Dunia yang Terbalik untuk Sebuah Kesyukuran

Ada banyak hal yang bertolak belakang di dunia ini. Hari ini misalnya. Dua dunia yang berbeda rasa. Yang sering terjadi adalah, dunia yang satu, lupa dengan dunia yang lainnya.

Maksudku, dua kehidupan. Ketika ku menemui seorang anak yang masih sangat kecil usianya untuk sendirian dan berkelana jauh dari kampung halamannya, aku merasa menjadi salah satu yang telah lupa dengan dunianya. Seorang anak yang ditinggal mati oleh Ayahnya, ditinggal pergi oleh ibunya yang tak tau bagaimana kabarnya, dan dalam usia sekecil itu ia harus menghidupi dan membiayai kedua adiknya yang juga masih kecil, yang satu duduk di bangku SD dan satu lagi masih TK.

Ia datang ke kampusku, dari Suliki 50 Kota sana, 150 km jauhnya dari kota ini, menaiki bis umum, sendirian. Masya Allah. Menyandang sebuah tas lusuh yang berisi beberapa botol madu asli yang dititipkan pamannya untuk dijual. Aku terenyuh melihatnya di teras masjid kampus siang ini. Aku menatap matanya dalam, meski ia tak menyadarinya. Batin ini rasanya remuk, apalagi ketika ku sempat bertanya padanya tentang kehidupannya, sambil dia memohon padaku untuk membeli sebotol madu yang ia todorkan padaku. Meskipun demikian, ia tak pernah meminta-minta dan mengemis pada orang lain. Dia masih ingin berusaha, meskipun ia masih sangat kecil untuk itu. Aku terdiam. Aku tak bisa membayangkan jika aku diposisinya saat itu.

Kala itu, aku tak mampu bergerak dari sana. Aku duduk berdua dengannya di teras masjid kampus sambil mendengar ceritanya, padahal azan zuhur telah lewat. Dalam batinku, terbesit ingin melakukan sesuatu untuknya, membantunya. Layaknya siapapun. Ada perasaan yang sungguh bercampur aduk di dalamnya.

Kisah itu mengingatkanku bahwa masih banyak orang di luar sana yang butuh pertolongan. Mereka para anak yatim yang tak berayah, ibunya pun tak berkabar. Ya Allah.. Jika dibandingkan dengan diriku, mungkin aku adalah orang yang sangat tidak bersyukur. Lupa berterima kasih. Astaghfirullah ya Rabb.

Duniaku, dan dunianya, berbeda. Takdir yang tak sama. Aku berfikir, demikianlah Allah mengajari kita arti kaya dan miskin, agar ada dalam diri kita terbesit rasa syukur dan rasa sabar kepada Allah swt. Jika tak ada orang miskin di dunia ini, mungkin yang kaya tak kan pernah bersyukur. Jika tak ada yang kaya, mungkin yang miskin tak kan perlu bersabar. Meskipun aku juga dahulunya berasal dari keluarga yang kurang berkecukupan, namun kehilangan seorang ayah ataupun ibu dan dengan kondisi seperti itu, aku tak bisa membayangkan jika hal itu terjadi padaku.

Saat itu, aku tiba-tiba ingin menjadi orang kaya. Agar suatu hari aku bisa membantu mereka, mereka yang dunianya berbeda.

Namun, tiada yang salah dengan dunia yang berbeda, selagi masih ada harapan untuk terus berjalan dan menggapai impian. Aku pikir, anak itu telah mengajariku salah satu arti kehidupan.

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s