Rinosinusitis

A. ANATOMI FISIOLOGI HIDUNG DAN SINUS PARANASAL

1. HIDUNG

Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah: 1) pangkal hidung (bridge), 2) batang hidung (dorsum nasi), 3) puncak hidung (tip), 4) ala nasi, 5) kolumela dan 6) lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubah hidung. Kerangka tulang terdiri dari 1) tulang hidung (os nasal), 2) prosesus frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os frontal; sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu 1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior, 2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago alar mayor) dan 3) tepi anterior kartilago septum.1


Gambar 1. Anatomi hidung

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring. Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat di belakang nares anterior disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise.1

Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior dan superior. Dinding medial hidung adalah septum nasi yang dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Septum dilapisi oleh perikondirum pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi oleh mukosa hidung. Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka, yaitu konka inferior yang terbesar dan letaknya paling bawah, kemudian konka media, konka superior dan yang terkecil yaitu konka suprema yang biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid.1

Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu inferior, medius dan superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis. Meatus medius terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus medius terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.1


Gambar 2. Anatomi Kavum Nasi

    Batas rongga hidung antara lain: 1

  • Inferior: dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum
  • Superior: atap hidung yang sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribiformis yang memisahkan rongga tengkorak dari rungga hidung. Lamina kribiformis merupakan lempeng tulang berasal dari os etmoid yang berlubang-lubang tempat masukna serabut-serabut saraf olfaktorius.
  • Posterior: atap rongga hidung yang dibentuk oleh os sfenoid

Kompleks Ostiomeatal (KOM)

Kompleks ostiomeatal (KOM) merupakan celah pada dinding lateral hidung yang dibatasi oleh konka media dan lamina papirasea. Struktur anatomi penting yang membentuk KOM adalah prosesus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula etmoid, agger nasi dan resesus frontal. KOM merupakan unit fungsional yang merupakan tempat ventilasi dan drainase dari sinus-sinus yang letaknya di anterior yaitu sinus maksila, etmoid anterior dan frontal. Jika terjadi obstruksi pada celah yang sempit ini, maka akan terjadi perubahan patologis yang signifikan pada sinus-sinus yang terkait.1


Gambar 3. Kompleks Ostiomeatal

2. SINUS PARANASAL

Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit dideskripsikan karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung.2

Sinus disusun oleh mukosa bersilia dan palut lendir di atasnya. Di dalam sinus silia bergerak secara teratur untuk mengalirkan lendir menuju ostium alamiahnya mengikuti jalur-jalur yang sudah tertentu polanya. Lendir yang berasal dari kelompok sinus anterior yang bergabung di infundibulum etmoid dialirkan ke nasofaring di depan muara tuba Eustachius, sedangkan lendir yang berasal dari kelompok sinus posterior bergabung di resesus sfenoetmoidalis, dialirkan ke nasofaring di postero-superior muara tuba. Inilah sebabnya pada sinusitis didapati sekret pasca-nasal (post nasal drip), tetapi belum tentu ada sekret di rongga hidung.2

Fungsi sinus paranasal belum diketahui secara pasti, beberapa teori yang dikemukakan antara lain sebagai pengatur kondisi udara, penahan suhu, membantu keseimbangan kepala, membantu resonansi suara, peredam perubahan tekanan udara dan membantu produksi mukus untuk membersihkan rongga hidung.2


Gambar 4. Anatomi Sinus Paranasal

B. DEFINISI

Rinosinusitis adalah inflamasi pada hidung dan sinus paranasal yang ditandai dengan adanya sumbatan/ obstruksi/ kongesti pada hidung, sekret hidung, nyeri/tekanan pada wajah, dan/atau penurunan atau hilangnya penciuman. Karena sinusitis biasanya disertai dengan rinitis dan kejadian sinusitis yang berdiri sendiri sangat jarang, maka terminologi yang tepat untuk digunakan saat ini adalah rinosinusitis. Rinosinusitis dapat dibedakan menjadi akut dan kronis. Rinosinositis akut didefinisikan sebagai rinosinusitis yang berlangsung kurang dari 12 minggu, dengan resolusi gejala yang komplit dan biasanya disebabkan oleh virus, kadang-kadang bakteri. Rinosinusitis akut biasanya memiliki gejala yang lebih berat dan lebih berisiko mengalami komplikasi. Sementara itu, rinosinusitis kronik didefinisikan sebagai rinosinusitis yang berlangsung lebih dari 12 minggu, tanpa resolusi komplit dari gejalanya, dan dapat berujung kepada obstruksi persisten dari kompleks ostiomeatal.3 Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai sinus paranasal disebut pansinusitis.4

