Sejenak Memikirkan Ajal

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepdamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Penggalan terjemahan surat Al-Baqarah ayat 155-157 ini sungguh indah, menurutku. Ayat ini salah satu favoritku. Saat kita ditimpa musibah apapun itu, inilah motivasi luar biasa yang tertulis di dalam Al Quran. Rasanya, tiada lagi alasan untuk larut dalam kesedihan, mengingat balasan yang akan kita peroleh dari kesabaran.

Namun, musibah itu datang tanpa permisi, tanpa memberi tahu. Saat mengetahui kabar kecelakaan delegasi FULDFK se Indonesia kemarin sore, darah ini rasanya menyentak tersirat. Jika aku berfikir lebih jauh, kami baru saja pulang dari kegiatan nasional semacam ini, beberapa minggu yang lalu. Rasanya, mungkin saja hal dan musibah semacam itu menghampiri kami, hingga kami pulang tiada bernyawa. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Masya Allah. Naudzubillah.

“Setiap jiwa akan merasakan mati”. (QS. Ali ‘Imran: 185)

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, duka cita yang mendalam atas musibah kecelakaan bis di Purwokerto yang merenggut nyawa saudara-saudara kita, sejawat kami, mahasiswa kedokteran Undip, Novitia Lutfiatul Khoriyah (19) dan Esti Ilma Zakiya (18), saat mengikuti rangkaian acara nasional Antibiotic 8 (Annual Training for Better Islamic Health Knowledge and Apllication) di Universitas Jendral Soedirman, pada Minggu (4/12) sore hari. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, dan arwah beliau diterima di tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah swt. Amin. #mahasiswaFKberkabung.

Tiada satupun yang akan menduga hal tersebut melainkan Allah swt. Jika memang sudah jalannya, demikianlah adanya. Sungguh kejadian ini cukup menjadi teguran bagi kita bahwasanya hidup di dunia itu bukan segala-galanya. Sejenak kita merenungkan ajal, kapankah akan menemui kita. Dan pertanyaan selanjutnya, sudahkah kita benar-benar siap menemuinya?

“Manusia berawal dari setetes air mani yang hina. Berakhir menjadi seonggok daging yang membusuk. Dan saat ini berada diantara keduanya dengan membawa kotoran kemana-mana.”  (Salim A. Fillah – Dalam Dekapan Ukhuwah)

Penggalan kata-kata dari Salim A.Fillah ini menjadi pembuka catatan terakhir saudari Novitia dalam “Dosen Tak Bernyawa“, yang terlebih dahulu Allah swt telah mengambil nyawanya (semoga Allah swt menerima segala amal baiknya). Siapa yang menyangka bahwa tulisan ini adalah tulisan terakhir beliau. Beberapa kalimat yang mesti kita renungkan dari tulisan beliau adalah:

“Bahkan manusia termulia, dengan pengambilan ruh yang benar-benar pelan dan lembut  saja merasakan sakit yang benar-benar sakit. Apalagi kita, yang sadar akan siksa neraka namun tetap rutin berbuat dosa. Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Nyawa beliau memang kini sudah tiada, namun tulisan beliau akan tetap ada sebagai amal jariyah yang tak kan terputus untuknya hingga hari kiamat.

Lalu, bagaimana dengan kita? Masya Allah.

Mari sejenak kita fikirkan.. “ajal kita”.

One thought on “Sejenak Memikirkan Ajal

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s