1009217-img-spermie

Pemeriksaan Infertilitas: Analisis Semen

Source: http://www.blesk.cz

Pemeriksaan analisis semen (air mani) merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasangan infertilitas. Berdasarkan literatur, 25% penyebab infertilitas adalah pada pihak laki-laki, yakni gangguan pada kualitas spermatozoa. Pemeriksaan tersebut antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut.

Penampungan Sampel

1. Persiapan

  • Penampungan air mani sebaiknya dilakukan di ruangan privat dekat laboratorium, agar mengurangi paparan semen terhadap perubahan suhu dan untuk mengontrol waktu antara penampungan dan analisis. Jika pasien menampung di rumah, maka harus dikirim ke laboratorium segera dalam waktu kurang dari 1 jam, dan dalam suhu 20-37 C.
  • Sampel ditampung setelah abstinensia seksual (tidak mengeluarkan sperma) minimal 2 hari dan maksimal 7 hari.
  • Informasi biodata pasien harus lengkap: nama, tempat tanggal lahir, waktu pengumpulan, dan sebagainya.

2. Penampungan semen

  • Air mani ditampung dengan jalan masturbasi dan diejakulasikan langsung ke dalam botol gelas bersih dan steril yang bermulut lebar, terbuat dari kaca ataupun plastik yang telah dikonfirmasi tidak toksik terhadap spermatozoa.
  • Botol spesimen sebelumnya dijaga dalam suhu lingkungan antara 20 C dan 37 C untuk mencegah perubahan suhu yang besar yang dapat mempengaruhi spermatozoa setelah diejakulasikan ke dalamnya. Kontainer harus dilabel dengan biodata pasien.
  • Botol spesimen diletakkan di tempatnya atau dalam inkubator (37 C) selama semen berlikuefaksi.

3. Analisis mikrobiologi

  • Kontaminasi dari sumber yang berasal dari luar semen (seperti organisme komensal dari kulit) harus dihindari. Selain alat kontainer spesimen harus steril, pasien harus: buang air kecil terlebih dahulu, mencuci tangan dan penis dengan sabun, mencuci bersih sabun yang masih menempel, mengeringkan tangan dan penis dengan handuk, lalu ejakulasikan air mani ke kontainer steril.

Catatan: Waktu antara pengambilan sampel semen dengan mulai pemeriksaan di laboratorium tidak lebih dari 3 jam.

Karakteristik air mani

Hal-hal yang diperiksa dari regimen air mani antara lain sebagai berikut:

1. Koagulasi dan likuefaksi

Koagulasi adalah proses perubahan air mani yang sebelumnya dalam bentuk cair menjadi berbentuk “agar” atau koagulum dengan segera, sedangkan likuefaksi adalah perubahan air mani menjadi cairan yang agak pekat/ tipis dalam 5 – 20 menit agar memungkinkan spermatozoa bergerak dengan leluasa. Proses koagulasi dan likuefaksi ini diatur oleh enzim. Suatu faktor likuefaksi merupakan enzim proteolitik dengan berat molekul 33.000 yang terbukti dapat melikuefaksikan air mani.

WHO 2010: Normal –> waktu likuefaksi: 15 – 60 menit. Jika > 60 menit masih tidak berlikuefaksi, maka dikatakan memanjang (delayed liquefaction).

2. Viskositas

Viskositas sampel dapat diperkirakan dengan mengaspirasi sampel ke dalam sebuah pipet pastik disposable  (dengan diameter lebih kurang 1,5 mm), kemudian membiarkan semen menetes oleh gravitasi dan kemudian mengamati panjang benang yang terbentuk saat menetes. Normalnya sampel menetes dalam tetesan yang kecil, jika viskositasnya abnormal, tetesannya akan membentuk benang lebih dari 2 cm.

Viskositas yang tinggi dapat mengganggu motitlitas sperma, konsentrasi sperma, pendeteksian antibodi-spermatozoa dan marker biokimia pada pemeriksaan semen.

WHO 2010: Normal –> viskositas semen < 2 cm.

3. Rupa dan Bau

Air mani yang baru diejakulasikan rupanya putih-kelabu seperti agar-agar. Setelah berlikuefaksi menjadi cairan, kelihatannya jernih atau keruh, tergantung dari spermatozoa yang dikandungnya. Baunya khas, langu, seperti bau bunga akasia. Tampilannya dapat kurang opak jika konsentrasi sperma sangat rendah, warna juga bisa berbeda, misalnya merah-kecoklatan jika ada sel darah merah (hemospermia), atau kekuningan pada laki-laki yang menderita jaundice atau mengonsumsi beberapa vitamin atau obat-obatan.

WHO 2010: Normal –> warna semen putih-keabu-abuan (grey-opalescent) homogen, bau khas.

