Belajar Korupsi

Masalah korupsi sepertinya masih menjadi penyakit yang mendarah-daging di Indonesia, atau bahkan dewasa ini telah menjadi budaya. Di saat kita melihat berita di televisi mengenai kasus korupsi, saat itu kita tersentak dan malu akan negara ini. Mengapa korupsi masih saja tidak tertanggulangi? Dimanakah letak kesalahannya? Apakah pendidikan manusia-manusia Indonesia yang salah, atau malah secara genetik orang Indonesia memang bernafsu dengan korupsi. Wallahu’alam.

Kita semakin sedih ketika mendengar berita tentang pembubaran KPK oleh salah seorang anggota dewan yang terhormat. Tanpa berprasangka buruk, pernyataan tersebut dinilai sebagai ucapan kritis akan kinerja KPK. Namun secara akal rasional, sepertinya banyak diantara kita yang tidak bisa menerima pernyataan seperti itu, bagaimanapun kita berprasangka baik. Apakah anda setuju jika sebuah lembaga yang memikul beban mulia untuk menyelamatkan hak-hak rakyat Indonesia dari kebiadaban koruptor dibubarkan? Sungguh pernyataan yang kritis!

Semakin hari kita semakin sedih melihat pekerjaan kotor yang dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya menjunjung tinggi hak rakyatnya. Apakah mereka tidak melihat betapa sulitnya beban dan penderitaan yang dipikul oleh jutaan rakyat miskin di luar sana sementara mereka tidur di springbed yang empuk di bawah rumah-rumah mereka yang selayak istana? Sungguh dunia ini sudah terbalik!

Saya tidak berbicara tentang sebuah kebohongan, karena saya hanyalah seorang rakyat kecil yang melihat langsung kejadiannya dari bawah. Saya hanya melihat pengamen berkecucuran keringat mencari beberapa recehan di jalanan, saya hanya melihat puluhan lansia tak berdaya mengemis di atas trotoar pasar raya, saya hanya melihat tangisan anak kecil yang tidak mendapat makanan dari orang tuanya yang papa. Namun apakah mereka para koruptor tidak memiliki hati nurani?!

Sungguh saya sudah jijik dengan kata-kata korupsi yang setiap hari keluar di televisi. Penyakit ini sudah seperti sebuah penyakit kronis dengan prognosis yang amat sangat buruk. Mungkin sudah seperti kanker, dimana sel-selnya sudah mengalami mutasi genetik puluhan tahun yang lalu, dan sekarang sudah berproliferasi bahkan bermetastasis ke seluruh organ tubuh negara. Ini bukan becandaan, namun saya sudah hilang kepercayaan kepada orang-orang di atas sana.

Kita selayaknya sebagai generasi muda Indonesia, berharap kepada Allah swt agar terhindar dari penyakit busuk ini di masa depan. Kita tidak ingin meneruskan prilaku bapak-bapak kita yang menyengsarakan seperti ini, karena itu kita masih punya harapan untuk mengubah bangsa ini menjadi lebih baik tanpa adanya tangan-tangan kotor. Sungguh pemuda Indonesia, janganlah engkau menjadi koruptor di masa depan!

Namun, ada sebuah penyakit kronis yang bisa menjebak kita terpuruk ke dalam jurang yang sama dengan bapak-bapak negara ini, yaitu: ketidak jujuran. Ketidak jujuran artinya sama degan kebohongan, penipuan bahkan penghianatan. Apabila sudah stadium lanjut, penyakit ini bahkan bisa melindas hak-hak orang lain. Jika kita masih saja menyimpan penyakit ini dari sekarang, sama saja halnya dengan penyakit kanker yang saya sebutkan di atas.

Akan tetapi, kita pun miris melihat kenyataan. Justru penyakit ketidak jujuran itu sekarang memang sudah menjadi kebudayaan. Sebut saja, budaya mencontek ketika ujian, membuat jimat dan semacamnya, lalu titip absen ketika perkuliahan. Bukankah itu sebuah ketidak jujuran? Jika ini diteruskan, bukankah sama saja kita belajar melakukan korupsi? Orang mengira sepertinya hal ini hanyalah hal-hal sepele dan tidak penting. Mungkin orang mengira kebiasaan seperti ini tidak perlu didramatisir. Namun sesungguhnya bukankah prilaku-prilaku yang lebih besar berasal dari prilaku yang kecil?

Alangkah baiknya jika kita biasakan hidup jujur dari sekarang. Berusaha sesuai kemampuan, berjuang sekuat tenaga. Pantang berbohong karena kita orang beragama. Sesungguhnya prestasi yang dilahirkan dari sebuah kejujuran jauh lebih bermakna daripada sebaliknya. Dengan begitu kita generasi muda, pasti akan dapat merubah Indonesia menjadi lebih baik. Insya Allah.

“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kalian beserta orang-orang yang jujur. ” (Q.S. At Taubah: 119)

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s