Bougenville 12, Part 6 – Misteriku di Ambun Pagi

Mengantre di tengah kerumunan manusia tidaklah mengenakkan. Sudah hampir 20 menit giliranku belum jua datang. Saking ramainya aku dan ibu awalnya pun sulit mencari tempat duduk di poliklinik rumah sakit pusat Sumbar ini. Meski akhirnya kami duduk terpisah, tapi setidaknya ada tempat bersandar ketika rasa penat mulai mendera kami pagi itu. Aku hanya melihat ibu dari kejauhan, duduk bersama pasien-pasien lain yang juga mengantri giliran. Tatapannya dalam, entah apa yang beliau fikirkan. Sekali lagi aku sebenarnya tidak tega membawa beliau kesini, ditambah lagi ibu terlihat kepanasan karena pendingin ruangannya tidak berfungsi dengan baik. Ya Allah, jagalah ia di saat dan situasi apapun.

“Bapak Syandrez Prima Putra” tiba-tiba suara itu terdengar keras di mikrofon poliklinik. Bapak? zzz –” perasaan di surat rujukan itu tertulis usiaku baru 19 tahun laah. –” Tapi tak apa lah, aku pun bergegas mencari sumber suara. Ibuku pun bangkit dari tempat duduknya, mengikutiku dari belakang. Setelah ku hampiri petugas ASKES yang memanggilku itu, ternyata aku tidak langsung diminta menuju poli THT. Ada sebuah buku formulir peserta ASKES yang harus aku isi. Setelah usai, barulah aku diminta menuju poliklinik THT yang berada di ruangan berikutnya.

Berdua saja dengan ibu, aku duduk dengan sabar menanti map berisi status pengobatanku yang masih belum diantar ke meja poli THT. Pasien ketika itu masih cukup lengang, mungkin tidak banyak yang berobat ke THT. Namun meski demikian, aku masih tetap harus menunggu, pasalnya dokter THTnya belum semuanya yang datang. Terpaksalah kami menunggu sedikit lebih lama dan berusaha bersabar untuk kesekian kalinya.

Tak lama kemudian, seorang dokter laki-laki pun datang ke salah satu ruangan poli THT. Namun sepertinya beliau belum menerima pasien, karena pasiennya masih sedikit. Terpaksalah aku dan ibu menunggu lagi hingga waktu dhuha perlahan mulai meninggalkan kami. Beberapa saat kemudian, statusku diantar oleh perawat. Beberapa pasien yang datang sebelum aku pun mulai dipersilahkan masuk ke dalam ruangan, dan tak lama setelahnya aku pun mulai dipersilahkan untuk masuk, dan ibuku menunggu di luar ruangan.

Ketika memasuki ruangan, aku dipersilahkan duduk di sebuah kursi yang sudah dirancang dengan peralatan kedokteran THT. Dengan seksama sang dokter memeriksa statusku dan membaca riwayat pengobatanku sebelumnya. Sebelumnya aku memang pernah berobat ke poli THT ini, namun dikala itu aku berobat dengan seorang dokter perempuan, sepertinya beliau adalah residen THT. Aku lupa nama beliau, dan sebenarnya karena saran beliaulah aku memutuskan untuk memulai pengobatan seperti ini. Awalnya aku memang berharap bisa kembali bertemu dengan beliau, dan penyakitku ini ditangani oleh beliau sendiri, sehingga aku tidak perlu capek-capek menjelaskan kondisiku saat ini. Namun sepertinya takdir berkata lain saat itu.

Akan tetapi ternyata Allah mendengar do’aku. Disaat sang dokter selesai membaca statusku, beliau mengajakku untuk pindah ke ruangan THT yang berada di sebelahnya, disana tertulis Ruang Otologi THT. Aku pun teringat bahwa di dalam surat rujukan ASKES yang ditulis tangan oleh dokter THT yang memeriksaku di RS Adnan WD Payakumbuh, tertulis alamat surat untuk dokter poli bagian Otologi THT. Beliau hanya menyuruhku pindah ruangan, dan statusku diserahkan pada seorang dokter perempuan berjilbab yang masih memeriksa kondisi seorang pasien rawat jalan di ruangan itu. Aku pun duduk di dalam ruangan sambil menunggu pasien tersebut selesai dilayani.

Seusai pasien tersebut dilayanai,  beliau membaca statusku. Di saat beliau menoleh ke arahku, tidak disangka ternyata dokter perempuan itu adalah dokter yang aku cari! Alhamdulillah, akhirnya bertemu sekali lagi dengan beliau, dokter yang pernah memeriksa fistel preaurikular kananku ini ketika infeksi 6 bulan yang lalu. Namun sepertinya beliau belum mengingatku secara utuh, hingga di saat anamnesis aku kembali menceritakan pengalamanku berobat dengan beliau hingga beliau pun ingat.

Setelah anamnesis, bersama seorang dokter perempuan sejawatnya yang sepertinya juga seorang residen THT, beliau melakukan pemeriksaan fisik terhadapku. Aku diminta duduk di atas kursi THT dan mulai diperiksa. Singkat cerita, beliau pun kembali bertanya, apakah aku sudah siap untuk dioperasi. Tidak perlu ditanya lagi, aku siap. Waktunya aku pikir juga tepat, karena alhamdulillah fistelku waktu itu tidak dalam keadaan terinfeksi dan meradang. Beliau pun tersenyum melihat semangatku kala itu, “bagus!” Sebuah kata-kata penyemangat yang tak terlupakan. Kemudian ibuku pun dipersilahkan masuk oleh beliau ke ruanganku sambil menceritakan kondisiku pada ibu.