4. Volume

Setelah abstinensia selama 3 hari, volume air mani berkisar antara 2,0 – 5,0 ml. Volume kurang dari 1 ml atau lebih dari 5 ml biasanya disertai kadar spermatozoa yang rendah. Jika volume air mani rendah, ia tidak akan cukup menggenangi lendir yang menjulur dari serviks, sehingga dapat menimbulkan masalah infertilitas. Volume semen yang rendah memungkinkan adanya obstruksi pada duktus ejakulatorius atau adanya congenital bilateral absence of the vas deferens (CBAVD), ejakulasi retrograde parsial atau defisiensi androgen.

WHO 2010: Normal –> volume semen > 1,5 ml.

5. pH

Air mani yang baru diejakulasikan pH-nya berkisar antara 7,3 – 7,7, yang bila dibiarkan lebih lama akan meningkat karena penguapan CO2-nya. Jika pH lebih dari 8, hal itu mungkin disebabkan oleh peradangan akut kelenjar atau saluran genital, sedangkan pH yang kurang dari 7,2 mungkin disebabkan oleh peradangan kronis kelenjar tersebut.

Menurut WHO, pemeriksaan pH semen dilakukan setelah terjadinya proses likuefaksi, sekitar 30 menit setelah lukefaksi.

WHO 2010: Normal –>  pH semen > 7,2

NB: pH semen akan meningkan seiring waktu karena buffer alamiahnya berkurang, namun pH yang tinggi hanya memberikan informasi yang bernilai kecil secara klinis.

6. Fruktosa

Fruktosa air mani adalah hasil vesikula seminalis yang menunjukkan adanya rangsangan androgen. Fruktosa terdapat pada semua air mani, kecuali pada:

  • azoospermia, karena tidak terbentuknya kedua vas deferens. Air maninya tidak berkoagulasi segera setelah ejakulasi, karena vesikula seminalisnya pun tidak terbentuk.
  • kedua duktus ejakulatoriusnya menutup.
  • keadaan luar biasa dari ejakulasi retrograd, dimana sebagian kecil ejakulat yang tidak mengandung spermatozoa sempat keluar.

WHO 2010: Normal –> fruktosa > 13 mikromol/ejakulasi

Pemeriksaan Mikroskopis

1. Pemeriksaan awal mikroskopik

Pemeriksaan awal secara mikroskopis memakai mikroskop dengan pembesaran total 100x. Yang dinilai dari pemeriksaan awal antara lain:

  • Aglutinasi, yakni terikatnya spermatozoa motil satu sama lain, baik kepala dengan kepala, ekor dengan ekor atau lain sebagainya. Hal ini akan menyebabkan gerakan spermatozoa yang kacau, tapi kadang-kadang spermatozoa terlalu teraglutinasi sehingga gerakannya terbatas.
  • keberadaan sel-sel selain spermatozoa: seperti sel-sel epitel, leukosit, immature germ cell, dan potongan-potongan kepala atau ekor sperma yang terpisah.

WHO 2010: Normal –> aglutinasi (-), leukosit < 1 juta/ml, immature germ cell (-)

2. Konsentrasi spermatozoa

Menghitung spermatozoa dalam air mani sama caranya dengan menghitung konsentrasi sel darah. Cairan pengencernya ialah laturan George yang mengandung formalin 40%, sehingga spermatozoa menjadi tidak bergerak karenanya. Untuk menghitung kadar spermatozoa yang bergerak, dipakai larutan 0,9 NaCl, yang tidak membunuh spermatozoa yang bergerak. Dengan demikian, yang dihitung hanyalah spermatozoa yang tidak bergerak saja. Selisih antara perhitungan larutan pengencer George dan 0,9 NaCl menghasilkan konsentrasi spermatozoa yang bergerak. Normalnya lebih dari 15 juta sperma/ ml. Semakin rendah konsentrasi spermatozoa, semakin kurang kemungkinan mengamilkannya.

WHO 2010: Normal –> Konsentrasi sperma > 15 juta/ml; Jumlah sperma total > 39 juta/ejakulasi.