C. EPIDEMIOLOGI

Rinosinusitis merupakan penyakit yang sering terjadi dan memiliki efek yang signifikan pada kualitas hidup dan kebutuhan perawatan kesehatan. Di Kanada, 2,89 juta orang menderita rinosinusitis pada tahun 2006, dengan perkiraan 2/3 untuk rinosinusitis akut, dan 1/3 untuk rinosinusitis kronik. Di Amerika Serikat pada tahun 2007, rinosinusitis akut dialami oleh 26 juta orang dan menyebabkan 12,9 juta kunjungan ke rumah sakit. Prevalensinya berkisar antara 5% dari seluruh populasi. Prevalensi ini lebih tinggi ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki (5,7% : 3,4% untuk orang berusia >12 tahun) dan meningkat seiring usia. Rinosinusitis akut berhubungan dengan merokok, sosial ekonomi rendah, riwayat alergi, asma dan PPOK.5

D. ETIOLOGI

Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA akibat virus, bermacam rinitis terutama rinitis alergi, rinitis hormonal pada wanita hamil, polip hidung, kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka, sumbatan kompleks ostiomeatal, infeksi tonsil, infeksi gigi, kelainan imunologik, diskinesia silia seperti pada sindrom Kartagenener, dan di luar negeri adalah penyakit fibrosis kistik. Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab sinusitis sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk menghilangkan sumbatan dan menyembuhkan rinosinusitisnya. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah lingkungan berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok. Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia.4

 

E. PATOFISIOLOGI

Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens mukosiliar didalam KOM. Mukus juga mengandung substansi antimikroba dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan.6

Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang berdekatan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini bisa dianggap sebagai rinositis non-bakterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan.6

Bila kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan media yang baik untuk tumbuhnya dan multipikasi bakteri. Sekret menjadi purulen. Keadaan ini disebut sebagai rinosinusitis akut bakterial dan memerlukan terapi antibiotik. Jika terapi tidak berhasil (misalnya karena ada faktor predisposisi), inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau pembengkakan polip dan kista.6

Menurut berbagai penelitian, bakteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut adalah Streptococcus pneumonia (30-50%), Hemophylus influenzae (20-40%) dan Moraxella catarrhalis (4%). Pada anak, M. Catarrhalis lebih banyak ditemukan (20%). Pada sinusitis kronik, faktor predisposisi lebih berperan, tetapi umumya bakteri yang ada lebih condong ke arah bakteri negatif gram dan anaerob.4

Rinosinusitis dan Polip Nasi

Polip nasi dapat timbul pada hidung yang tidak terinfeksi kemudian menyebabkan sumbatan yang mengakibatkan rinosinusitis, tetapi dapat juga timbul setelah ada rinosinusitis kronis.6

Pada patofisiologi sinusitis, permukaan mukosa ditempat yang sempit di komplek osteomeatal sangat berdekatan dan jika mengalami oedem, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan drainase dan ventilasi dari sinus maksila dan sinus frontal, sehingga akibatnya aktifitas silia terganggu dan terjadi genangan lendir sahingga lendir menjadi lebih kental dan merupakan media yang baik untuk tumbuh bakteri patogen. Bila sumbatan berlangsung terus maka akan terjadi hipoksia dan retensi lendir sehingga bakteri anaerob pun akan berkembang biak. Bakteri juga memproduksi toksin yang akan merusak silia. Selanjutnya dapat terjadi perubahan jaringan menjadi hipertofi, polipoid atau terbentuk polip dan kista.6

F. MANIFESTASI KLINIS

Keluhan utama rinosinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai nyeri/ rasa tekanan pada muka dan ingus purulen, yang seringkali turun ke tenggorok (post nasal drip). Dapat disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu.4

Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena merupakan ciri khas sinusitis akut, serta kadang-kadang nyeri juga terasa di tempat lain (reffered pain). Nyeri pipi menandakan sinusitis maksila, nyeri di antara atau di belakang kedua bola mata menandakan sinusitis etmoid, nyeri di dahi atau seluruh kepala menandakan sinusitis frontal. Pada sinusitis sfenoid, nyeri dirasakan di verteks, oksipital, belakang bola mata dan daerah mastoid. Pada sinusitis maksila kadang-kadang ada nyeri alih ke gigi dan telinga. 4

