Episode Perdanaku di Tanah Tabuik

Dua minggu yang lalu aku menginjakkan kaki di tanah Tabuik, sebuah sebutan alias jargon dari sebuah kota di pesisir barat sumatera, Pariaman. Kota yang begitu apik dan rapi, nyaman dan bersahabat. Indah dengan deretan pantainya, dan segenap kulinernya. Aku baru pertama kali menginjakkan kaki disana, setidaknya dalam beberapa tahun ini. Dulu aku rasanya pernah mengunjungi daerah ini, tapi waktu itu aku masih sangat mungil dan masih unyu..hhehe. Aku pun tak ingat persis dimana posisinya, semacam pantai pasir putih yang menawan, itu yang ku ingat.

Bermodal uang Rp 2.500, *OMG! aku bisa menuju Pariaman dari Stasiun Simpang Haru Padang menggunakan kereta api kelas ekonomi. Rute yang cukup panjang dan butuh waktu satu setengah jam untuk mencapai stasiun Pariaman. Meski kereta ekonomi, gerbongnya tetap ber-AC dan nyaman dinaiki. Dua ribu lima ratus saja! Aku cukup kaget dengan harga yang super murah ini bisa mengantarku kesana, bahkan lebih murah dari ongkos naik ojek dari kosanku di balik pagar stasiun sekitar Rp 4.000. hahaha.

Rute Kereta Api dari Stasiun Simpang Haru Padang menuju Stasiun Kota Pariaman memiliki jadwal keberangkatan tersendiri. Aku beruntung ketika itu aku menaiki rute di jadwal pukul 13.00 WIB, dengan ongkos hanya Rp 2.500, sementara jika berangkat pada jam-jam tertentu misalnya, dari stasiun Pariaman pukul 16.00, onkosnya menjadi Rp 10.000 sekali jalan.

Berangkat dari kosan pukul 12.30 menuju stasiun, naik kereta jam 13.00 dengan harga tiket Rp 2.500, turun di stasiun pariaman pukul 14.30, naik ojek menuju RSUD Pariaman dengan ongkos Rp 5.000, (terserah seberapa mau ngasih sebenernya, tapi nggak enak aja kalau ngasih kurang, hehe), aku mendarat di RSUD Kota Pariaman, hanya dengan ongkos Rp 7.500. Murah gak tuh? hehe

Di kota Tabuik, aku mengemban misi akademik. Aku bersama seorang teman alias kakak dapek gadang a.k.a kak Sari yang usianya 4 tahun lebih tua dariku namun angkatannya 1 tahun saja bedanya, hehehehe,), mendapat tugas di RSUD Pariaman selama 2 minggu sebagai dokter muda di bagian bedah. Karena kak Sari memang asli orang Pariaman dan tinggal di Pariaman, dia menginap di rumahnya dan ke RSUD menggunakan scooter, sementara aku menginap di kamar COAS di lantai dua gedung OK rumah sakit itu.. Bermodal uang 300 ribu dan sebuah koper berisi kebutuhan hidup selama 2 minggu, hehe, tentu saja nggak lupa kartu ATM, ckck, aku hidup berkelana di kota Pariaman ini.

Secara umum kami berdua ingin mencari pengalaman, ilmu dan keterampilan disana. Apalagi bagi aku yang masih anak bawang di dunia perkoasan, masih lugu dan polos dengan semangat 45 insya Allah, hehe, berpraktek sebagai dokter disana sungguh exciting. Pagi-pagi sekitar pukul 7.30 kami mem-follow up kondisi pasien bangsal bedah, sesekali menganamnesis dan membantu perawat mengurus keperluan pasien, kemudian dengan setianya kami berdua menemani kak Risha, seorang dokter intership yang lagi jaga di bagian bedah mengurusi resep pasien bedah, kemudian ikut memeriksa pasien di poli bedah, dan sesekali kami ikut ke kamar operasi sewaktu konsulen datang. Waktu itu konsulen alias dr.spesialis bedah (orang paling tinggi kedudukannya di bagian bedah) sedang mengikuti acara nasional dokter bedah se Indonesia di Kalimantan selama 1 minggu pertama, sehingga selama 1 minggu pertama itu tak ada operasi sama sekali kecuali hari Seninnya sebelum beliau berangkat. Secara disini konsulennya ada dua orang, keduanya subhanallah baiiiik banget dan easy going banget, bersahabat dan serasa jadi abang sendiri. hehe, adalah mereka dr. I dan dr.Boy yang keduanya kami panggil uda, Da I dan da Boy.🙂

Meski gak ada operasi alias OK (baca: oka), justru aku lebih senang karena bisa jaga lebih banyak di poli dan di IGD hampir setiap hari. Banyak tindakan yang bisa kami lakukan disana, mulai menerima pasien rawat jalan, pasien gawat darurat seperti pasca kecelakaan, membantu menjahit luka, memasang bidai, memasang infus, ambil darah, pasang NGT, dan seabrek tindakan lainnya yang jarang ku dapatkan saat dinas di IGD RSUP M Djamil karena saking ramainya kami disana. Sekali-sekali aku ikut memeriksa pasien interne dan obgyn. Kalau lagi mood, aku bahkan tidur di ruang perawat IGD . Kalau udah capek sekitar jam 12 malam, aku kembali ke kamar.

