17037_13882_5

Servisitis

Servisitis adalah peradangan pada serviks, yaitu bagian sempit pada ujung dari rahim/ uterus yang terbuka ke arah vagina, yang ditandai dengan adanya eksudat endoserviks yang purulen atau mukopurulen di kanalis endoservikalis atau di spesimen swab endoserviks, dan/atau adanya perdarahan endoserviks yang mudah terjadi apabila kapas swab digoreskan pada os.serviks.

Source: http://www.drugs.com

Secara umum, servisitis dapat terbagi dua:

  1. servisitis non infeksi, dapat disebabkan oleh: trauma lokal (contoh: iritasi serviks yang disebabkan oleh tampon dan alat-alat kontrasepsi), radiasi, iritasi bahan kimia, inflamasi sistemik dan keganasan.
  2. servisitis infeksi, disebabkan terutama oleh organisme yang ditularkan melalui hubungan seksual seperti C trachomatis dan N gonorrhoeae. Etiologi lainnya meliputi Trichomonas vaginalis dan herpes simplex virus (HSV), terutama HSV primer tipe 2.

Faktor risiko servisitis antara lain:

  • multiple sex partner
  • usia muda
  • tinggal di perumahan perkotaan
  • status sosioekonomi yang redah
  • pemakaian alkohol dan obat-obatan terlarang
  • predisposisi genetik

Epidemiologi

CDC memperikarakan lebih dari 19 juta infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual (sexually transmitted infections / STI) terjadi setiap tahun, hampir separohnya terjadi pada usia 15-24 tahun. Penyebab STI yang tersering antara lain Chlamidya dan Gonorrhea.

Gejala Klinis

Servisitis sering asimptomatik pada infeksi gonorrhea, chlamydia dan T vaginalis. Jika menimbulkan gejala, sering tidak khas dan munculannya biasanya berupa discharge  pada vagina, dysuria, sering buang air kecil, dan perdarahan dalam siklus menstruasi atau post koitus. Jika infeksi sudah terjadi dalam waktu lama, gejalanya dapat meliputi nyeri perut bawah atau nyeri punggung bawah.

Infeksi yang disebabkan oleh HSV juga biasanya asimptomatik. Namun episode pertama herpes genital biasanya bergejala dan ditandai dengan ulkus yang nyeri disertai demam, myalgia, sakit kepala dan malaise. Gejala lain yang sering antara lain dysuria, discharge vagina, dan discharge uretra. Namun sebagian besar pasien mengalami gejala prodormal seperti rasa gatal atau kesemutan diikuti adanya vesikel.

Source: http://www.healthcentral.com

Pemeriksaan Fisik

Inspeksi genitalia eksterna, temukan adanya lesi kulit (seperti kutil, ulkus, vesikel, ekskoriasi, eritema), inflamasi kelenjar bartholin atau kelenjar skene, atau limfadenopati inguinal.

Pemeriksaan spekulum, ditemukan adanya sekret vagina yang banyak sekali, berwarna dan kotor. Pemeriksaan pH dapat ditemukan lebih dari 4,5.

Pemeriksaan VT Bimanual dapat ditemukan nyeri gerak serviks/ cervical motion tenderness (yakni jika adanya nyeri saat pemeriksa menggerakkan serviks).

Pemeriksaan penunjang

  • Pemeriksaan spesimen swab endoserviks dan vagina secara mikroskopis, ditemukan peningkatan leukosit PMN
  • Whiff test
  • Nucleic acid amplification testing (NAAT), spesifik untuk gonorhea dan chlamydia
  • Pap Smear
  • IVA (inspeksi visual asam asetat)
  • biopsi

Tatalaksana

  • Pengobatan dengan antibiotik oral untuk infeksi gonorrhea, chlamydia dan T vaginalis seperti ceftriaxon, cefixime dan spectinomycin. Anti-protozoa seperti tinidazol dapat digunakan spesifik untuk infeksi T vaginalis.
  • Anti viral oral digunakan untuk infeksi herpes, seperti acyclovir, famciclovir dan valacyclovir.
  • Terapi topikal sebagai terapi simptomatis untuk mengangkat kutil pada alat kelamin seperti Imiquimod, podofilox, fluorouracil topical dan trichloroacetic acid topical.
  • Pilihan lain: injeksi intralesi dan bedah

Prognosis

Infeksi akibat gonorrhea, chlamydia dan trichomoniasis dapat disembuhkan dengan terapi antibiotik, disamping itu terapi antiviral dapat mengurangi jumlah virus herpes simplex (HSV), durasi gejala, dan keparahan gejala. Kutil pada genitalia eksterna yang disebabkan oleh infeksi HPV dapat dikontrol tapi tidak selalu dapat diatasi dengan terapi topikal dan bedah.

Komplikasi servisitis infeksi yang tidak diobati tergantung pada patogennya. Infeksi gonorrhea dan chlamydia yang tidak diobati dapat menyebabkan Pelvic inflammatory disease (PID) yang kemudian berakibat kepada infertilitas, nyeri pelvic kronis, dan kehamilan ektopik. Penyakit lain yang dapat timbul meliputi aborsi spontan, ruptur membran prematur dan persalinan preterem.

Infeksi HSV pada ibu hamil saat masa perinatal dan neonatal dapat menyebabkan retardasi mental, kebutaan, BBLR, meningitis dan kematian pada janin.

Referensi:

http://emedicine.medscape.com/article/253402-overview

http://www.persify.com/id/perspectives/medical-conditions-diseases/servisitis-_-9510001031173

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001495.htm

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s