Simbahan Darah menjadi Saksi

Cerita ini bukanlah cerita horor, namun hanya mencoba mendramatisir, hehe. Sejenak teringat momen-momen Idul Adha 1433 Hijriyah kemarin ini, saat tertegun melihat simbahan darah hewan-hewan qurban di depan sebuah mushalla yang sedang direnovasi. Ada tujuh nyawa yang akan melayang pagi itu, pagi yang mendung, tenang dan sejuk. Masyarakat berkerumun menyaksikan prosesi pembantaian massal tersebut, berusaha tidak melewatkan satu momen pun dari peristiwa itu.

Aku melihat beberapa ekor sapi diikatkan di sebuah pohon tak jauh dari mushalla itu. Aku melihat ekspresi raut wajah mereka, yang polos lugu dan seolah tak tahu apa yang akan terjadi pada mereka. Haha.. Ketika sapi pertama siap untuk disembelih, wajah itu masih tetap sama. Namun rautnya perlahan menjadi panik ketika tali melilit kakinya dan membuatnya terjatuh hingga menggetarkan bumi yang ku pijak saat itu. Dengan tiada teganya ayahku dan beberapa bapak yang menjadi panitia penyembelih qurban hari itu, menyeretnya lebih dekat ke arah peserta qurban. “Inilah jiwa binatang, jiwa yang sejatinya ada di dalam diri kita”, ujarku dalam hati. Sambil berdo’a, dengan bismillahirrahmanirrahim leher sang sapi disayat dengan sebatang pisau berukuran besar. Tak ayal darah pun bersimbah membasahi bumi. Inilah, sekali lagi, jiwa binatang yang kadang membuat kita terlena dengan kehidupan dunia. Inilah yang kita bunuh, kita bersihkan.

“Inilah jiwa binatang, jiwa yang sejatinya ada di dalam diri kita”

Kalimat itu selalu terngiang di telingaku saat melihat hewan-hewan qurban ini disembelih. Saat Nabi Ibrahim alahissalam begitu mendambakan Ismail-nya, maka Allah memerintahkan beliau untuk menyembelihnya, sambil mengajarkan kita untuk mencintai Allah di atas segala-galanya. Ujian iman itu pun berbuah manis ketika seekor qibas menggantikan Nabi Ismail alaihissalam, sebagai bukti bahwa betapa besarnya cinta beliau kepada Allah swt.

Jika Nabi Ibrahim membuktikan cinta-Nya pada Allah swt dengan mengorbankan Ismail kesayangannya, maka kita pun mesti mengorbankan “Ismail” yang ada dalam diri kita. Karena tiada yang patut lebih dicintai daripada Allah swt, dan sekaligus membunuh jiwa binatang yang tamak dan rakus di dalam diri ini. Demikian pelajaran yang kuterima pagi itu, seolah-olah simbahan darah itu menjadi saksi.

Semoga Allah menerima setiap ibadah kita dan mengampuni setiap dosa-dosa kita. Amin…

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”(Q.S. An-Nazia’at 40- 41)

Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 Hijriyah!:mrgreen:

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s