentukan hormon tiroid, T3 dan T4.
  1. Pada suatu kondisi, hipotalamus mensekresikan TRH (Thyroid Releasing Hormon). TRH akan berikatan dengan reseptornya di hipofisis anterior dan memicu hipofisis anterior untuk menserkresikan TSH (Thyroid Stimulating hormon).
  2. TSH yang disekresikan oleh hipofisis anterior akan berikatan dengan reseptornya di sel folikel, hal ini menyebabkan sel folikel menyekresikan tiroglobulin ke dalam lumen (rongga berkoloid). Tiroglobulin ini mengandung tirosin, bahan baku pembentukan T3 dan T4.
  3. Iodida dari makanan yang kita konsumsi (dari makanan beryodium) akan diserap oleh GI tract ke sirkulasi. Ketika sampai di sel folikel tiroid, ia akan masuk ke dalamnya (fagositosis) dan dioksidasi menjadi Iodium lalu disekresikan ke lumen koloid dengan bantuan Sodium Iodide Symporter.
  4. Tirosin dan Iodium yang bertemu di lumen koloid akan bereaksi membentuk Monoiodotirosin dan Diiodotirosin. Satu molekul Monoiodotirosin dan satu molekul diiodotirosin akan membentuk Triiodotironin (T3), sedangkan dua molekul diiodotirosin akan membentuk Tetraiodotironin/ Tiroksin (T4). Fase ini disebut fase Coupling. Kadar T4 yang dihasilkan biasanya jauh lebih tinggi dibandingkan T3, dan T4 bisa dikonversi menjadi T3.
  5. T3 dan T4 untuk sementara akan tetap disimpan di dalam tiroglobulin, bahkan bisa berminggu-minggu lamanya. Saat ada stimulasi dari TSH lagi, enzim proteolitik akan teraktivasi dan bekerja memisahkan molekul T3 dan T4 dari tiroglobulin, kemudian kedua hormon ini akan berdifusi ke sel folikel, tembus ke sirkulasi.
  6. Di sirkulasi, sebagian besar hormon tiroid terutama T4 akan berikatan dengan protein pengikat tiroksin (Tiroksin Binding Globulin/ TBG) yang dihasilkan oleh Hepar. T3 yang jumlahnya sedikit tidak terikat oleh protein ini, sehingga ia beredar di sirkulasi dalam bentuk Free-T3 yang bersifat aktif. Namun ada juga T4 yang tidak berikatan dengan TBG, yakni yang beredar di sirkulasi dalam bentuk Free-T4 yang bersifat aktif. Free-T3 dan Free-T4 adalah hormon yang bisa berikatan dengan reseptornya di sel target, sementara T4 yang terikat TBG harus lepas terlebih dahulu dari ikatannya sebelum berikatan dengan reseptornya di sel target.
  7. Mekanisme negative feedback akan diperankan oleh hormon tiroid untuk menekan produksi TRH dan TSh di pusat kendali sentral untuk tetap mengontrol kadarnya dalam batas normal.
Efek hormon tiroid (T3 dan T4) adalah meningkatkan metabolism rate sel di seluruh tubuh dengan cara meningkatkan konsumsi oksigen dan peningkatan katabolisme sel. Selain itu hormon ini juga berfungsi untuk stimulasi pertumbuhan terutama saat usia kanak-kanak, serta maturasi berbagai organ penyokong tubuh seperti tulang, gigi, jaringan ikat dan saraf. Fungsinya pada ibu hamil jauh lebih penting lagi, yakni untuk perkembangan sistem saraf janin baik pusat maupun perifer. Mengingat fungsinya yang begitu besar, dan karena sintesis hormon tiroid sangat dependen dengan keberadaan yodium, maka dari itu kita harus mengkonsumsi cukup yodium setiap hari, yakni sekitar 150-200 mikrogram/hari.

Hormon tiroid saat hamil

Ada beberapa hal yang penting mengenai perubahan keseimbangan hormon tiroid ini saat kehamilan. Diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Saat hamil, kadar esterogen meningkat, hal ini akan memicu hepar untuk memproduksi TBG lebih banyak. Akibatnya banyak hormon T4 yang diikat olehnya, sehingga terjadi penurunan kadar Free-T4. Hal ini akan memicu peningkatan sekresi TRH dan TSH, sehingga kadar total T3 dan T4 akan lebih ditingkatkan..
  • Saat hamil akhir trimester I, plasenta akan mulai memproduksi hormon HCG (Human Corionic Gonadotropin) yang molekulnya mirip dengan TSH. HCG ini akan berikatan dengan reseptor hormon TSH di sel folikel kelenjar tiroid dan memicu pelepasan hormon tiroid, sehingga pada akhir trimester I ini ibu hamil akan mengalami hipertiroidisme trancient (sementara).
  • Kebutuhan Iodium sebagai bahan baku pembentukan hormon tiroid akan lebih meningkat dari biasanya, yakni > 200 mikrogram/hari. Hal ini disebabkan karena peningkatan klirens di ginjal dan masuknya yodium ibu ke janin melalui plasenta. Oleh karenanya seorang ibu hamil dianjurkan meningkatkan konsumsi yodium.
Kelainan tiroid saat hamil

Jika seorang ibu hamil mengalami defisiensi hormon tiroid (hipotiroid), kondisi ini akan sangat berdampak buruk pada perkembangan janinnya.
  1. Hipotiroid klinis, menunjukkan kadar TSH meningkat dan FT4 sangat menurun. Gejala hipotiroid terlihat nyata. Resiko tinggi kematian janin sangat tinggi.
  2. Hipotiroid sub-klinis, menunjukkan kadar TSH meningkat, tetapi kadar FT4 masih normal dan biasanya belum timbul gejala. Hal ini juga mesti diwaspadai, karena masih terdapat resiko pada perkembangan sistem saraf janin. Pada hipotiroid karena penyakit Tiroiditis Hasimoto, sel autoimun ibu juga bisa masuk ke sirkulasi janin dan mendestruksi kelenjar tiroid janin.
Jika seorang ibu hamil mengalami kelebihan hormon tiroid (hipertiroid), terjadi peningkatan resiko preeklampsia, lahir prematur, kematian fetus/perinatal dan BBLR.

Wallahu’alam ^^

referensi: catatan kuliah blok 2.5

6 thoughts on “Hormon Tiroid Saat Kehamilan

    • saya rasa kalau tsh-nya msh normal blm trlalu masalah, ft4 normalnya saat hamil memang sdkt menurun, shg butuh nutrisi lbh byk. walalhu’alam.
      sy sarankan konsultasi dg dokter yg sudah berpengalaman.🙂

      Like

  1. Maaf tapi setahu saya ft4 justru lebih penting daripada TSH, itu berdasar pengalaman istri saya konsultasi dgn dokter spesialis penyakit dalam. jadi utk kehamilan yg perlu dinormalkan ft4 nya, TSH ga berpengaruh pada janin.

    Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s