Catatan Syawalku

Tiada terasa, bulan suci Ramadhan sudah dua minggu meninggalkan kita. Selama itu pulalah bulan Syawal sudah hampir purnama. Setiap malam setelah magrib aku sering memperhatikan sinar bulan Syawal yang semakin lama semakin benderang. Aku terkadang berfikir akan apa saja yang sudah aku lakukan selama dua minggu di bulan peningkatan ini. Ya, bulan Syawal adalah bulan peningkatan, demikianlah maknanya dan demikianlah jua seharusnya. Namun apakah yang telah aku lakukan selama bulan peningkatan ini telah benar-benar meningkat menjadi lebih baik, atau bahkan sebaliknya?
Hal yang sama juga aku rasakan ketika melihat bulan Ramadhan beberapa minggu yang lalu. Aku gundah ketika melihat sinarnya mulai terlihat benderang, dan semakin gundah ketika sinarnya meredup diujung sabitnya. Apakah aku sudah lebih baik, atau masih sama saja dengan dahulu, atau bahkan lebih buruk? Masya Allah. Selama Ramadhan kita berusaha semaksimal mungkin mempersembahkan yang terbaik untuk Rabb kita. Segiat mungkin usaha kita kerahkan untuk mengendalikan nafsu dunia kita. Sampai kita merasa bahwa kita kala itu benar-benar merasa dekat dengan Allah swt. Sesungguhnya satu hal yang membuatku gundah ketika melihat cahaya bulan di langit saat itu adalah, bagaimana jadinya jika ketika Ramadhan pergi, setan-setan sudah tidak lagi dibelenggu, masih mampukah aku istiqomah mempersembahkan yang terbaik untuk Allah swt, atau aku akan kembali kedalam lumpur dosa dan kegelapan rayuan setan?


Hari ini aku mendapati diriku meneteskan air mata. Aku masih jua belum sanggup mempersembahkan yang terbaik untuk-Nya. Sungguh dunia dan seisinya membuat penglihatan ini gelap dan tingkah ini tak berdaya. Hal itu membuatku sedih dan semua itu memuncak ketika aku mendengar firman Allah yang disampaikan ketika khutbah siang ini. Allah telah berjanji di dalam al-Qur’an, tolong, catat ini didalam hati.
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,
dan bulan apabila mengiringinya,
dan siang apabila menampakkannya,
dan malam apabila menutupinya
dan langit serta pembinaannya
dan bumi serta penghamparannya
dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 
sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 
 dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
(Q.S. Asy-Syams: 1-8)
Di dalam penggalan surat Asy-Syams ayat 1-8 di atas, Allah menegaskan kepada kita akan sumpah-Nya. Ia bersumpah demi segala ciptaan-Nya, bahwasanya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya, dan merugilah orang yang kembali mengotorinya. Seperti yang kita jalani saat ini, selama bulan Ramadhan kita berusaha mati-matian mencari yang namanya kesucian itu. Kita berharap penuh akan mendapatkan fitrah layaknya bayi yang baru dilahirkan. Kita bercita-cita memperoleh kemenangan, dengan piala ketakwaan. Itulah hakikatnya bulan Ramadhan. Bulan pengampunan dosa, bulan yang didalamnya terdapat malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Namun di saat kita mendapatkan kefitrahan yang kita cari pada bulan Syawal, kita kembali terlena dengan kehidupan. Kita kembali memperturutkan kemauan hawa nafsu kita tanpa perhitungan, dan kita kembali menurut dengan rayuan dan bujukan setan. Demikianlah, sungguh alangkah meruginya, aku seorang manusia. Inikah bulan peningkatan? Jika seperti ini yang meningkat sepertinya bukanlah hal-hal yang baik, namun peningkatan kemaksiatan. Naudzubillah ya Rabb.
Ini selayaknya menjadi renungan kita setiap waktu. Di bulan Ramadhan kita sibuk beribadah, sholat dhuha tidak pernah tinggal, tahajjud rutin kita laksanakan, tilawah apalagi, tak pernah tertinggal setiap harinya hingga kita pun mampu mengkhatamkannya dalam satu bulan. Lisan dan perbuatan senantiasa kita jaga, amarah dan kesombongan kita campakkan jauh-jauh. Sedekah dan infak rutin kita tunaikan, demikian pula segala bentuk kebaikan kita perbuat sebanyak mungkin. Tapi apakah semua itu hanyalah semacam ibadah dan ritual musiman saja? Sungguh surga itu jauh lebih indah dari dunia dan seisinya.
Aku kembali tertegun melihat bulan Syawal malam ini. Wujudnya hampir purnama, dan aku tak tahu apakah yang aku tulis mampu untuk aku lakukan. Tapi setidaknya tulisan ini bisa menjadi bahan renungan aku sendiri. Berdo’alah kepada Allah agar kita diberi hati yang lunak untuk diajak kearah kebaikan, dan kokoh untuk tetap berdiri ditengah kebaikan itu. Sungguh kita akan diuji dengan kebaikan dan keburukan, dan saat ini setan menjadi musuh utama kita. Lalu serukanlah dengan lantang, “aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”, agar kita dapat mengendalikan nafsu dengan akal yang Allah anugerahkan kepada setiap insan. Walallahu’alam.

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s