Sejuta Wajah, Sejuta Ragam

Ada banyak hal yang ku pelajari selama menjadi seorang dokter muda, bertemu dengan banyak wajah, berbicara dan berinteraksi dengan ratusan manusia. Mulai dari anak kecil hingga orang tua, baik pasien, rekan sejawat, perawat, senior hingga konsulen. Mereka semua tentu memiliki sifat yang berbeda-beda, dan tak dapat diperlakukan dengan cara yang sama, dan tak bisa dihadapi dengan jalan yang sama pula.

Dulu ketika awal-awal masuk ke dunia klinik, mungkin aku agak kaku berinteraksi dengan wajah-wajah ini. Soal nyaman dan tidak nyaman, mungkin lebih banyak menggerutu ketika kita harus menemui orang-orang yang tidak nyaman dan sejalan dengan fikiran kita. Mungkin kita lebih senang berinteraksi dengan orang yang menurut kita enak untuk diajak bicara, nyambung ketika bercerita, lebih senang dengan yang baik-baik, yang sopan dan santun. Ya, mungkin itu wajar. Karena tidak semua orang suka diperlakukan buruk, bukan, mungkin memang tidak ada orang yang suka demikian.

Bertemu dengan pasien yang kooperatif, nyaman rasanya diajak ngomong. Tapi ketika bertemu dengan pasien yang cerewet, bahkan tak jarang yang membentak-bentak tanpa alasan yang jelas, hingga main fisik, ya, mungkin akan sangat menyebalkan. Ada lagi beberapa diantara perawat yang suka ngomong sinis dan membentak-bentak gak jelas, meskipun hanya beberapa. Aku sempat muak dan enggan untuk berinteraksi dengan orang-orang seperti ini. Baik itu pasien, perawat-perawat, residen-residen bahkan konsulen yang ‘aku pikir’ memiliki tipe yang tidak kusukai. Tapi, ternyata aku salah.

Aku lantas bercerita pada ayah tentang bagaimana orang-orang yang kuhadapi selama aku di klinik. Dari orang yang sangat baik, hingga sangat memuakkan. Tentu saja kita punya penilaian masing-masing tentang itu. Tapi ayahku berkata, “tentu saja, tidak semua orang itu baik, kita harus pandai menghadapi siapa saja”. Dan aku baru tersadar bahwa tak semua orang itu adalah orang yang baik-baik saja, sungguh banyak mereka yang tak sesuai dengan kemauan kita. Tapi itulah seni seorang dokter, kita harus pandai berkomunikasi dan menghadapi siapapun, siapapun orang nya, seperti apapun tipenya, seburuk apapun perangainya. Itulah seorang dokter. Kan yang penting itu adalah niatnya, dan itulah tantangannya.

Ibuku menambahkan, “nikmati saja, itulah tandanya kita bersyukur”. Ya Allah, aku berpikir kalau aku selama ini terlalu kekanak-kanakan. ckck

Yap, mungkin aku harus belajar lebih dewasa, mandiri dalam menghadapi hidup. Tak selamanya mulus seperti kehendak kita. Ya itu tak mungkin, karena hidup tanpa tantangan mungkin hanya akan terasa mono. ‘cie ela..ckck

Karena itulah, sejuta wajah yang akan kita temui, maka sejuta pula ragamnya. Tentu saja, cara menghadapinya juga beragam. Seperti pepatah kakek, “mangecek manuruik aka urang”. Maka dewasalah sedikit.🙂 Wallahu’alam.

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s