Gempa Padang, Sebuah Pelajaran

Bendera setengah tiang di

Basko Grand Mall Padang

Sebuah trauma yang sangat membekas memang sulit untuk dilupakan. Persis seperti apa yang saya pelajari di perkuliahan, dimana hipokampus begitu cepat menerima rangsangan memori jika hal tersebut melibatkan semua organ sensoris tubuh kita termasuk emosional kita terhadap impuls trauma ataupun stressor. Neuron-neuron ingatan baru distimulasi untuk diciptakan, sehingga memori itu bertahan begitu lama. Demikianlah pula dengan beberapa hari ini, ketika saya melihat puluhan bendera merah putih yang terpasang setengah tiang di depan rumah-rumah penduduk Padang. Hal ini mengingatkan saya akan kejadian yang mungkin saja selamanya tidak akan dapat saya lupakan, yakni Gempa 30 September 2009.

Saya masih ingat ketika bagaimana detik-detik peristiwa mengerikan itu terjadi. (Baca selengkapnya disini). Namun alhamdulillah ketakutan saya selama gempa sepertinya tidak menimbulkan gangguan jiwa yang disebut dengan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) atau gangguan stress pasca trauma. (_ _)” Meski demikian tetap saja saya tidak bisa lepas dari pengalaman trauma yang sangat membekas tersebut.

30 September 2011, tepat dua tahun setelah peristiwa itu terjadi. Pemerintah Kota Padang memang memerintahkan masyarakatnya untuk menaikkan bendera setengah tiang selama dua hari (29-30 September) untuk mengenang kembali peristiwa tersebut. Dua tahun yang lalu itu, sebenarnya banyak hikmah yang saya ambil. Diantaranya adalah rasa empati, karena saya tidak tega melihat pasien-pasien M Djamil waktu itu yang digiring ke lapangan kampus sambil meneteng-neteng infus. Ada yang bersimbah darah, berkursi roda dan di atas ranjang medis. Itu mungkin hanya sebagian saja, dan itupun saya belum melihat bagaimana kondisi di Rumah Sakitnya sendiri. Selayaknya ini bisa menjadi motivasi.

Selanjutnya adalah rasa syukur, bahwa saya bukanlah termasuk diantara mereka yang menjadi korban gempa bumi. Di sekeliling saya masih ada teman-teman yang merangkul, dan waktu itu pun saya masih diberi kesempatan untuk membantu orang lain. Salah seorang diantara mereka yang begitu baik bahkan mengajak saya untuk menginap di rumah pamannya yang cukup aman dari tsunami, dikala tidak ada kendaraan umum yang beroperasi untuk mengantarku pulang ke Payakumbuh. Mereka mau menemaniku berjalan kaki sejauh 3 km mencari mobil untukku pulang, meskipun saya baru mendapatkannya 2 hari setelah gempa.

Di tengah perjalanan kala itu saya kembali terhenyuk melihat kondisi Kota Padang. Saya masih ingat ketika saya naik angkot jurusan Tabing dari Pasar Raya, Padang terlihat seperti kota mati. Waktu itu sore hari menjelang magrib, listrik mati, awan mendung. Semua toko tutup, sampah berserakan, dan bangunan-bangunannya luluh lantah. Sebut saja bangunan-bangunan besar seperti Plaza Andalas, Pasar Raya Square, semuanya hancur dan terbakar. Terlihat wartawan dan kameraman mondar-mandir di tengah kota, meliput situasi pasca gempa. Tak berhenti rasanya bibir saya mengucap, hati saya menyebut.

kondisi pasca gempa

Saat dalam perjalanan pulang ke Payakumbuh, saya lebih terhenyuk lagi. Ketika saya melewati daerah batas kota Padang, sebut saja Lubuk Alung, Sicincin, Kayu Tanam dan seterusnya begitu sedih rasanya. Bagaimana tidak, di samping kiri dan kanan jalan, dengan jelas saya melihat ratusan rumah penduduk hancur luluh lantah rata dengan tanah. Ada yang duduk termenung di teras rumah, dalam situasi yang sangat menyedihkan. Anak-anak kecil dan orang tua mengemis di pinggir jalan, menangis dan memohon bantuan. Ya Allah.. Semua itu tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Sungguh Engkau begitu baik padaku Ya Allah, Engkau masih melindungi aku dan memudahkan jalanku waktu itu.

Ketika saya sampai di lembah anai, kendaraan macet alang kepayang. Ternyata di depan sana sebuah tebing curam amblas ke tengah jalan sehingga tidak bisa dilalui. Sopir bis saya waktu itu memutuskan untuk putar arah, melewati Kota Pariaman. Saat itu saya dan penumpang lainnya hanya bisa bersabar, meskipun keinginan untuk sampai di rumah sulit untuk diredam. Meskipun saya menambah onkos perjalanan, tiada jua mengapa, sebab saya waktu itu benar-benar pasrah dengan apa yang akan terjadi.

Ketika melewati Kota Pariaman, waktu itu saya sedikit takut dan cemas. Pusat gempa bumi terjadi di sini, dan memang sepertinya demikian. Hal yang membuat saya merinding selain rumah-rumah yang roboh adalah, tanahnya yang retak. Terlihat jelas di tepi pantai Pariaman yang bersih itu, retakan-retakan tanah begitu besar dan lebar, seperti baru saja bergeser dan terbelah. Demikian juga dengan aspal jalan dan jembatannya, masya Allah. Saat itu baru saya menyadari bahwa gempa itu memang benar-benar dahsyat hingga mampu membuat pondasi rumah bergeser beberapa meter dari asalnya.

Singkat cerita saya sampai sekitar pukul 6 sore di Kota Payakumbuh, setelah berangkat sejak pukul 10 pagi dari Padang. Setiap orang yang mengalami pasti punya cerita mereka sendiri terhadap peristiwa tersebut. Namun apapun itu, yang paling penting darinya adalah, bagaimana kita mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari bencana itu. Bagaimana kita belajar dan berpedoman terhadap pengalaman hidup yang pernah kita alami, sebagai batu loncatan untuk menghadapi hari esok yang kita belum ketahui. Semoga tidak ada lagi bencana seperti itu di bumi Andalas ini, cukuplah kami manusia berdosa agar sadar dan mau sepenuhnya menjalani perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya jua, sehingga Allah akan tetap memberi kita pertolongan dalam kondisi dan situasi apapun.

Mari bergerak! Untuk Perubahan! This pain will not be the pain forever, this must be the place when we stand and move to the better life in the future.

“Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?” 

(Q.S. Huud: 30)”

4 thoughts on “Gempa Padang, Sebuah Pelajaran

  1. setiap orang punya cerita sendiri tentang tragedi ini
    tapi yang penting adalah bagaimana kita menjalani hari ke depannya

    “People should not dwell on the past…” (Ikeuchi Aya, 1 litre of tears)

    Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s