Gejala lain adalah sakit kepala, hiposmia/ anosmia, halitosis, post-nasal drip yang menyebabkan batuk dan sesak pada anak. 4

Keluhan sinusitis kronik tidak khas sehingga sulit didiagnosis. Kadang-kadang hanya 1 atau 2 dari gejala-gejala di bawah ini yaitu sakit kepala kronik, post nasal drip, batuk kronik, gangguan tenggorok, gangguan telinga akibat sumbatan kronik muara tuba Eustachius, gangguan ke paru seperti bronitis (sino-bronkitis), bronkiektasis dan yang penting adalah serangan asma yang meningkat dan sulit diobati. Pada anak, mukopus yang tertelan dapat menyebabkan gastroenteritis.4

Pada rinosinusitis yang disertai polip nasi, gejala primer adalah hidung tersumbat, terasa ada masa dalm hidung, sukar mengeluarkan ingus dan hiposmia atau anosmia. Gejala sekunder termasuk post nasal drip, rinore, nyeri wajah, sakit kepala, telinga terasa penuh, mengorok, gangguan tidur dan penurunan prestasi kerja.6

 

G. DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior, pemeriksaan naso-endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas ialah adanya pus di meatus medius (pada sinusitis maksila dan etmoid anterior dan frontal) atau di meatus superior (pada sinusitis etmoid posterior dan sfenoid). Pada rinosinusitis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan dan kemerahan di daerah kantus medius4

Rinosinusitis yang disertai polip biasanya terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior. Polip yang sangat besar dapat mendesak dinding rongga hidung sehingga menyebabkan deformitas wajah (hidung mekar). Polip kecil yang berada di celah meatus medius sering tidak terdeteksi pada rinoskopi anterior dan baru terlihat pada nasoendoskopi.6

Pemeriksaan pembantu yang penting adalah foto polos atau CT-scan. Foto polos posisi Waters, PA dan lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus besar seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat perselubungan, batas udara-cairan (air fluid level) atau penebalan mukosa.4

CT scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu menilai anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya. 4 Pada pemeriksaan CT-scan akan terlihat bagaimana sel-sel ethmoid dan kompleks ostio-meatal tempat biasanya polip tumbuh. CT scan perlu dilakukan bila ada polip unilateral, bila tidak membaik dengan pengobatan konservatif selama 4-6 minggu, bila akan dilakukan operasi BESF dan bila ada kecurigaan komplikasi sinusitis.6

Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan ini sudah jarang digunakan karena sangat terbatas kegunaannya. 4

Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil sekret dari meatus medius/ superior, untuk mendapat antibiotik yang tepat guna. Lebih baik lagi bila diambil sekret yang keluar dari pungsi sinus maksila. 4

Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi. 4


Gambar 5. CT Scan pada polip nasi

Pemeriksaan lain yang mungkin perlu dilakukan adalah tes alergi pada pasien yang diduga atopi, biopsi bila ada kecurigaan keganasan dan kultur polip nasi.4

Beratnya Penyakit7

Derajat rinosinusitis dapat ditentukan berdasarkan skor total visual analogue scale (VAS) dengan menanyakan seberapa besar gangguan dari gejala rinosinusitis pasien terhadap kegiatan sehari-hari yang diukur dengan skor 0 – 10. Derajat rinosinusitis diinterpretasikan sebagai berikut:

  • Ringan = VAS 0-3
  • Sedang = VAS >3-7
  • Berat = VAS >7-10

Nilai VAS > 5 mempengaruhi kualitas hidup pasien.

Kriteria diagnosis rinosinusitis antara lain:7

1. Rinosinusitis akut pada dewasa

  • Diagnosis: Berdasarkan gejala, pemeriksaan radiologis tidak diperlukan (foto polos sinus paranasal tidak direkomendasikan).
  • Gejala kurang dari 12 minggu:
    • Onset tiba-tiba dari dua atau lebih gejala, salah satunya termasuk hidung tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau pilek (sekret hidung anterior/ posterior):

      ± nyeri wajah/ rasa tertekan di wajah

      ± penurunan/ hilangnya penghidu

    • dengan interval bebas gejala bila terjadi rekurensi
    • dengan validasi anamnesis tentang gejala alergi, seperti bersin, ingus encer seperti air, hidung gatal dan mata gatal serta berair.
  • Common cold/ rinosinusitis viral akut didefinisikan sebagai: Lamanya gejala < 10 hari
  • Rinosinusitis non-viral akut didefinisikan sebagai: Perburukan gejala setelah 5 hari atau gejala menetap setelah 10 hari dengan lama sakit < 12 minggu.

