Pemimpi yang Pemalas

Punya banyak keinginan, banyak angan-angan. Tapi enggan. Malas. Berniat sudah, namun niat yang tak sampai. Apakah niat yang terucap itu sudah benar? Ataukah hanya seutas nafsu tanpa arahan yang jelas?

Kadang ia tak peduli dengan dentuman detik jarum jam di dinding. Ia tak peduli dengan matahari yang semakin meninggi. Hari berganti hari. Bulan yang hidup mati. Kenapa saking demikian lalainya?

Mengundur-undur hingga penghujung waktu. Berharap masih sempat bersenang-senang. Nanti saja, masih ada waktu. Ah, selalu begitu. Meski batinnya berteriak, cukup dan cukup. Kapan kau akan bergerak?!

Punya rasa cemas. Penyesalan. Tapi tak kunjung bangun dari realita. Cukuplah kata pemalas itu terngiang-ngiang hampir setiap hari. Namun otaknya seperti telah dicuci. Tak peduli!

Kemelut antara niat dan kemalasan, jika dibiarkan berlarut-larut, impian yang ia bangun bukanlah impian di masa depan. Impian itu akan hanya menjadi mimpi penghias malam yang tidak pernah menjadi kenyataan. Jika tak bergerak sekarang, mana mungkin Tuhan akan mengubah hidupnya?

Ia paham. Ia mengerti. Tapi selalu kalah, masuk lubang berkali-kali. Jika terus begini, hanya akan membuatnya menjadi pemimpi, selamanya. Wake up bro!! This is real!

3 thoughts on “Pemimpi yang Pemalas

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s