Poin-Poin Idul Fitri 1432 Hijriyah

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Allahuakbar walillahilhamd pun bergema seantero bumi hingga angkasa raya. Subhanallah, masyaAllah. Tak sanggup lagi berfikir kata-kata seperti apa yang harus dilanturkan demi mengucap rasa syukur yang teramat sangat ini di dalam hati. Alhamdulillah, Ramadhan 1432 Hijriyah, telah dilalui. Subhanallah, begitu banyak hikmah menghiasinya. Astaghfirullah, afwan jiddan belum bisa saya share semua ceritanya di blog ini, insyaAllah nanti akan saya usahakan untuk menulisnya disini. Insya Allah.
Di tulisan yang sederhana ini saya ingin sedikit berbagi mengenai Idul Fitri 1432 Hijriyah kali ini. Meski pemerintah Indonesia menetapkan hari raya jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011, dan meski banyak di antara masyarakat menjadi kebingungan dan berujung dengan perbedaan, tapi alhamdulillah semua itu dapat dilalui dengan lapang dada dan aman. Alhamdulillah. Yang ingin saya ceritakan adalah sedikit inspirasi tentang kejadian yang saya alami pada 1 Syawal versi keluarga saya, Selasa 30 Agustus 2011. Ingin menitik beratkan di poin detik-detik shalat ied dan berkumpul dengan sanak keluarga ayah saya di Palembayan, (tepatnya di jorong Lubuak Gadang), sebuah negeri nun permai, indah nan memukau, hijau dan sejuk di pelosok kabupaten Agam Sumatera Barat.
Pertama, poin yang ingin saya bagi adalah arti sebuah kata: SEMANGAT. Ini adalah kesimpulan akhir pertama saya ketika melihat antusiasme masyarakat Palembayan mendengarkan pidato kapalo jorong (baca: kepala desa) akan keseriusan pemerintah jorong dalam membangun jorong Lubuak Gadang. Pidato itu disampaikan di sela-sela waktu menjelang pelaksanaan shalat Ied di Masjid Raya Lubuak Gadang. Subhanallah, hati saya bergetar, roma rambut di kulit-kulit tubuh saya entah berapa kali gemetar mendengarkan semangatnya sang kapalo jorong menyampaikan pandangannya terhadap pembangunan desa terpencil ini belakangan tahun terakhir dan misinya ke depan. Tampak rona-rona semangat pembaruan, dimana pemerintah desa begitu konsen dengan pendidikan agama untuk anak-anak desa hingga ranah perguruan tinggi. Pembangunan masjid dan sarana-prasarana termasuk jalan beraspal dan bantuan listrik bertenaga surya untuk rumah-rumah di atas perbukitan yang tak terjangkau aliran listrik PLN pun memang memperlihatkan hasil yang cukup mencengangkan. (Jujur, saya melihat banyak sekali perubahan setahun belakangan disana). Meskipun pidato itu bahkan disampaikan hampir satu jam, masyarakat tetap antusias mendengarkan. Acara pun dilanjutkan dengan pidato dari kaum perantau (dalam hal ini disampaikan oleh paman saya). Semua pihak mendukung dan siap memberi bantuan. Poin yang sangat menggetarkan adalah ketika kapalo jorong mengatakan, “Pembangunan kampung ini harus tetap berjalan! Meskipun dana bantuan pemerintah sangat sulit dan sedikit, kami bersama masyarakat akan berupaya mencari dana swadaya dari masyarakat dan perantau untuk melanjutkan pembangunan ini. Selama masih ada masyarakat Lubuak Gadang yang suka bergotong royong, insyaAllah kita pasti bisa!” Dan yang paling menggetarkan adalah, ucapan bak panglima perang, “Demi kemajuan kampung kita, KAMI SIAP!!” Subhanallah… Inilah pemimpin yang langka dan selama ini yang belum pernah saya temui. Andai pemimpin kita diatas sana punya semangat seperti ini.
Masjid Raya Lubuak Gadang, Palembayan
Poin kedua yang saya ambil adalah, UKHUWAH. Dari awal kedatangan saya hingga sepulangnya saya dari kampung, poin ini tetap menjadi perhatian saya. Keluarga ayah saya adalah keluarga yang cukup besar, memiliki ikatan kesukuan yang berbudaya dan cukup rumit jika dijelaskan. Namun belakangan karena hal-hal yang tidak jua saya mengerti dengan pasti, ukhuwah ini agak sedikit memudar. Saya tahu bahwa setiap poin yang saya ambil tidaklah harus selalu dari sisi positif, namun hal-hal berbau negatif pun dapat dijadikan bahan pembelajaran untuk menarik alur positifnya. Namun itu hanya pada segelintir kerabat saja, perselisihan antar kerabat memang bisa saja terjadi, namun poin bijak yang bisa saya ambil dari semua itu adalah sisi tenggang rasanya. Dimana mereka mampu menjaga amarah dan tidak memperlihatkan adanya perselisihan meskipun memang adanya. Namun yang paling saya senang dari kunjungan ini adalah ketika berkunjung ke rumah sanak keluarga, dan di setiap kunjungan itu diawali dengan cerita-cerita pengalaman, ajang menasehati antar mamak dan kemenakan, dan bagi-bagi THR dari para perantau. hehe.. Ukhuwahnya kerasa banget. Trus dilanjutkan  dengan makan berasama di atas tikar, dan yang paling khas di Palembayan ini adalah, sambalnya yang selalu sama di setiap rumah, haha.. yakni Samba Randang (Rendang daging sapi), Gulai Bukek (semacam kuah sate dengan campuran daging sapi), dan Sup Jawi (Sup dari tulang dan daging sapi). Ketiga sambal ini dimakan bersama nasi dan kadang ditambah dengan sayur. Di antara sekian banyak rumah yang menyuguhkannya, yang paling saya suka adalah buatannya tante dan nenek saya. Hehe. Alhamdulillah.. (Kalau pulang kampung ke Palembayan mesti siapkan perut kosong ya. karena singgah di setiap rumah wajib makan dulu. wkwk)
Poin selanjutnya adalah mengenai KESUNGGUHAN. Yang satu ini benar-benar subhanallah.. Subhanallaaaaaahhhhh!!!!!!! >< Saya tercengang-cengang dengan yang satu ini. Sungguh tercengang. Entah berapa kali air mata saya menetes dari pelupuk mata tapi selalu saya hapus karena malu. Tahukah sahabat, yang menyampaikan khutbah Hari Raya Idul Fitri kala itu adalah seorang anak desa yang menuntut ilmu di pesantren di perantauannya. Ia pulang kampung saat berlebaran. Umurnya saya rasa masih sangat muda, kira-kira masih usia SMP-SMA. Dan yang paling membuat saya terharu adalah isi khutbah yang beliau sampaikan. Ringkasannya insyaAllah masih saya ingat.

