Hari Raya atau Hari “Tasapik”?

Qurban

Alhamdulillah wa syukurillah, Allah masih memberikan kita kesempatan sekali lagi bertemu dengan hari raya umat muslim yang terbesar, yakni hari raya Idul Qurban, Idul Adha. Seyogianya di hari raya akhir tahun hijriyah ini bisa kita manfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga di rumah, sambil mengikuti prosesi qurban dan makan daging qurban bersama-sama. Hari Raya dimana setiap umat muslim baik kaya dan miskin mendapatkan rejeki berupa daging qurban, hari raya dimana kita kembali diingatkan akan pentingnya berbagi dan bersilaturrahim antara sesama muslim.

Di belahan dunia sana, jutaan umat muslim pun ikut merayakan, sembari melengkapi rukun islam yang kelima, naik haji ke Baitullah. Ibadah yang menjadi inti dari ajaran Islam ini selayaknya menjadikan waktu-waktu yang dilalui saat itu sebagai waktu-waktu yang amat utama. 10 Dzulhijjah. Waktu dimana do’a-do’a begitu dahsyat, waktu-waktu penuh hidayah Allah, waktu-waktu penuh rahmat Allah.

Namun tahun ini, sepertinya semarak Idul Adha bersama keluarga tidak semua yang merasakan. Misalnya saja teman-teman saya sekampus, yang tidak bisa bertemu dengan keluarganya karena keterbatasan waktu untuk pulang. Status-status ‘galau’ tak bisa pulang berhari raya satu per satu mulai muncul. Ya, soalnya tahun ini hari raya Idul Adha jatuh hari Minggu, dan pemerintah tidak pula menyediakan waktu untuk masyarakat untuk berhari raya di hari-hari setelahnya, termasuk hari Tasyrik sekalipun. Bukannya hari tasyrik itu adalah hari-hari berqurban juga? Saya gak bisa membayangkan gimana sedihnya orang-orang yang ingin berkurban tapi mereka tak bisa meninggalkan pekerjaan mereka, semisal mahasiswa, PNS, dan pegawai pemerintah. Kalau gini bukannya kita jadi merenggut hak beragama seseorang? (-_-“)a wallahu’alam deh..

Saya sungguh bersyukur masih diberi kesempatan oleh Allah untuk pulang kampung sebelum hari raya. Meskipun harus mengantri bis dari pukul 1 siang sampai 5 sore karena saking banyaknya yang mau pulkam, itu tidak seberapa dibandingkan teman-teman yang gak bisa pulkam. Saya hanya kepikiran, kuliah lagi hari Senin, gimana saya bisa balik ke Padang? Hari Minggu? Saya rasa Minggu semua orang berhari raya. Entahlah gimana besok ni. he..

Kalau kaya begini jadinya, sama saja hari raya dengan hari “tasapik” alias kejepit😛. Ini hari raya terbesar kan? Tapi kok kaya angin lalu saja ya? Ndeh. Berharap ada keajaiban kalau pemerintah memberi hari liburan, minimal hari tasyrik saja lah.. alah jadi tu. (-_-“)a

2 thoughts on “Hari Raya atau Hari “Tasapik”?

  1. iya, temen2 ami yang lain juga banyak yang kayak gitu
    alhamdulillah kamis malam ami udah nyampe rumah
    dan alhamdulillah lagi dosen yang ngajar hari senin berbaik hati mengikhlaskan kami untuk ga kuliah🙂

    sayang banget ya di hari raya Idul Adha tahun ini banyak yang ga bisa merayakan bersama keluarga😦

    Like

    • wah, asik t ma mi..an mesti balik minggu ini, senin tetap kuliah.:(
      gpp, smg ttp bisa berhari raya dlm kondisi n situasi apapun.. yg penting maknanya.🙂

      Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s