Beternak Konsistensi

Adalah hal yang sulit jika disuruh konsisten, kata lainnya istiqomah. Saat kita sudah memantapkan niat dengan semangat menggebu-gebu bahkan dengan ide-ide brilian yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, dengan mudahnya pulalah angin kemalasan mendatangi kepala dengan sepoi-sepoi kenyamanannya yang membuat terlena. Ah, memang susah untuk menjaga niat, memang sulit memegang teguh keinginan.

Apa yang sering membuat kita begitu mudah goyah disaat dalam perjalanan? Kita punya tujuan dan jalan yang luas telah terbentang. Akankah yang lemah itu kedua kaki yang kecapekan, ataukah perut yang keroncongan, ataukah otak yang memasuki masa kejenuhan? Ataukah yang lemah itu justru masih berkutat di masalah niat? Hm..

Kadang cerita Allah swt membuatkan kita kesempatan untuk merasakan betapa manisnya memanen hasil dari kerja keras yang penuh konsistensi. Dan itu rasanya tak ingin dilepaskan untuk selama-lamanya. Ingin rasanya kita beternak keistiqomahan hingga akhir sehingga tidak lagi mudah digoyahkan oleh rasa malas dan kebimbangan. Siang malam berdoa agar menjadi manusia yang konsisten namun saat itu pula ia ngeblur menjadi kebohongan. Ah, jujur ini masih menjadi barang pelik untuk dikembangbiakkan.

Apa lagi yang kurang dari sebuah keistiqomahan? Bahkan Allah swt mengatakan “”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita’.” (QS.Al Ahqaf: 13). Bahkan di QS. Fushilat 30 Allah swt menambahkan,  “bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Mungkin ada yang telah membuktikan keluarbiasaan firman-Nya ini. Saat kita benar-benar ga khawatir atau ga sedih dengan apapun yang kita petik dari kekonsistenan kita memegang teguh kebenaran yang sudah kita niatkan dari hati. Justru masalahnya adalah, saat kita kehilangan statement “kemudian mereka tetap istiqomah” ini yang menakutkan batin. Pernahkah merasa hal yang demikian?

Sulit untuk menjabarkan, bahwa keistiqomahan itu adalah sesuatu yang presticious untuk dimiliki. Mencari alasan untuk tetap teguh pendirian mungkin mesti dikerjakan setiap hari, diselingi sebuah do’a, “Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Ali Imran: 147)

Semoga kita bisa beternak konsistensi, membuatnya beranak-pinak di dalam hati, agar gak lalai dan lalai lagi. Wallahu’alam guys.

6 thoughts on “Beternak Konsistensi

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s