Bougenville 12, Part 5 – Rangkulan Sang Ibu

Kamis, waktu Dhuha, aku dan ibu akhirnya menginjakkan kaki di tanah Bingkuang. Cuaca kala itu begitu cerah dengan teriknya pancaran sinar matahari. Ku lihat keringat ibu mulai muncul di sela-sela keningnya yang lunak, memperlihatkan panasnya cuaca yang tak pernah ditemui di kampung halaman.

Perutku mulai keroncongan. Teringat sedari subuh tadi belum ada satupun makanan yang terhidang untuk sang gaster. Ditambah lagi aku kebelet pipis, huahh.. menderitanya. Berbeda dengan ibu, ibuku memang biasa tidak sarapan pagi, beliau mual kalau sarapan katanya. Cepat-cepat ku naiki bis kota jurusan Khatib yang berjejer di depan Basko Grand Mall itu. Berdua dengan ibu. Ini yang menjadi hal yang beda, karena biasanya aku hanya naik sendirian. Dalam hati aku merasa kasihan harus mengajak ibu naik ke bis yang kondisinya begini. Sesak penumpang, ribut dan pekak karena suara musik yang diputar dengan keras. Aku melihat-lihat ke dalam bis dan mencarikan beliau tempat duduk kosong untuk berdua, dan setelah itu baru ku silahkan beliau duduk di kursi dekat jendela, lalu aku disampingnya. “Sudah lama ibu tidak naik bis seperti ini.” Ibu melontarkan kalimatnya. Beliau bercerita ketika ia masih kuliah di IKIP dahulu (sekarang: Universitas Negeri Padang), beliau juga sering naik bis kota ini kalau mau ke pasar membeli keperluan. Mendengarnya aku sedikit lega, aku hanya takut ibuku merasa tidak nyaman berada di atas bis semacam ini.

Sepertinya aku tambah kebelet pipis. Huahh..masyaAllah. –” Tapi kami berdua harus turun bis lalu naik ke bis jurusan berikutnya, jurusan Pasa Baru Limau Manih. Alhamdulillah, bisnya ada disaat bis jurusan sebelumnya berhenti di pemberhentian bis jurusan selanjutnya. Ketika naik, karena gak tahan kebelet pipis, aku mengajak ibuku singgah sebentar di kampus hanya untuk menumpang buang air kecil. ckck.. Dan akhirnya kami sampai di kampus FK Unand. Dengan ligat aku mengajak ibu ke toilet samping Aula, ternyata ibuku juga kebelet. haha.. Aku kemudian menunjukkan toilet wanita untuk ibu, sedangkan aku kemudian terbirit menuju toilet pria.

Saat ku coba membuka pintu toiletnya, ternyata hal yang menakutkan terjadi. Huaaa.. Pintunya terkunci! –” Demikian juga dengan pintu toilet wanita. zzz.. Akhirnya aku mengajak ibu mencari toilet terdekat lainnya. Walhasil, secara tidak langsung ibuku pun ikut jalan-jalan mengitari kampus ini. Beberapa dosen sempat kutemui di perjalanan, jadi malu deh. ckck.. Alhamdulillah sebuah gedung besar di depan lapangan abcd tampak terbuka, gedung itu adalah gedung tempat mahasiswa FK rutin mengadakan tutorial dan skilab setiap waktu kuliah, anak-anak FK biasa menyebutnya gedung abcd. Dinamai gedung abcd karena di gedung ini memang ada empat teritori ruangan tutorial, yakni a, b, c dan d. *mulai gak penting.ckck.. Singkat cerita alhamdulillah, toiletnya buka dan.. hehe.Waktu telah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Sebelum kami berangkat ke rumah sakit yang jaraknya berdekatan dengan kampus, aku mengajak ibuku untuk sarapan di warung yang terletak di samping gerbang kampus. Aku memesan sepiring minas(nasi goreng pake mie + telur), tapi kala itu telurnya lagi habis, jadi diganti sama daging ayam yang dipotong kecil-kecil dengan harga yang sama. Ibuku memesan lontong mie, lalu dua gelas air putih untuk kami berdua. Alhamdulillah, alhamdulillah, perasaan senang terbesit di dalam hatiku. Aku dari dulu memang ingin sekali mengajak ibu makan berdua di luar, dan baru kali ini kesampaian. Obrolan ringan menghiasi pagi kami kala itu, hingga santapan kami perlahan dilahap dan hinggap di gaster yang dari tadi sudah capek keroncongan (baca: semacam konser musik ala sunda) pake gas HCl. Hehe..

Sebelum berangkat, aku memastikan lagi barang yang ku bawa. Sebuah map kuning berisi surat rujukan dari RS Adnan WD Payakumbuh dan beberapa dokumen penting lainnya yang aku simpan di dalam tas. Selain itu tak lupa aku kembali memeriksa kartu ASKES milikku, karena kalau sampai ketinggalan, perjalanan kami ke Padang hanya akan sia-sia. Namun alhamdulillah, keduanya tidak tertinggal sehingga aku sedikit lega.