3. Motilitas sperma

Setetes air mani ditempatkan pada gelas objek, kemudian ditutup dengan gelas penutup. Presentase spermatozoa motil ditaksir setelah memeriksa 25 lapangan pandang besar. Jenis motilitas spermatozoa dibagi ke dalam skala 0 – 4, yakni sebgai berikut:

0 = gerakan ekor (-), kemajuan (-), arah (-), keccepatan (-)

1 = (+), (-), (-), (-)

1+ = (+), (+), (-), (-)

2 = (+), (+), lika-liku, lambat

2+ = (+), (+), lurus, lambat

3 = (+), (+), lurus, cepat

3+ = (+), (+), lurus, lebih cepat

4 = (+), (+), lurus, sangat cepat

Menurut WHO, Motilitas spermatozoa dikelompokkan menjadi sebagai berikut:

  • Progressive motility (PR): Spermatozoa bergerak bebas, baik lurus maupun lingkaran besar, dalam kecepatan apapun.
  • Non-progressive motility (NP): semua jenis spermatozoa yang tidak memiliki kriteria progresif, seperti berenang dalam lingakran kecil, ekor/ flagel yang sulit menggerakkan kepala, atau hanya ekor saja yang bergerak.
  • Immotility (IM): tidak bergerak sama sekali

WHO 2010: Normal:

– Progressive motility (PR) > 32%

– Total motility > 40%

4. Morfologi Sperma

Pemeriksaan morfologi sperma menggunakan metode sediaan apus semen. kemudian menggunakan pewarnaan papanicolaou, shorr atau diff-quik. Bentuk morfologi sperma normal antara lain sebagai berikut:

  • kepala harus mulus, garis konturnya teratur dan berbentuk oval. Terdapat bagian dinding akrosom menyelimuti 40-70% baigan kepala, tidak mengandung vakuol besar, atau lebih dari 2 vakuol kecil. Bagian di belakang akrosom tidak mengandung vakuol.
  • Leher berbentuk ramping, teratur dan panjangnya sama dengan panjang kepala.
  • Ekor berbentuk seragam sepanjang panjangnya, makin keujung makin menipis dibandingkan bagian leher, dan panjangnya kira-kira 45 mikron (lebih kurang 10 x panjang kepala), dan tidak bengkok.

WHO 2010: Normal–> morfologi sperma normal > 4%.

5. Vitalitas/ viabilitas Sperma

Vitalitas sperma menggambarkan integritas membran sel spermatozoa agar mampu bertahan hidup. Vitalitas sperma diperiksa segera setalah likuefaksi, sekitar 30-1 jam paska ejakulasi untuk mencegah adanya efek penghancuran akibat dehidrasi atau akibat perubahan suhu pada vitalitas. Pemeriksaan menggunakan pewarnaan eosin-nigrosin. Spermatozoa hidup akan terlihat memiliki kepala berwarna putih atau pink terang, sedangkan yang mati berwarna merah atau pink gelap.

WHO 2010: Normal –> vitalitas spermatozoa > 58%.

Kesimpulan Analisis

Rangkuman:

  • Volume semen > 1,5 ml
  • jumlah total sperma > 39 juta/ml ejakulat
  • konsentrasi sperma > 15 juta/ml ejakulat
  • motilitas total > 40%
  • progressive motility > 32%
  • vitalitas (spermatozoa hidup) > 58%
  • morfologi sperma normal >4%
  • pH > 7,2
  • leukosit < 1 juta/ml
  • fruktosa semen > 13 mikromol/ejakulat

Istilah:

  1. aspermia = tidak ada semen (termasuk ejakulasi retrograde)
  2. asthenozoospermia = motilitas spermatozoa dibawah normal
  3. asthenoteratozoosperima = motilitas dan morfologi spermatozoa dibawah normal
  4. azoospermia = tidak ada spermatozoa dalam ejakulat/ semen
  5. cryptozoospermia = spermatozoa sangat sedikit (terlihat hanya pada semen yang telah disentrifugasi)
  6. haemospermia (hematospermia) = adanya eritrosit dalam ejakulat
  7. leukospermia (leukositospermia, pyospermia) = adanya leukosit di semen yang lebih dari normal
  8. necrozoospermia = vitalitas spermatozoa dibawah normal, angka imotil tinggi
  9. normozoosperimia = semuanya normal
  10. oligoasthenozoospermia = jumlah dan motilitas spermatozoa dibawah normal
  11. oligoteratozoospermia = jumlah dan morfologi spermatozoa dibawah normal
  12. oligozoospermia = jumlah spermatozoa dibawah normal
  13. teratozoospermia = morfologi spermatozoa dibawah normal

Wallahu’alam bissawab.

Referensi:

WHO laboratory manual for the Examination and processing of human semen fifth edition, 2010.

William’s Gynecology 2008.

Sarwono, Ilmu kandungan, 2009.

One thought on “Pemeriksaan Infertilitas: Analisis Semen

  1. saya sdh membaca blog ini, dan hampir semuanya sama dengan WHO 2010, yg mau saya tanyakan, utk kriteria “extrim” atau konsentrasi semen < 5 juta/ml ejakulat, apa benar? saya baca di WHO 2010 tidak ada, atau saya yg terlewat membacanya. Sebelumnya terimakasih atas informasinya

    Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s