Cerita Tsunami Indonesia dan Jepang #My Story

Sumatera Barat merupakan suatu daerah yang rawan dengan bencana alam. Wilayah yang terletak di bagian barat Indonesia ini dilalui oleh patahan lempeng Eurasia dan Indo-Australia yang pada siklusnya senantiasa melakukan pergerakan. Hal ini melebarkan peluang akan sering terjadinya gempa kecil maupun besar di wilayah berpenduduk cukup padat ini. Akan tetapi belakangan ini menurut penelitian, kedua lempeng kerak dunia tersebut tidak lagi melakukan pergerakan, akibatnya ketika energi oleh tenaga endogen yang dihasilkan bumi yang berada di sekitar lempeng tersebut termuntahkan, malah akan menyebabkan tubrukan dahsyat antara keduanya sehingga menyebabkan gempa.

Gempa bumi yang terjadi di wilayah perairan laut maupun samudera seperti di daerah Sumatera Barat erat kaitannya dengan Tsunami. Tumbukan kedua lempeng kerak bumi tadi dapat membuat semacam gelombang ombak air laut yang dahsyat yang dapat menyapu hingga ke daratan. Gempa dan Tsunami Mentawai beberapa bulan yang lalu adalah salah satu contohnya. Meskipun demikian, Kota Padang sebagai ibukota Sumatera Barat diperkirakan memiliki kemungkinan yang kecil untuk dihantam oleh gelombang tersebut dalam skala besar, karena terhalang oleh kepulauan Mentawai yang terletak tepat di belakang lempeng Eurasia dan Indo-Australia.

Akan tetapi menurut hasil penelitian, Kota Padang adalah tempat yang paling tinggi risiko terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami di seantero jagat bumi, hal ini disebabkan karena penduduk Padang yang tinggal di daerah pantai sangatlah padat. Akan tetapi kondisi ini belum menjadi perhatian serius dari pemerintah maupun masyarakat, dimana masih minimnya kesiapan bencana baik itu dari segi bangunan, infrastruktur penyelamatan/ evakuasi dan mitigasi bencana. Ditambah lagi dengan kondisi masyarakat Kota Padang yang trauma dengan kata-kata ‘tsunami’ sehingga mereka menjadi antipati akan potensi bencana besar ini.

