Sebuah Momen Inspirasi, Ahmad Fuadi

Alhamdulillah, hari ini saya diberi Allah kesempatan beberapa jam duduk melihat inspirasi yang alhamdulillah luar biasa. Duduk sambil memegang secarik kertas blok note dan sebuah pena. Berusaha memasang mata baik-baik dan menyetel telinga dengan seksama. Sesekali menuliskan apa yang ditangkap kedua mata dan kedua telinga. Saya akhirnya melihat orang yang selama ini hanya saya dengar namanya di media, lihat rupanya di televisi dan dunia maya. Urang awak juo kironyo, penulis novel terkenal Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna, Ahmad Fuadi.🙂

Setelah satu tahun yang lalu mendapat suntikan inspirasi dari Salim A.Fillah dan Andrea Hirata, bahkan hari ini Allah mendatangkan inspirasi yang lain, yakni Bang Ahmad Fuadi. *Kata abangnya, follow twitter beliau di @fuadi1. Hehe. Sungguh gak ada lagi alasan buat berhenti menulis, sayang banget umur yang mungkin ga sampai seabad ini *wallahu’alam terbuang begitu saja. Walaupun tadi datangnya udah agak telat, aku berusaha mengendap-endap duduk di barisan depan. Hehe. *Telat lagi. –“

Jadi ceritanya, hari ini (1-4-2011) Broca FK Unand, sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang jurnalistik di kampus Kedokteran Unand, untuk kedua kalinya mengadakan acara yang diberi nama West Sumatera Journalism Course (WSJC) 2012. Acara ini semacam seminar tentang menulis dan sekaligus ajang motivasi buat penulis-penulis muda di Sumbar. Kalau ga salah sebelumnya juga diadain rangkaian acara lomba seputar dunia jurnalis, baik itu menulis dan fotografi. Acara ini bertemakan “Deretan Kereta Kata Lintasi Rel Inspirasi”, dengan bintang tamu sekaligus pemateri utamanya Bang Ahmad Fuadi.🙂

Kali ini, saya ingin sedikit berbagi tentang beberapa hal yang saya tulis di buku catatan saya tentang materi penuh inspirasi yang disampaikan bang Fuadi, ya..tentunya materi yang sempat saya dengar sepenggal setelah saya masuk terlambat tadi. –“

Kalimat pertama yang tertulis disini adalah, “Tulisan itu tidak akan mati, ia akan terus hidup dan memberi manfaat (jika baik)“. Inilah salah satu alasan mengapa kita harus menulis. Bang Fuadi juga menjelaskan, kita semua pasti akan mati suatu hari nanti. Meskipun kita dikubur, tulisan kita tak akan ikut terkubur. Dia akan tetap ada dan bisa dibaca oleh siapa saja dan dapat memberi manfaat untuk siapa saja. *Jadi teringat kata-kata yang pernah saya dengar, “Setiap penulis pasti akan mati, akan tetapi tulisannya akan terus hidup.” Bener banget! ><b

Teringat status facebook dan twitter, tulisan yang akan terus ada meskipun kita telah tiada. *hati-hati menulis status kawan2, karena kita ga tau kapan kita bakal mati. -wallahu’alam. ><b

“Tulisan itu lebih kuat dari sebutir peluru, it’s so powerfull. Kalimat ini sempat aku dengar langsung dari bang Fuadi. Ungkapan yang mendalam dari beliau, dan sarat makna. Saya rasa, kita punya tafsiran bermacam-macam dari statement yang satu ini.

 “Menulis itu bisa jadi apa saja, asal ada kemauan”. Menulis itu masalah kemauan kawan. Dan siapa saja bisa menulis asal ada kemauan. Dan apa yang kita tulis itu bisa jadi apa aja. Bang Fuadi mengibaratkan novel Negeri 5 Menara yang beliau tulis, bahkan sekarang tulisan beliau mampu melahirkan sebuah film dan sebuah lagu. Jadi teringat kata-kata ketua Umum KM FK Unand di saat kata sambutannya tadi pagi saat membuka acara, jika pada masa Khalifah Utsman bin Affan dahulu al-Qur’an tidak dituliskan, mungkin kita akan kehilangan tujuan hidup. Ya, bahkan Al Qur’an itu telah mampu merubah dunia, dari kebodohan hingga berilmu pengetahuan seperti saat ini. Karya-karya lainnya seperti Ibnu Sina dengan Qanun fi Thib-nya, mampu menggairahkan dunia kedokteran hingga detik ini.

“Ada 4 hal yang penting dalam menulis, yaitu Why, What, How, When.”

