Senyum Impian

Tatkala menjalani junior clerkship di bagian interne hari ini aku melihat pasien duduk beramai-ramai di sebuah sudut ruangan terbuka. Rupanya disanalah beranda depan ruang para dokter residen interne. Kami belajar di sana hari ini. Prof Nasrul Zubir menjelaskan panjang lebar tentang teknik pemeriksaan fisik thoraks dengan seksama, sesekali bertanya pada kami.

Aku serasa seperti sedang bermimpi sejak tadi pagi. Tiba-tiba pikiranku melanglang buana ke masa lalu saat asyik menulis materi anamnesis di sebuah buku catatan yang selalu ku bawa setiap hari. Mendengar sayup-sayup diskusi pleno yang membahas tentang patient safety, ah, aku tersenyum. Alhamdulillah, aku sudah sejauh ini. Apalagi ketika ku duduk bersama calon-calon sejawat insya Allah. Melihat ruangannya yang dipenuhi loker dan tempelan kertas di mading, aku makin merasa sedang bertualang dalam cerita fiksi, hingga berandai-andai menjadi pemeran film Code Blue, salah satu film Jepang favoritku.

Hal yang sama terjadi ketika aku melewati lorong-lorong rumah sakit ini. Memakai jas putih dan saku berisi stetoskop dan peralatan diagnostik ini sungguh membuatku canggung. Aku agak malu dan merasa diperhatikan, yah, sesuatu yang membuatku kurang nyaman. Tak ingin menebar senyum pada pasien, tapi aku selalu tersenyum spontan melihat pasien disana. Ah, kenapa denganku.

Melihat Prof Nasrul memperagakan cara-cara anamnesis dan pemeriksaan fisik hari ini, aku deg degan. Pertama kalinya menyaksikan sendiri, dan suatu saat akulah yang akan mengerjakannya pada pasienku dan memperagakannya pada mahasiswaku nanti. Sebuah impian yang sampai hari ini yang ingin ku gapai.

Tak ada salahnya bermimpi, tak ada salahnya tersenyum. Sampai detik ini, ku ingin melaluinya dengan baik. Karena itu, setiap orang mestilah bahagia disaat impiannya terlihat di depan pintu. Namun, pintuku masih beberapa tangga lagi. Mesti butuh pijakan kaki yang kuat untuk menepaki setiap jenjangnya. Aku rasa setiap orang pun sama, setiap orang yang mempunyai mimpi-mimpi. Yang jelas, tetap berusaha menggapainya dan tidak berhenti melangkah.

Satu lagi impianku saat melihat dua pasien lansia yang sedang berdua. Suami istri ini terlihat begitu asyik bercengkrama, tak peduli entah berapa guratan yang terlihat di kening mereka. Sang suami yang terbaring di atas dipan sementara istrinya mendengarkan kata-kata yang keluar dari bisikan sang suami. Senyuman mereka tak luntur ditelan usia. Entah apa mimpi mereka, yang jelas, meski terlihat lemah, keduanya cerah. Diam-diam aku tersenyum dibalik jendela mereka, entah apa yang ku pikirkan. ckck.

Alhamdulillah, jangan pernah lupa terucap. Meski ini dunia, ini semua haruslah untuk dunia kita setelahnya, deshou?.:mrgreen:

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s