Indonesia Mau Dibawa Kemana

Usai sudah Pemilu Legislatif digelar Rabu yang lalu, dan prediksi partai politik pemenang Pemilu pun sudah dirilis oleh beberapa media berdasarkan hasil hitung cepat atau quick count. Ya, partai banteng moncong putih, PDI-P pun didaulat menjadi pemenang pemilu versi quick count di beberapa media, diikuti golkar, gerindra, demokrat, PAN, PKB, PKS, NasDem, PPP dan Hanura. Mungkin hasil ini merupakan angin segar bagi beberapa pihak, dan mungkin juga tidak bagi segelintir masyarakat. Nama calon presiden mulai dari Prabowo, Jokowi, Abu Rizal Bakri dan Wiranto pun santer terdengar. Meski tidak terlalu update tentang peta perpolitikan di negeri ini, saya tetap cukup menaruh perhatian tentang masalah ini meskipun hanya iseng membaca artikel dan berita tentang politik di sela-sela jadwal akademik.

Diluar dari pada itu, sebagai anak bangsa yang juga ingin memberikan opini tentang politik yang mengendalikan negeri ini, entah kenapa ada setitik rasa antara ketidakpuasan, kekecewaan, atau mungkin bisa dibilang kepiluan dengan politik yang sedang berjalan di negeri ini. Mulai dari lapisan tertinggi, para pejabat yang duduk di Senanyan itu, hingga masyarakat di level terbawah, sungguh pelik dan menyedihkan. Misalnya saja saya ambil contoh, adanya indikasi kecurangan Pemilu 2014 kemarin, entah itu namanya politik uang, serangan fajar, atau aksi mencoblos masal partai tertentu yang diiming-imingi uang, atau bahkan kertas suara yang sudah dicoblos dengan sengaja sebelum pemilu.

JAKARTA – Kelompok Kerja Nasional (Pokjanas) Gerakan Sejuta Relawan Pengawas Pemilu (GSRPP) menemukan surat suara di 14 tempat pemungutan suara (TPS) di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, telah tercoblos. Anehnya, kertas suara yang sudah tercoblos itu di bagian PDIP.

“Itu surat suaranya sudah tercoblos semua untuk Partai Demokrasi Indonsia Perjuangan(PDIP). Karena itu proses pemilihan di sana tidak diteruskan,” ujar anggota GSRPP, Toto Supriyanto di gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (9/4) petang.

Video ini lebih mengejutkan.

Ya, semuanya menjadi halal demi kekuasaan. Itulah konsep politik di Indonesia hari ini. Masih adakah mereka yang dari hati yang tulus ikhlas berjuang untuk masyarakat ini? Kita rakyat di bawah memang suka diperbodoh-bodohi. Masyarakat yang kurang pendidikan dengan mudahnya dikendalikan demi uang sekian lembar, dengan mudah dihasut hanya dengan iming-iming harta benda. Mereka yang berhati bejat dan memiliki cara yang bejat itukah yang menang dalam Pemilu? Saya tidak rela jika itulah yang terjadi!

Sembari melihat carut marut dunia politik yang tidak kenal halal dan haram itu, saya kemudian berpikir, kapan Indonesia ini akan berubah jika kejujuran itu masih menjadi barang langka? Hari ini adalah hari dimana penguasa tamak sedang berkuasa, hari ini adalah hari dimana orang pendusta mendapat tahta, hari ini adalah hari dimana orang jujur dianggap hina! Siapa yang salah?

Kenyataan memang demikian adanya. Indonesia saat ini sedang dilanda krisis moral, orang jujur pun bahkan bisa jadi terpaksa berdusta karena dusta adalah cara satu-satunya untuk bertahan. Mungkinkah kalimat saya barusan itu benar? Semoga tidak.

Mari kita refleksikan pada diri sendiri, sudahkah saya jujur selama ini? Astaghfirullah. Minta ampun kepada Allah, semoga kita diluruskan dari hal-hal kebohongan, ketidakjujuran, sekecil apapun itu. Karena kebohongan besar itu asalnya adalah dari kebohongan-kebohongan kecil yang biasa kita lakukan dari hari ke hari, dan lama-lama itulah yang menjadi kebiasaan, bahkan itulah yang menjadi budaya, bahkan jati diri. Mudah-mudahan kita bukan menjadi bangsa “Psikopat” yang tidak merasa berdosa sama sekali atas kesalahan besar yang kita lakukan. Boleh jadi hal itu adalah kesalahan kecil dimana manusia, siapa tahu hal itu adalah sebaliknya dimata Allah subhanallahu wa ta’ala. Naudzubillah, tsumma naduzubillah.

“Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan ke surga. Senantiasa seseorang berlaku jujur dan berusaha untuk selalu jujur hingga ia dicatat oleh Allah sebagai shiddiq (orang amat jujur). Sesungguhnya kedustaan akan mengantarkan kepada kedurhakaan (dosa), dan sesungguhnya kedurhakaan akan mengantarkan ke neraka. Senantiasalah seorang hamba berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta hingga ia dicatat oleh Allah sebagai pendusta”. [HR. Al-Bukhoriy (no. 6094), dan Muslim (no. 2607)]

2 thoughts on “Indonesia Mau Dibawa Kemana

  1. Awalnya dari hal kecil, tidak terasa terbawa hingga dewasa. Awalnya bohong kepada teman, guru, orang tua, tidak terasa, kini membohongi rakyat rasanya biasa saja.
    Semoga kejujuran bukan jadi barang asing lagi di negeri ini🙂

    Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s