Bougenville 12, Part 4 – Sabar di Atas Jalan

“An, jago lai.” Ibu membuka pintu kamarku yang agak berisik ketika digerakkan. Bukan “agak” sepertinya, tapi “masyaAllah”. Hehe.. Dengan malasnya aku menyahut, mengangguk tak jelas, dan membuka mata yang “wuueh” beratnya “minta ampun”. Ibuku ternyata baru bangun juga, rambut beliau terlihat kusut, bibirnya manyun namun tetap terlihat cantik dan ramah. Senyuman manis tertoreh di sudutnya.

Tak kuasa mata ini membuka, aku kembali terlena. Ibu kembali datang, kali ini suaranya agak keras dari yang tadi. “Uuhhh…” keluarlah lagak malas dari pita suaraku. “Haah…” kembali menguap. Masih saja mengantuk. Kembali ku buka mata, terlihat sekarang pemandangan yang berbeda. Ibuku sudah terlihat lebih rapi dan lebih segar seperti habis mandi. “Ha? Alun juo jago lai bujang!” zzz –“

Maafkan aku ma, selimut ini begitu menggoda. Ku lihat jam yang tertera di layar handphone, 04.45. Wah, sudah hampir subuh. Selanjutnya jreng jreng jreeeng…. *lanjut aja lah ya, ini momen agak tidak penting. ^^” Maaf maaf..

Ayah terlihat sedang berbaring pulas di atas sajadah sambil mengenakan kain sarung dan peci kebanggaannya. Sepertinya sehabis subuh tidurnya berlanjut. Beliau akan mengantarkan aku bersama ibu untuk berangkat ke Padang hari ini. Tak lupa semua surat-surat dan keperluan berobat selama di Padang dan bekal untuk rencana menginap satu malam telah dipersiapkan. Sebuah sedan mini sederhana siap mengantar kami menuju perhentian bis jurusan Padang.

“Maaf ma, an telat bangun, jadinya telat berangkat.” Sebuah redaksi bahasa Minang yang di Indonesiakan. Ibuku senyam senyum, sedikit berceramah. Biasalah, pengganti ceramah subuh yang lama tak terlihat di tipi. “baca: curhat Mamah dan Aa di Indosiar (hhaha..sumpe mama gue mirip banget gayanya sama mamah tu..ckck) ups..sorry ma. ^^v

Keterlambatan kami membuat aku kembali menggerutu. Ditambah lagi bis yang biasanya lewat pukul 5.30 seharusnya lewat, tapi ternyata tidak. Hah..kebayang rencana tiba di Padang pukul 8 pagi harus kandas di telan bumi. Tak terbayang nanti jika harus mengantri panjang di rumah sakit jika sampai lewat jam 10 pagi. Menunggu lagi dan lagi tak juga datang. Aku pun kembali menggerutu, muak-muak, ngomel dan “bacaco” *plis sifat yang ini jangan dicontoh! .><.b (baca:kegiatan tersebut diatas terjadi di dalam hati meski sesekali terlontar dari ekspresi dan bahasa ^^) *Jadi maksoed loee? ckck..

Akirnya bis jurusan Padang yang ku tunggu-tunggu telah datang😛 Mobilnya lumayan, bodi oke, sepertinya sip. 5.50 AM. Buum buum… akhirnya berangkat. Bismillah. Aku dan ibu akhirnya naik bis berdua, ada perasaan senang, eh bukan, tapi bahaaaaagiaaaaaaaaaaaaa sangat. Sudah lama aku merindukan saat-saat pergi berdua saja dengan ibu. Seingatku terakhir kali aku pergi berdua dengan beliau adalah saat usiaku 5 tahun. Jadi teringat saat usiaku ketika baru 3 tahun, aku mengalami kecelakaan berdua dengan ibu dimana bis yang kami tumpangi menabrak sebuah truk pengangkut barang. Sampai sekarang bekas luka kecelakaan itu masih membekas di tangan ibu dan sedikit di wajahku. Tapi sekarang, aku berdo’a pada Allah semoga hal itu tidak kembali terulang.

Di tengah perjalanan menuju kota Bingkuang, ternyata tidak cukup dengan keterlambatan keberangkatan kami berdua, keterlambatan kedatangan bisnya, tapi juga keLAMBATAN pedal gas si bis ini. Jalannya “agak” ngesot! aaaargghhh.. Padahal aku berharap bisa 100 km/jam an lah. *Astaghfirullah, dari tadi menggerutu saja. Husnudzan. Aku tahu sopirnya butuh banyak penumpang untuk mencari nafkah. Aku tak boleh egois mementingkan diri sendiri. Meski harus berulangkali berhenti di tengah jalan, tetap sabar.. sabar.. Dan keluarlah ceramah Mamah di sudut jendela. Curhat dong mah! T,T

Ibuku menuntunku untuk berpikir jernih. Banyak hal yang kami perbincangkan di atas angkutan umum ini. Semua ini pasti ada hikmahnya dan Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Ini bukan salah siapa-siapa. Allah pasti punya rencana. Petuah demi nasihat keluar dari bibir seorang malaikat terbaikku yang datang dari surga ini. Aku luluh dan mengiyakan, berusaha senyum dan sabar lalu kembali tertawa.

Singkat cerita, turun di Basko, naik bis kota, turun di FK. Waktu Dhuha. Ibuku kepanasan karena tak terbiasa dengan Padang yang panas.

to be continued.

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s