Refleksi

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Kalimat-kalimat itulah yang membuat mata ini, akhir-akhir ini berpendar. Ketika merasa berbeda, meskipun perbedaan itu tak lazim. Entah mengapa, belakangan ini Allah benar-benar membelalakkan mata ini, melihat sisi lain dari kelemahan-kelemahan diri yang justru Allah tutupi.

Ketika seseorang menganggapmu lemah, bersyukurlah karena masih ada yang melihatmu. Bahkan lemahnya diri ini jauh sangat lemah dibandingkan apa yang ia sampaikan. Ketika seseorang menyepelekanmu akan urusan-urusannya, tetaplah bersyukur karena sesungguhnya diri ini memang jauh lebih sepele dibandingkan apa yang mereka pikirkan. Ketika orang-orang menertawakanmu, entah itu penampilanmu, pribadimu, akhlakmu, perkataanmu, perbuatanmu,.. bersyukurlah, karena sesungguhnya apa yang mereka tertawakan itu tidaklah sejelek apa yang sebenarnya mereka tertawakan. Dan aku bersyukur, meskipun kadang hanya bisa tersenyum melihat kenyataan.

Ya Allah, aku hanya teringat dengan paman nabi Shalallahu’alaihi wassalam, Hamzah bin Abdul muthalib. Dia begitu pemberani, lantang dengan musuh-Mu, tak ragu menebas dengan pedangnya di jalan-Mu. Singa padang pasir. Kuat, dan ia teramat sangat cinta kepada-Mu dan kekasih-Mu Muhammad saw. Aku juga terpana akan Umar bin Khattab, yang begitu ditakuti oleh musuh-Mu, bahkan para syaitan. Disegani dan dikenang sepanjang zaman, hingga ketika itu Rasulullah pun berharap Ia menjadi bagian Islam. Aku pun kagum dengan Ali bin Abi Thalib, dia begitu kesatria dan cerdas. Berani mempertaruhkan segala-galanya untuk membela agama-Mu.. Sungguh, aku malu dengan diriku sendiri. Seandainya aku bertemu Rasulullah, aku khawatir beliau tak mau menoleh padaku barang sedikit saja.

Hanya ini yang bisa kulakukan. Berdoa agar diberi kesabaran dalam menerima cobaan, meminta pundak yang kuat untuk memikul berapapun beban, memohon hati yang jernih untuk melihat lebih dalam. Merima segala caci dan makian, dan membalasnya dengan senyuman. Insya Allah aku akan tetap menjadi diriku sendiri, dan tentu saja aku akan berusaha memperbaiki diriku ini. Bersyukurlah dengan apa yang Allah beri kepadamu, kuatlah dengan segala yang kau punya dan berdirilah segenap kemampuanmu. Yakinlah suatu saat kau juga akan berguna bagi agama ini, meskipun hanya setetes air di tengah alam semesta. Itu sudah lebih dari cukup, daripada tidak sama sekali. Insya Allah.

Semoga dipertemukan denganmu Ramadhan. Semoga Ramadhan ini penuh hidayah, penuh hikmah, penuh berkah. Amin.

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s