Sumber: http://sehatmanfaat.com/

Stress itu Ternyata Penting

Kalau ditanya, apakah kamu mau hidup stress? Mungkin sebagian orang akan menjawab ‘tentu saja tidak’. Yap, mungkin saja. Padahal, tanpanya kita tak akan bisa bertahan hidup.

Kemarin Kamis, aku dan Rido temanku berkesempatan menampilkan sebuah makalah ilmiah dalam kegiatan meet the expert bersama sejawat-sejawat dokter muda dan dibimbing oleh sang dokter guru kami, seorang spesialis kedokteran jiwa. Makalah dengan judul yang nyentrik dan populer menurutku, yakni Stress pada Caleg. Hehe. Ya begitulah bunyi makalah ilmiah kami.

Stress pada caleg, tentunya berisi berbagai macam teori mengenai apa itu stress, apa itu caleg dan bagaimana sih sebenarnya fenomena stress pada caleg terutama menjelang pemilu legislatif, dan bagaimana mereka bereaksi terhadap hasil pemilu, terutama kegagalan saat pemilu. Ada yang mengalami gangguan mental, ada juga yang biasa-biasa saja. Hal ini memang tergantung dari bagaimana sang caleg merespon stresor yang ada dengan mekanisme koping yang berbeda-beda pula pada setiap caleg. Namun ya..ketika mekanisme koping terhadap stresor tersebut tidak adekuat, maka jatuhlah ia kedalam sesuatu yang dikatakan dengan stress patologis, yang dapat menyebabkan gangguan kejiwaan.

Kalau ditanya, apakah kamu mau hidup stress? Mungkin sebagian orang akan menjawab ‘tentu saja tidak’. Yap, mungkin saja. Padahal, tanpanya kita tak akan bisa bertahan hidup. Why not?

Sebenarnya setiap hari kita hidup ditengah berbagai stresor. Baik dari bangun tidur, hingga tidur lagi. Bahkan ketika tidur pun tak jarang stresor itu masih ada, misalkan saja itu berupa mimpi buruk, bencana yang tiba-tiba, dan yang lainnya. Pada saat bangun pagi, misalnya, kita biasanya selalu ke kamar mandi terlebih dahulu, namun kira-kira ketika ada orang di dalam kamar mandi itu, kita mungkin akan mengalami stress, namun ketika orang itu keluar dan hajat kita selesai sudah, stress itu perlahan hilang dan berganti dengan perasaan lega. Belum lagi stress ketika terlambat kuliah, terlambat kerja, macet di jalan, stress ketika ujian, stress dimarah-marahin konsulen dan lain sebagainya, hehe, tapi tetap saja seusai itu ada masa dimana stress dalam jiwa kita perlahan mereda. Jika digambarkan dalam suatu kurva, maka akan terbentuk kurva yang turun naik seperti gelombang. Itulah yang disebut dengan stress fisiologis. Stress yang dibutuhkan oleh manusia untuk semakin berkembang, semakin dewasa. And it’s normal.

Bahkan stress itu juga dapat dijadikan suatu hal untuk kesenangan bahkan rekreasi. Misalnya saja, saat nonton bola, tim kesayangan kita dalam posisi bahaya, kita ikut-ikutan stress. Namun tetap saja meski kita stress, kita tetap ingin menontonnya. Contoh lain misalnya olahraga ekstrim, terjun payung segala macam, yang benar-benar mengocok adrenalin. Stress memang, tapi itu menyenangkan bagi beberapa orang. Termasuk mungkin di arena permainan seperti dufan yang ada di Jakarta itu. hha

Jadi, memang sekali lagi gak ada yang sia-sia Allah menciptakan sesuatu. Ia ciptakan stress agar manusia ini bisa belajar lebih berkembang dan lebih dewasa. Orang yang hidupnya adem ayem saja dan jarang menghadapi stresor, maka suatu saat perkembangannya akan terganggu. Semisal anak kecil yang merengek ketika tak dibelikan mainan.

Dalam dunia perkembangan kepribadian, kita mengenal ada yang namanya Id, Ego dan Super ego. Menurut literatur yang saya baca, Id itu adalah sesuatu yang sifatnya menyenangkan, benar-benar merupakan kehendak untuk memuaskan diri, yang cendrung terhadap kesenangan. Id ini muncul sejak usia kanak-kanak dan akan bertahan selamanya. Seiring perkembangan usia, akan muncul yang namanya Ego, yaitu sesuatu yang bersifat pengontrol Id, dimana ia merupakan pelaksana atau eksekutor, dialah yang akan menilai dunia luar, menilai realita, dan ia akan menahan kehendak Id agar tidak melanggar nilai super Ego. Apa itu super ego? Super ego adalah bagian moral dari kepribadian, yang menyensor apakah ini baik atau buruk, benar atau salah, boleh atau tidak boleh dilakukan, dimana super ego ini ditanamkan oleh ajaran-ajaran dari orang tua dan lingkungan tempat manusia tumbuh dan berkembang. Nah, disinilah peranan stress. Ketika stress fisiologis itu tak adekuat, tentu saja ego dan super egonya tak pula berkembang dengan adekuat, sehingga Id nya tidak terkontrol, dan responnya terhadap stress akan lebih buruk.

So now, kita tahu bahwa ternyata stress itu amat penting untuk kehidupan kita. Tanpanya kita tak bisa berpikir dewasa, tak mampu menghadapi realita hidup, dan tak mampu berkembang. Jadi, ungkapan bahwa kurangi stress itu ternyata tidak tepat. Ckck.

Maka, sekarang hadapilah setiap masalah yang mendera dengan sebaik-baiknya. Ketika kita meniatkan sesuatu dengan benar, berproses dengan benar dan menanggapi segala sesuatu dengan benar, insya Allah semuanya itu tidak lain hanyalah sebuah stresor (ujian) dari Allah untuk kita hamba-Nya untuk menjadi lebih baik, karena Allah berjanji, bahwa “Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.” (Qur’an Surah al-Mukminun: 62) Bener gak? ^_^

Yap, itulah sedikit ‘pengejawantahan’ materi yang disampaikan oleh sang konsulen pada kami Kamis yang lalu. Jujur aku agak excited dengan materinya, semoga bermanfaat.

2 thoughts on “Stress itu Ternyata Penting

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s