– Why. Mengapa kita harus menulis? Manga manulih?-minang red.😀 Temukan alasan kita mengapa harus menulis. Karena sebuah niat dan alasan yang tepat adalah suntikan motivasi yang tak pernah terputus. Jika kita tak punya alasan mengapa kita harus menulis, “susah!” kata bang Fuadi, niscaya suatu saat kita akan jenuh dan enggan menulis lagi. Bang Fuadi sendiri punya niat, berawal dari sebuah mimpi dan cita-cita, ingin kuliah di luar negeri. Alhamdulillah Allah memberikan beliau hal yang jauh melebihi cita-cita beliau selama ini. Bersekolah di 4 negara berbeda di luar negri, dan bahkan sudah keliling dunia dan mengunjungi puluhan negara. Subhanallah banget! ><. Akhirnya beliau berfikir, “alhamdulillah saya sudah mendapatkannya, lalu apa?”  Akhirnya, itu menjadi niat beliau untuk menuliskannya dalam novel “Negeri 5 Menara”. Lalu guru beliau di Pesantren Gontor dulu pernah menasihatkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW, Khairunnas anfa’uhum linnas, “Sebaik-baik manusia adalah yang banyak bermanfaat bagi orang lain.” (HR.Bukhari). Itulah motivasi terbesar beliau dalam menulis, agar menjadi manfaat untuk orang lain. Subhanallah dah!! ><b

– What. Apa yang akan kita tulis? Apo yang ka ditulih?-minang red.🙂 Jawaban dari beliau adalah, “sesuatu yang kita senangi dan kita mengerti”. Jika kita senang dengan sesuatu, dan kita paham betul dengan itu, mengapa kita tidak coba untuk menuliskannya? Misal kita senang dengan hal-hal yang berhubungan dengan musik, gak ada salahnya kita tulis, atau bang Fuadi mencontohkan, jika senang dengan hal-hal tentang makhluk-makhluk Planet Mars, kita bisa tulis apa aja tentang itu. Hhe.

– How. Bagaimana cara menuliskannya? Baa caro manulih?-minang red.😛 Sama seperti yang diungkapkan bang Andrea Hirata setahun yang lalu, caranya adalah dengan riset terlebih dahulu. Riset itu gak mesti ditanggapi serius, pasalnya, riset itu bisa kita dapat dari apa yang kita liat, dengar, dan kita baca. Bisa berasal dari apa aja, pengalaman, bukti tertulis, visual seperti video dan gambar, atau apaaa aja yang bisa menumbuhkan imajinasi kita, apalagi jika yang kita tulis itu adalah karya fiksi.

– When. Kapan kita menulis? Bilo wak ka manulih?-minang red.:mrgreen: Jawabannya adalah saat ini juga! Kata bang Fuadi, “tidak peduli berapa banyak, yang penting konsisten, satu alinea pun cukup.” Kadang kita berfikir menulis itu susaaaah banget? Tahu gak sih, padahal sebenarnya kita itu berbakat menulis lho. Hhe. Coba perhatiin status facebook-mu, atau kicauan twittermu, atau yang lain misalnya BBM, jika kita kumpulkan status-status facebook dan twitter itu lalu kita print mungkin sudah berapa halaman ya? Hehe. Itu buktinya.😛

Subhanallah banget. Alhamdulillah, niat saya ikut WSJC ini terbayar sudah dengan catatan sederhana yang bisa dibaca kapan saja ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi siapa aja termasuk saya sendiri. Ayo, gak adal alasan lagi buat gak menulis. Kalau kita mati nanti, tulisan kita tentu tetap hidup dan menjadi amal jariyah kita sewaktu di alam kubur nanti, iya kan? Semoga kita tetap konsisten menulis, walaupun hanya beberapa baris. Free writing, tulis saja apa yang ada di kepalamu, nanti baru diedit.-Ahmad Fuadi.😀

Terima kasih banyak, bang Ahmad Fuadi, semoga makin sukses dan diridhoi oleh Allah swt. Amin.🙂

6 thoughts on “Sebuah Momen Inspirasi, Ahmad Fuadi

  1. duh senangnya bisa dengar langsung tips menulisnya dari A.fuadi..
    kakak kmren cuma nonton bareng ngri 5 menara aja..
    jadi, tmbah smngat j menulis..makasii ulasannya dek. wlaupun gag hdir langsung, baca uraiannya..rasanya udah cukup puas..hehe

    Like

    • hehe..alhamdulillaaah kalau gt kak🙂
      alhamdulillah jg, bisa dengar langsung tips dr beliau, smg catatan ini bermanfaat, hhe. iya kak, smg kt ttp smgt menulis sampai kapanpun! ><b

      Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s