Afternoon Story

Sebuah cerita kehidupan bergulir hari itu. Mungkin akan ku bagi sedikit kisah terbaik dari rentetan cerita tersebut. Dimana hari itu usia matahari hanya tinggal sepertiganya, tak pernah berhenti terus menuju barat dengan perlahan. Aku baru saja menginjakkan kaki di tanah tempat aku mencari ilmu, saat yang melelahkan setelah menyusuri perjalanan 120 km dengan sebuah bus mini dari kampung halamanku. 

Tak ingin ku detailkan, namun ingin ku bagi sepenggal makna yang sungguh luar biasa kala itu. Sembari sang surya perlahan meredup hingga langit pun perlahan pucat, kehilangan rona-rona kebiruannya, aku menunggu seseorang yang kala itu sepertinya maha penting, demi melanjutkan pendidikan ini. Ku berusaha husnudzhan pada Allah dikala ini semua bermula, sholat lalu bertemu. Tapi ia tak kutemui. Ia telah pergi meninggalkan tempat itu. Hatiku kecewa, padahal aku berani datang jauh-jauh hanya untuk bertemu dengannya. Tapi terdengar kabar bahwa ia akan kembali. Secercah harapan masih tersisa, sehingga aku sabarkan diri untuk menunggunya.

Tapi ketika 120 menit berlalu, langit ku lihat mulai tampak pucat sekali. Ruangan itu akan segera tutup. Bukan, gedungnya juga akan ditutup. Sia-siakah ini semua? Kesedihan mulai berbisik, menyuruhku mengingat-ingat kala dimana perjalanan panjang hari itu yang sedikit terhambat. Aku telat 1 jam dari seharusnya. Aku mulai menyalahkan supir yang mengendarai bis yang aku tumpangi, eh..bukan. Aku menyalahkan pasar tumpah yang membuat macet perjalananku tadi. Tapi bukan juga, aku akhirnya menyalahkan diriku sendiri yang tidak pandai merencanakan sesuatu dengan baik, karena berangkat terlalu siang. Kembali pikiran ini berkecamuk, tak tersadar bahwa ia sendirilah yang akan melukai dirinya sendiri.

Akhirnya azan berkumandang, aku pun telah putus asa. Turun dari tangga, berjalan perlahan menatap tanah menendang bebatuan yang tergeletak di jalan setapak ini, sambil merengut penuh kekecewaan. Tapi aku tetap berusaha menenangkan diri, meski bisikan “Allah tidak adil, Allah jahat” terngiang-ngiang di telinga. MasyaAllah, astaghfirullah. Syetan ini pandai sekali mengambil situasi dan menyusun strategi.

Aku hampir benar-benar larut dalam kesedihan. Ya..hampir saja. Untunglah kala itu aku teringat beberapa terjemahan ayat dari al-Qur’an. Aku lupa suratnya, tapi aku ingat artinya. Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…. Allah mencintai orang-orang yang sabar. … Mintalah pertolongan Allah dengan sabar dan sholat. Aku tergugah, kemudian terdiam beberapa saat. Mulai melangkah dan langkah ini kemudian entah kenapa mulai cepat, menuju seruan-Nya. Aku bisa dan aku yakin Allah pasti akan mengabulkan do’a-do’aku seperti yang selalu Ia tunjukkan kepadakua. Ya, aku yakin.

Ternyata benar. Tekad yang kuat, kepercayaan kita yang kokoh, kesabaran yang menjadi penolong, memang betul adanya. Aku dipertemukan dengannya, meski mega merah sudah muncul. Akupun tersenyum. Allah sekali lagi, Engkau begitu Maha Baik. Ini ujian kan? Kau beri aku ujian untuk mempertebal keimanan. Aku tahu karena banyak hikmah yang aku dapati keesokan harinya. Engkau masih saja sayang padaku, padahal aku sering menghianati-Mu. Dosa-dosaku teramat banyak tapi kasih sayang-Mu ternyata seluas langit dan bumi.. Ya Allah, sungguh beruntung aku bisa mengenal-Mu.

2 thoughts on “Afternoon Story

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s