Edisi Jiwa, Edisi Pendewasaan

Ingin kembali menuliskan cerita disini, cerita yang telah dilalui setelah sebulan penuh mengisi aktivitas di siklus psikiatri alias Jiwa. Yap, siklus yang mistis banget. hehe.. Mistis dari segala hal, dan ia bak oase ditengah gurun pasir siklus-siklus pembunuh massal, haha, interne-neuro-anak. Alhamdulillah jiwa berada diantara mereka, siklus yang mistis. ckck

Jiwa merupakan edisi yang spesial banget mungkin, terutama untuk mempelajari diri sendiri, mempelajari orang lain, memahami satu sama lain. Meski disuguhi dengan puluhan diagnosis jiwa, lengkap dengan kode-kode di setiap diagnosisnya, sebutlah gangguan mental organik, gangguan afektif, gangguan skizofrenia, dan lain sebagainya, tetap saja ada hal penting di luar itu yang ku temukan disana. Dan itu mistis. hehe

Dan inilah hal-hal penting yang ku pelajari dari siklus jiwa..

Pertama, empati. Mungkin sebagian orang menganggap orang yang gila atau sakit jiwa itu orang yang hina, terbuang, terpinggirkan, menjadi sampah untuk masyarakat, tidak berguna, dan sebagainya. Ya, mungkin aku salah satu diantara mereka yang berpikiran sama waktu itu. Tapi ternyata aku salah. Justru mereka telah mengajari banyak hal tentang hidup. Bagaimana mereka menghadapi sulitnya hidup ditengah kemiskinan, hidup ditengah pertikaian, hidup ditengah himpitan beban yang memang luar biasa, dan itu semua membuatku tertegun dengan hidup yang kujalani saat ini. Rasanya terlalu naif jika kita tidak bersyukur dengan fisik dan pikiran kita yang masih jernih dan dapat digunakan seperti hari ini, dan sekali lagi mereka telah mengajarkan bagaimana arti mensyukuri setiap hidup yang kita jalani.

Kedua, ketegaran. Ya, ini juga berkesan. Diteriaki oleh guru sendiri sebagai anak yang bodoh dan pemalas dan diusir dari kelas, dipukuli tangannya dengan bulpen, diteriaki habis-habisan di depan pasien, hanya ada di siklus ini. -mungkin,hhu- Dan aku adalah orang “beruntung” yang mendapatkannya. Kalimat dan perlakuan itu rasanya masih terngiang-ngiang di telinga. Harus beradaptasi dengan ‘disiplin ala konsulen jiwa’ memang dirasa berbeda. Apa yang harus ku lakukan? Mesti cry cry bombay? No way! Dan itulah tantangan yang ku dapati saat di Jiwa, dan ia semacam spirit booster -mestinya.

Ketiga, muhasabah. Ya, inilah edisi jiwa yang termelankolis selama koas. Hhaha. Materi-materi tentang jiwa yang membahas kepribadian, emosi, cara berpikir, mood, alam perasaan, itu semua adalah makanan di jiwa. Sungguh pelajaran banget buat direfleksikan ke diri sendiri dan menjadi ajang muhasabah banget. Belajar mengenali diri sendiri, belajar berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain, memahami perasaan orang lain, mengenali tipe dan watak orang lain, that’s it. Dan siklus ini cukup membantuku melakukan semua itu. Insya Allah.

Keempat, pendewasaan. Edisi jiwa, edisi pendewasaan. Pendewasaan karakter, pendewasaan pikiran, pendewasaan tindakan. Dan aku menyadari bahwa pendewasaan itu akan mutlak harus dilakukan, hari demi hari, tahap demi tahap, bukan dalam sekejap. Setidaknya jiwa mengantarkanku ke arah sana. Menghadapi setiap masalah dengan kepala dingin, melewati ujian dengan lapang dada, berjuang mencapai hasil dengan sekuat tenaga. Hal itu ku setidaknya ku alami selama di siklus jiwa, saat menghadapi konsulen, menghadapi pasien jiwa, home visit, membagi jadwal, hingga menghadapi ujian akhir.

Itulah edisi jiwa. Meski ia semacam oase di tengah gurun pasir, namun tetap saja oase yang penuh misteri. Oase dnegan gurun yang semakin lama semakin menerjal. Wallahu’alam bissawaab, yang jelas sudah berusaha, semoga Allah memberikan hasil yang terbaik. Amin..

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s