Ada 4 golongan yang bergembira di hari lebaran: Yang pertama adalah anak-anak, dimana mereka pada hari ini mendapatkan apa yang selama ini mereka idamkan. Baju baru, makanan enak, THR banyak, dan lain-lain. Karena itu mereka bergembira. Lalu apakah kita hari ini bergembira karena hal yang sama? Wallahu’alam. Astaghfirullahaladzim. Yang kedua adalah orang mukmin. Orang mukmin bergembira karena mereka mendapatkan ampunan dari Allah, dan kembali kepada fitrah seperti bayi baru lahir atas usaha mereka di bulan Ramadhan. Akan tetapi orang mukmin juga ada yang bersedih, karena saking takutnya mereka apabila ibadah mereka di bulan Ramadhan belum maksimal sehingga mereka ragu apakah semua ibadah mereka itu diterima oleh Allah atau tidak, dan apakah mereka sudah kembali suci atau belum. Subhanallah..Astaghfirullah. Yang ketiga adalah orang yang munafik. Mereka bergembira karena mereka telah bebas berbuat maksiat karena selama Ramadhan mereka terpaksa berpuasa sebulan penuh. Naudzubillah, masyaAllah. Dan yang keempat adalah Syaithan. Mereka di hari raya idul fitri juga bergembira, karena mereka telah dilepas dari belenggunya dan bebas kembali menghasut dan menyesatkan manusia. Berhati-hatilah.

Poin terakhir adalah, IMAN. Mari kita coba hisab-hisab kembali iman kita dari waktu ke waktu. Ramadhan telah pergi, Syawal sudah datang. Kita harus sudah siap menghadapi hidup ketika Ramadhan ini benar-benar pergi seperti saat ini. Kita pun tidak tahu apakah kita akan bertemu kembali dengannya di tahun depan. Mari kita bertekad, untuk memerangi hawa nafsu kita lebih hebat lagi di 11 bulan mendatang. Kali ini peperangan yang sebenarnya kalau saya boleh bilang, karena musuh kita sudah dua, yakni nafsu dan syetan. Kalau kita tidak bisa menjaga diri selama 11 tahun mendatang, berarti Ramadhan kita belum baik. Hal semacam ini saya coba renungi setelah melihat masih adanya saudara-saudara dan karib kerabat yang belum jua mau menunaikan shalat lima waktu. Saya pribadi risih ketika melihat ada saudara seiman tapi tidak menunaikan kewajiban. Tapi saya pun tidak mungkin pula memberi nasihat, saya hanya bilang ke ayah untuk mengingatkan sanak keluarganya yang belum menunaikan shalat. Itu yang bisa saya lakukan. Astaghfirullah.
Mari kita berdo’a dengan sebenar-benarnya do’a, sama dengan do’a Rasulullah Saw hingga menetes air mata beliau: “Rabbana la tuzi` qulubana ba`da izhadaitana, wa hablana min ladunka rahmah. Innaka antal wahhab.” Ya Allah, janganlah Engkau gelincirkan hati kami setelah Engkau beri hidayah kepada kami, dan berikanlah kepada kami daripada sisiMu rahmat kasih sayang yang banyak. Sesungguhnya Engkaulah Tuhan yang boleh memberi segala-galanya.” (Hadith Riwayat An-Nasa`i)

Ramadhan 1432 Hijriyah. Subhanallah. Selamat meraih kemenangan, insyaAllah. Di hari nan fitri, 1 Syawal 1432 Hijriyah. Minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir batin.

2 thoughts on “Poin-Poin Idul Fitri 1432 Hijriyah

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s