Setitik Madu

Saat pagi menjelang, harapan pun menjelang

diwaktu terbangun setelah tidur yang lelap

berjalan memapa

ingin menjejaki jalan yang dialiri manisan lebah

 

hanya setitik madu yang ku perlukan

cukup untuk membuat segelas air putih menjadi manis

setidaknya untuk melepas dahaga pagi ini

yang kemarin selalu terisi dengan kopi yang pahit

 

aku menepaki sudut jalan dipenuhi pepohonan

yang sebenarnya dipenuhi oleh sarang-sarang berisi madu

tak jarang dengan indahnya madu menetes di tanah

bahkan tak jarang pula menitik di pelupuk kening

tapi entah kenapa, tanganku tak mampu meraih

 

andai setitik madu itu masuk ke kerongkonganku

aku berdoa agar tidak memuntahkannya

karena darah-darah ini rindu manisnya

yang setiap kali nyaris kutelan tapi meraihnya pun aku tak bisa

satu titik saja, cukup untukku madu

jangan biarkan aku berharap lebih lama

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s