“Ini memang adalah saat yang tepat untuk dilakukan operasi, untuk itu anak ibu mesti dirawat di rumah sakit sebelum dilakukan operasi.” Dokter itu menjelaskannya dengan baik pada ibu, ibuku pun menurut dengan keputusan dokter, demikian pun dengan aku sendiri. Akan tetapi ada sedikit masalah, ruangan Ambun Pagi, tempat perawatan inap di rumah sakit M.Djamil Padang ini, waktu itu sedang penuh dan tidak ada yang bisa diisi. Beliau menjelaskan bahwa sebelum menginap di rumah sakit, kita harus terlebih dahulu memesan kamar dan menunggu konfirmasi petugas Ambun Pagi hingga ada pasien yang keluar. Hal itu dikarenakan jumlah pasien yang sebegitu banyaknya. Namun bagaimanapun juga, aku masih punya harapan. Dalam benakku, meskipun tidak dapat hari ini, kita masih bisa menunggu beberapa hari lagi. Aku mungkin bisa pulang ke Payakumbuh terlebih dahulu sambil menunggu kepastian dari pihak rumah sakit tentang ruangan inap yang akan aku tempati. Namun ibu menceritakan bahwa, kemarin ini teman beliau yang menderita pembesaran kelenjar tiroid, butuh waktu 1 minggu lebih untuk mendapatkan ruangan rawat inap di Ambun Pagi. Sepertinya berita ini terdengar sangat tidak bagus, karena aku hanya punya waktu 10 hari sebelum kuliah semester lima digelar. Tentu aku tidak mungkin berobat ketika aku kuliah, bisa-bisa aku ketinggalan materi pelajaran dan tidak lulus blok. Rumit memang, tapi aku berusaha untuk tetap optimis kala itu.

Setelah dokter menjelaskan panjang lebar, menulis statusku, beliau membuatkan beberapa surat pemeriksaan penunjang. Diantaranya pemeriksaan lab darah dan urin serta tes pendengaran (audiometri). Setelah itu, beliau berpesan, jika aku telah mendapatkan ruangan di Ambun Pagi, beliau langsung yang akan menangani penyakitku bersama dokter konsulen THTnya, dr.Jacky M, Sp.THT. Setelah beliau menandatangani surat pemeriksaan penunjang, kamipun meninggalkan ruangan dan bersiap-siap untuk mencari tempat pemeriksaan. Di surat itu tertulis nama beliau, dr.Sri. Ya, nama dokter itu adalah dokter Sri. Akhirnya akupun ingat. ^^” hehe.

Bismillah, aku dan ibupun keluar dari poli THT membawa 3 helai surat pemeriksaan penunjang. Ibuku pun kembali menceritakan teman beliau yang juga dirawat di Ambun Pagi itu. Karena beliau ingin sekali menjenguk, aku pun mengikuti ibu. Lagipula ada baiknya juga kalau aku mencari ruangan inap terelebih dahulu, dan tidak ada salahnya aku menurut dengan ibu. Karena itu, kami berdua berjalan menuju ruang Ambun Pagi terlebih dahulu, sebelum bersiap ke labor hematologi dan bangsal THT untuk pemeriksaan penunjang. Dengan niat awal untuk memesan ruangan, kami pun melangkahkan kaki menuju sebuah bangunan besar yang berada di pojok rumah sakit. Ketika pertama kali masuk, terlihat di kirinya sebuah papan tulis berukuran besar yang berisi nama-nama pasien yang dirawat di bangunan ini. Inilah dia gedung Ambun Pagi, tempat semua kisah ini bermula, meskipun waktu itu aku masih belum tahu apa yang akan terjadi denganku setelahnya.

Rasa resah karena cerita ibu mulai merasuki pemikiranku. Apakah aku tidak akan sempat mendapatkan ruangan di Ambun Pagi untuk dirawat? Padahal aku sudah mengajak ibu jauh-jauh kesini. Padahal aku sudah begitu semangat dan rasanya aku akan dioperasi esok hari saja. Sambil berjalan perlahan, melihat-lihat sekitar, mencari-cari tempat registrasi, aku pun bertanya kepada salah seorang yang berada di belakang meja perawat yang terletak di sebelah kanan ruangan itu. Dan apa yang aku temukan, seorang ibu dengan raut wajah yang sangat familiar, wajahnya bersih berjilbab dengan seragamnya putih-putih layaknya dokter spesialis. Dengan tatapan setengah terkejut beliau memanggil namaku sebelum aku bertanya kepada-nya. “Syandrez?” Ya Allah, ternyata dia adalah orangnya, ibu yang waktu itu menjemput helaian kertas pendaftaran anaknya, yang kala itu berdua dengan suaminya menemuiku untuk meminta kertas KRS untuk mendaftarkan anaknya yang berhalangan itu. Dia adalah ibu temanku yang aku tolong waktu itu. Tidak salah lagi, dia adalah orangnya. (baca kisahnya di: Bougenville 12, Part 2 – Ibunda yang Setia) Ya Allah, kenapa begitu kebetulan seperti ini? Cerita apa yang akan Engkau siapkan untukku?

to be continued..

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s