shalat

Merasakan Shalatmu

“Innashalata tanha ‘anil fahsya’-i wal munkar.” Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan fahsya’ dan mungkar. Muslim manakah yang tidak pernah mendengar ayat ini? Ayat populer yang menjadi keutamaan shalat. Sepenggal kalimat dalam surat Al-Ankabut [29] ayat 45. “

اتْلُ مَآ أُو حِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَاتَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya’ dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 29:45)

Itulah salah satu definisi shalat yang disebut di dalam al-Qur’an, sesuatu yang mencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya’ dan mungkar. Al Hasan Radiyallahu ‘anhu berkata: “Hai anak Adam, sholat itu hanyalah mencegah fahsya’ dan mungkar, jika sholatmu tidak mencegahmu dari fahsya’ dan mungkar, maka sesungguhnya kamu tidak sholat.”

Al-Fahsya’ (الفحشاء ) di dalam tafsir DEPAG-RI diartikan dengan perbuatan keji. Arti seperti ini kurang jelas dan tegas. Bila kita buka dalam kamus Al Munawwir, artinya sangat tegas-jelas dan banyak, dari sekian arti tersebut tidak ada yang baik. Al-Fahsya’ adalah suatu sikap/amalan yang buruk, jelek, jorok, cabul, kikir, bakhil, kata-kata kotor, kata yang tidak bisa diterima oleh akal sehat, dan kata fail / pelakunya diartikan zina. naudzubillahi min dzalik. ( Kamus Al Munawwir : hal. 1113) Sementara Al-Mungkar (الْمُنكَرِ) menurut Abdullah Ar-Rojihi dalam kitabnya Al Qoulul bayyin Al Adhhar fiddakwah menyebutkan bahwa Munkar adalah setiap amalan / tindakan yang dilarang oleh syariat Islam, tercela di dalamnya yang mencakup seluruh kemaksiatan dan bid’ah, yang semua itu diawali oleh adanya kemusyrikan. Ada lagi yang mengatakan bahwa Munkar adalah kumpulan kejelekan, apa yang diketahui jelek oleh syariat dan akal, kemusyrikan, menyembah patung dan memutus hubungan silaturrahmi.

Terkadang kita kembali bertanya-tanya, selama ini kita senantiasa shalat lima waktu sehari semalam, bahkan tak jarang berjamaah, ditambah lagi dengan shalat-shalat sunnah, tapi mengapa masih saja sering berbuat fahsya’ dan mungkar?

Saat berusaha memahami arti ayat al-Qur’an, tidak ada satupun alasan yang menafikan bahwa shalat itu adalah mencegah fahsya’ dan mungkar. Al-Qur’an itu mutlak benar dari Allah SWT. Tuhan Pencipta Segala-galanya yang telah menyampaikannya. Kalau begitu, dimanakah letaknya shalat itu jikalau kita masih saja berbuat fahsya’ dan mungkar?

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’uun [107] : 4-5).

Adakah yang salah dengan shalat kita selama ini? Ya. Mungkin. Lalai? Mungkin. Lalai dalam waktu, lalai dalam niat, lalai dalam bacaan, lalai dalam gerakan, lalai dalam ingatan, lalai dalam penghayatan. Mungkin. Jika demikian halnya, kita masih celaka kawan. Celaka. Astaghfirullahaladzhim, naudzubillah tsumma naudzubillah. T_T

Jika kita bersandar pada ayat Allah SWT yang menjelaskan bahwa shalat itu mencegah perbuatan fahsya’ dan mungkar, maka tak salah rasanya menjadikan hal tersebeut sebagai indikator khusyu’nya shalat ini. Jika kita masih cendrung berbuat demikian, berarti ada masalah pada shalat kita. Karena, jika shalat kita sudah benar, tentu kita akan menjauhi bahkan benci berbuat fahsya’ dan mungkar.

Sulit? Ya. Memang.

Maka jalan satu-satunya bagi kita adalah kembali belajar bagaimana shalat yang benar dan dapat mencegah perbuatan fahsya’ dan mungkar itu. Abul Aliyah radiyallahu ‘anhu berkata : “di dalam sholat itu ada tiga unsur penting, yaitu Ikhlas, khosyah ( takut ) dan dzikrullah ( ingat kepada Allah ). Maka jika tiap sholat tidak ada ketiganya, tidaklah disebut sholat. Karena dengan kandungan ikhlas akan mengajak kepada yang ma’ruf, khosy-yah akan mencegah kepada yang mungkar dan dzikrullah akan mencakup makna mengajak ma’ruf dan mencegah mungkar.”

Mari kita belajar lagi untuk shalat kawan. Sesungguhnya ini belum habis.

Mari kita muhasabah lagi sudah sejauh apa derajat kekhusyukan shalat kita. Di saat azan berkumandang apakah kita sudah bersegera untuk shalat, di saat berdiri memasang niat sudahkah kita membayangkan Allah SWT sedang melihat kita menghadap-Nya? Sudahkah kita merasa bahwa saat kita shalat kita sesungguhnya sedang berbicara dengan-Nya? Sudah ikhlaskah kita melakukannya hanya karena diri-Nya? Sudahkah kita paham apa dengan yang kita ucapkan ketika shalat? Sudahkah kita melakukan gerakan shalat dan memaknainya dengan benar? Sudahkah kita merasa takut dan hati kita bergetar saat membaca kalimat-kalimat-Nya? Dan sudahkah kita ingat pada Allah sepanjang shalat kita? Masya Allah. Jika sudah, itulah yang disebut dengan aqimishalah. Wallahu’alam.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'”. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 45)

Karena itu, mungkin kita mesti lebih “merasakan shalat” kita. Ayo semangat kawan! Sebesar apapun usaha yang kita kerjakan untuk memperbaiki shalat kita, insya Allah dicatat oleh Allah SWT sebagai amalan disisi-Nya. Insya Allah.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah [99] : 7)

Wallahu’alam. Semoga dapat menjadi pengingat untukku dan untukmu.

#Ramadhan 1433 H

Referensi: http://maktabah-jamilah.blogspot.com/

One thought on “Merasakan Shalatmu

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s