Setelah perut terisi dan makanan sudah dibayar, bismillahirrahmanirrahim, aku dan ibu berangkat ke RS. Cukup beberapa langkah kaki, kami singgah sebentar di fotokopian, untuk memfotokopi beberapa dokumen yang siapa tahu nanti diperlukan. Banyak yang bertanya-tanya, “Lha, kok masih disini an? Masih ngurus KRS? Belum pulang kampung juga ya?” Aku jawab seadanya. Ternyata beberapa teman sekampus aku masih ada yang belum kelar KRS-nya. Pertanyaan yang sama juga dilontarkan abang-abang di tempat fotokopian langgananku ini. Aku jawab saja seadanya.

Selang beberapa langkah kemudian, Allah mempertemukan aku dan ibu dengan kakek dan nenekku yang kelihatan baru balik marathon pagi keliling Jati. Sepertinya beliau habis joging ke sekitaran rumah sakit. Beliau berdua adalah kerabat jauh ibuku yang tempat tinggalnya berdekatan dengan kampus kedokteran. Sekarang aku tahu mengapa Allah merencanakan aku kebelet pipis, pintu toilet kekunci dan perut keroncongan, ternyata untuk bertemu dengan kakek dan nenek di tengah jalan. Kebetulan waktu itu aku juga belum sempat memberi tahu nenek bahwasanya aku akan dioperasi, sehingga aku punya kesempatan menceritakan kondisiku saat ini.

Awalnya kakek dan nenekku terheran-heran, melihat aku berdua saja dengan ibu berjalan kaki. Terlebih lagi nenekku yang satu ini, sifat cerewetnya kambuh lagi pagi itu. Hehe.. Sedangkan kakek hanya senyum dan menyapa kami dengan hangat. Aku pun menceritakan maksud kedatangan kami berdua ke Padang, sambil menunjukkan bagian fistel di telinga kananku yang akan dioperasi. Kemudian nenek berkata, “Ondeh nak, cuman sedikit ini saja, tidak usahlah dioperasi ya, masih banyak perempuan yang mau sama kamu.” (Sebuah kalimat minang yang diindonesiakan) Haha..nenek..nenek. Ada-ada saja yang terlontar dari mulut beliau. Kok perginya ke perempuan? zzz.. –” Setidaknya kakek nenekku tahu bahwasanya aku hendak berobat. Aku lalu memohon restu dan do’a beliau hingga kami berpisah.

Sambil merangkul tangan ibu, aku bersemangat pergi ke rumah sakit pagi itu. Meskipun matahari sudah tinggi, aku tidak peduli. Tekadku sudah bulat, ditambah lagi ibuku sekarang ada disini. Hingga sampailah kami berdua di gerbang Rumah Sakit Umum Pusat M.Djamil Padang. Bismillahirrahmanirrahim, kami melangkah masuk ke area Rumah Sakit, tempat semua kisah ini bermula. Sambil berjalan, aku dan ibu masih tetap saja bercerita kesana kemari, melepaskan segala unek-unek yang ada, antara ibu dan anak lelakinya. Tapi aku kasihan dengan ibu, keringatnya mengucur deras dari tadi. Jilbabnya terlihat sedikit basah karenanya. Tapi aku tak melihat rona keterpaksaan dari wajahnya. Ia tetap tersenyum dan menunjukkan wajahnya yang berseri. Ya Allah, aku bersyukur punya seorang ibu sepertinya.

Alhamdulillah, kami akhirnya sampai di Poliklinik RS M Djamil. Sepertinya ramai, lalu kami kemudian masuk, mencari-cari tempat registrasi, bertanya kesana kemari, hingga sampai di saat aku memberikan secarik kertas rujukan dan sebuah kartu ASKES ke tempat registrasi pasien peserta ASKES. Seperti biasa, kami berdua kembali harus menunggu giliran dari sekian ratus pasien yang juga hendak berobat. MasyaAllah, ruangan itu seperti dibanjiri lautan manusia, yang didominasi orang dewasa tua dan lansia. Tapi aku harus tetap semangat, aku harus sabar mengantri dan harus siap ketika dipanggil nanti. Berdua saja dengan ibu, malaikat terbaikku. Meski kami tidak diantar oleh ayah kesini, tapi ibuku tetap sigap dan mau mengantarku kemana saja aku pergi. Ketika aku berpaling dari meja registrasi, dari jauh ku pandangi ibuku yang duduk di tengah-tengah pasien lain yang ikut menunggu giliran. Aku melihat wajahnya yang begitu tenang, begitu ikhlas dan bercahaya. Tapi aku iba karena beliau terlihat sedikit kebingungan dengan kerumunan manusia-manusia ini. Di dalam hati aku berucap, “Ibu, aku tahu engkau begitu sayang dengan anak lelakimu ini. Terima kasih atas semua pengorbananmu padaku, anakmu yang belum berada ini.”

to be continued..

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s