Pengetahuan di atas saya dapatkan dari penjelasan seorang relawan dari Komunitas Siaga Tsunami (Kogami) pada Talkshow Internasional yang diadakan di Gedung F Universitas Andalas pagi ini. Kogami adalah suatu organisasi anak bangsa yang bergerak di bidang kemanusiaan terutama yang melakukan kegiatan mitigasi dan penyuluhan terkait bencana gempa dan tsunami baik di tingkat nasional bahkan internasional. Pada kesempatan itu juga hadir beberapa orang teman-teman dari Waseda University Japan yang tergabung dalam komunitas mitigasi bencana dan tsunami bernama WASEND. Kehadiran mereka di Indonesia adalah untuk bebagi kisah dan pengalaman mereka mengenai upaya mitigasi bencana gempa dan tsunami di Jepang dan sejenisnya.
Talkshow pada sesi pertama berakhir setelah penjelasan dari relawan Kogami mengenai potensi gempa Padang dan kegiatan yang telah dan akan mereka lakukan. Kemudian pada sesi kedua dilanjutkan dengan presentasi oleh teman-teman dari Waseda University Japan. Pada awalnya mereka sedikit bergurau dengan mahasiswa Universitas Andalas dengan bahasa Jepang. Tentu saja hal ini membuat suasana kala itu cukup heboh namun santai karena bahasa yang jarang terdengar itu sekarang ada di depan mahasiswa Unand. Tak sedikit tawa yang terdengar baik dari mahasiswa Unand maupun Jepang. Hal ini tidak menjadi sulit karena komunikasi antara mahasiswa Unand dan Jepang difasilitasi oleh salah seorang penerjemah yang juga mahasiswa Indonesia (saya kurang tahu pasti dari universitas mana) yang pernah tinggal dan belajar di Jepang. (Saya pikir dia adalah teman-teman mereka se-universitas juga).
Banyak hal yang mereka presentasikan, diantaranya mengenai organisasi yang mereka tekuni di Universitas tempat mereka belajar. Organisasi tersebut bergerak di bidang mitigasi bencana gempa dan tsunami untuk anak-anak sekolah dasar dan setingkat SMP. Saya pikir konsepnya sungguh sederhana, akan tetapi mereka serius dan hasilnya memang terlihat. Misalkan saja mereka melakukan semacam permainan untuk anak SD, seperti berjalan di atas cangkang putih telur yang dipecahkan. Pasti akan terasa sakit saat berjalan di atasnya. Hal ini dihubungkan dengan kejadian yang mungkin terjadi saat gempa. Pecahan-pecahan kaca yang mungkin akan berserakan ketika gempa diibaratkan sebagai cangkang telur tersebut. Supaya kaki tidak lecet ketika gempa, maka kita harus menyiapkan sandal terlebih dahulu. Jadi persiapkan sandal di tempat-tempat yang biasa kamu kunjungi, misalnya di bawah tempat tidur, di ruang bermain dan lain-lain.
Saya cukup tersentuh ketika mereka juga bercerita tentang mengapa mereka memutuskan bergabung dengan organisasi mitigasi bencana seperti itu. Alasannya beragam, mulai dari rasa kepedulian terhadap sesama, kesenangan melihat tawa dan keceriaan anak-anak, ingin memberikan suatu yang berguna dari pelajaran yang mereka dapatkan di bangku sekolah, ingin mengabdikan diri karena anggota keluarga dan teman dekat mereka yang meninggal akibat gempa, dan lain sebagainya. Mereka kala itu juga memutar sebuah video yang menggambarkan kesedihan rakyat Jepang pasca gempa dan tsunami Maret lalu dan semangat mereka yang pantang mundur untuk bangkit dari keterpurukan.
Pada akhir sesi talkshow, alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk bertanya dan mengenal mereka lebih akrab. Di saat talkshow telah berakhir, acara ditutup dengan sesi foto bersama dan setelah itu acara bebas. Saya kemudian menghampiri salah seorang dari mereka. Kebetulan teman saya ini berasal dari Sendai, Miyagi, sebuah daerah di Jepang yang kemarin terkena bencana tsunami. Namanya Taro Yamamoto, usianya 21 tahun tapi wajahnya terlihat masih muda bahkan masih seperti anak SMA kelas X saja. Mulai dari hal-hal formal hingga hal-hal berbau personal pun kami bicarakan. (Senang banget lah..ckck, sampai ketika dia kaget aku perdengarkan lagu Rolling Star YUI yang menjadi lagu jepang favoritku, ckck..) Kami berbicara awalnya dengan bahasa Inggris, (meskipun englishku kacau meracau cau..ckck), hingga berbau japanes (dia bilang logat japanes aku bagus..haha *konnichiwa, watashi no namae wa sandurezu desu, sumimasen, arigato gozaimas, domo ne.. ^_^ #bbrp kosakata yg saya tau). Alhamdulillah, dapat foto bareng juga. ^o^j
Saya dan Taro-san
Banyak hal yang bisa kita contoh dari teman-teman dari Jepang ini. Sejak awal mereka terlihat begitu cekatan, on time, dan sungguh-sungguh. Kejadian hari ini kembali membangkitkan semangat saya untuk melanjutkan pendidikan di Jepang suatu hari nanti. (Huaaa…amiiinnn ><) Setidaknya sekarang saya sudah punya modal, kartu nama Taro-san. ^^ Domo arigato gozaimas!

2 thoughts on “Cerita Tsunami Indonesia dan Jepang #My Story

  1. alhamdulillah mi,🙂
    iya, dy sempat kaget, katanya lagu itu populer banget di Jepang bbrp waktu yg lalu, YUI katanya songwriter yg hebat dan karirnya sukses di Jepang..
    dia terperangah gitu, bayangin aj ekspresi org jepang klo terkejut.😀

    Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s