Di RSUD Pariaman ini, kami bertemu dengan beberapa dokter intership seperti kak Risha, ada kak Fitri, kak Gistin, kak Ste, bang Robby, bang Rama, bang Cakra, bang Yat, yang semuanya dari FK Unand dan beberapa dokter jaga yang memang kerja di sana seperti kak Tia, kak Hesty dan kak Devi. Semuanya buaaaiikkk bangeettt, merekalah tempat curhat kami selama disana. ckck.. dan satu lagi, perawat-perawat dan petugas disana, sampai satpam, CS, pembawa pasien, supir ambulans, semuanya gokil…hhahaa. Aku sangat dan sangat berhutang budi dan berterima kasih dengan perawat-perawat IGD yang luar biasa, yang sudah mengajarkan begitu banyak hal, da Ad, da Son, kak Rezi, kak Anggi, bang Dicky, bang Andre, bang Syamsul, kak Desi, kak Iwit, bang Busyra, dan bro yang kecil mungil yang selalu jadi bahan bullian kami, da Jun, serta pak satpamnya da doddi, buk CS nya buk rahmah, buk As yang udah nyuciin baju aku selama disana hehehe, dan perawat-perawat di bangsal bedah, pak Bos, da Syaf, dll.. Alhamdulillah ya Allah, aku bisa nongol di sana.

Ini awal yang luar biasa,. Alhamdulillah. Meski dengan percaya diri yang sungguh pas-pasan, apalagi ketika memakai handschoen dan alat-alat bedah lainnya tanganku gemetaran, disana aku belajar untuk lebih percaya diri. Kami dipanggil dokter disana, ketika memakai seragam koas itu, kami benar-benar diperlakukan lebih dan aku merasa sangat terhormat disana. Disana penghargaannya sungguh luar biasa, dan disana aku mulai tersadar bahwa semua ini memang harus dijalani dengan sungguh-sungguh.

Sampai sekarang, aku rindu mereka,.

Ada sebuah moment dimana aku mendapat kesempatan menjahit luka operasi di ruang OK, alhamdulillah kami diberi tindakan oleh da I, tapi lucunya aku selalu kebagian jahit payudara! ckckckcck, dua kali aku dapat kesempatan menjahit, dua-duanya di bagian payudara, sedangkan kak sari selalu pasien cowok yang waktu itu lagi butuh jahit di bagian selangkangan.hahahaha. pasien skin graft inguinal dan hernia scrotalis. Jari-jariku gemetar menjahit luka bekas operasi FAM (fibroadenoma mamae) di payudara, kenapa tidak, aku ditinggal da I di ruang OK dan akulah satu-satunya operator disana. ckckck. Untung ada perawat yang ngebantuin aku menjahit areola mamaenya, aku grogi selangitt… T,T

Moment lain adalah ketika kak Sari ulang tahun, aku mengajaknya makan diluar, hahahaha. Karena gak ada kado yang bisa aku beli, aku cuman tulis sebuah ucapan selamat di kertas satu lembar dengan gambar kue ulang tahun. ckckck.. barakallah kak Sari.

Moment lainnya juga adalah ketika aku dan bang Dedi, teman satu kamarku yang lagi dinas di interne, mengajakku jalan-jalan ke pantai Gondoriah pake motornya, sore-sore menjajaki kuliner dan foto-foto pake DSLR, haha.. cuman sayangnya aku gak sempat minta soft copy fotonya..yahhh..ckck

Kuliner di Pariaman yang terkenal adalah Nasi Sek, nasi putih yang dibungkus daun pisang kecil-kecil, sambalnya kebanyakan disana ada udang goreng, kepiting goreng dan sala lauak piaman. Ampera Piaman pun berjejer di sepanjang pantai Gondoriah. Lain kali aku pengen kesana lagi naik kereta, lumayan bro, murah! cckck

Ada juga momen ketika hendak balik ke Padang, aku dan da Jun keliling kota Pariaman pake motor jam 12 malam buat nyari martabak daging. hahaha.. pengen makan rame-rame di IGD waktu itu.

Di sederetan jalan RSUD Pariaman itu, banyak berjejer warung kuliner, ada minimarket juga, lumayan lengkap disana.Malam-malam kadang kami makan di luar.. Secara aku disini dikasih makan gratis juga dari bagian Gizinya. hehe

Talamak lah ambo di Piaman. Maleh manggarik ka Padang. Kini lah tibo di Padang mulai marasai baliak. cckck, sumangaik se lah.

20130322_225450
IGD RSUD Pariaman
IMG_20130329_183708
Watching the beginning of sunset
IMG_20130330_010558
bersama kakak2 dokter intership dan perawat
(dari kiri ke kanan: da Ad, kak Risha, kak Ste dan kak Anggi.)

2 thoughts on “Episode Perdanaku di Tanah Tabuik

  1. Kayaknya seru sekali, ya, An, penuh kenangan selama di sana.
    Ami juga praktek kerja profesi di Pariaman, tapi selesainya tanggal 15 Maret lalu.
    Sayang, belum sempat nyoba nasi sek😦

    Like

  2. Iya mi, alhamdulillah.. byk kenangan slm disana..
    Nasi sek sama aja kok mi ky nasi biasa, cmn di bungkus pake daun pisang dan mungil2..hhe
    Kbtulan an kmrn dibeliin juga sih, hehe.. sambalnya ikan krenyes2..pake samba lado.. trus ada sala lauak jg..
    Hehe, lain kali klo kesana coba aja..🙂

    Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s