2. Rinosinusitis kronik pada dewasa

  • Gejala lebih dari 12 minggu
    • Terdapat dua atau lebih gejala, salah satunya harus berupa hidung tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau pilek (sekret hidung anterior/ posterior):

      ± nyeri wajah/ rasa tertekan di wajah

      ± penurunan/ hilangnya penghidu

    • dengan validasi anamnesis tentang gejala alergi, ingus seperti air, hidung gatal, mata gatal dan berair, jika positif ada, seharusnya dilakukan pemeriksaan alergi. (Foto polos sinus paranasal/ tomografi komputer tidak direkomendasikan)

3. Rinosinusitis akut pada anak

  • Gejala: Onset tiba-tiba dari dua atau lebih gejala, salah satunya termasuk hidung tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau pilek (sekret hidung anterior/ posterior):
    • ± nyeri wajah/ rasa tertekan di wajah
    • ± penurunan/ hilangnya penghidu
  • Pemeriksaan (jika dapat dilakukan)
    • pemeriksaan rongga hidung: edema, hiperemis, pus
    • pemeriksaan mulut: post nasal drip
    • singkirkan infeksi gigi geligi
  • Pemeriksaan THT termasuk nasoendoskopi
  • Pencitraan: (foto polos sinus paranasal tidak disarankan)
  • Tomografi komputer juga tidak disarankan kecuali pada keadaan di bawah ini:
    • penyakit parah
    • pasien imunokompromais
    • tanda komplikasi berat (orbita & intrakranial)

4. Rinosinusitis akut pada anak

  • Gejala selama lebih dari 12 minggu
    • Terdapat dua atau lebih gejala, salah satunya harus berupa hidung tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau pilek (sekret hidung anterior/ posterior):

      ± nyeri wajah/ rasa tertekan di wajah

      ±penurunan/ hilangnya penghidu

  • Informasi diagnostik tambahan
    • pertanyaan tentang alergi harus ditambahkan, tes alergi harus dilakukan
    • faktor predisposisi lain harus dipertimbangkan: defisiensi imun (dapatan, innate, GERD)
  • Pemeriksaan
    • pemeriksaan rongga hidung: edema, hiperemis, pus
    • pemeriksaan mulut: post nasal drip
    • singkirkan infeksi gigi geligi
  • Pemeriksaan THT termasuk nasoendoskopi
  • Pencitraan: (foto polos sinus paranasal tidak disarankan)
  • Tomografi komputer juga tidak disarankan kecuali pada keadaan di bawah ini:
    • penyakit parah
    • pasien imunokompromais
    • tanda komplikasi berat (orbita & intrakranial)

H. DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding rinosinusitis tergantung dari gejala klinis pada pasien. Dari anamnesis bila didapatkan keluhan hidung terseumbat dan berair, cairan putih kekuningan dapat difikirkan adanya common cold, korpus alienum di hidung dan adenoitis. Jika ditemukan sakit kepala dapat difikirkan tension headache, migraine headache, cluster headache atau reffered pain headache, sedangkan batuk kronik dapat difikirkan pertusis, bronkitis, tuberkulosis, dan GERD.brook

Pada polip nasi, diagnosis banding polip nasi termasuk tumor-tumor jinak yang dapat tumbuh di hidung seperti kondroma, neurofibroma, angiofibroma dan lain-lain. Papiloma inversi (Inverted papiloma) adalah tumor hidung yang secara histologis jinak tapi perangai klinisnya ganas dapat menyebabkan pendesakan / destruksi dan sering kambuh kembali, penampakannya sangat merupai polip. Tumor ganas hidung seperti karsinoma atau sarkoma biasanya unilateral, ada rasa nyeri dan mudah berdarah, sering menyebabkan destruksi tulang. Diagnosis banding lain adalah meningokel / meningoensefalokel pada anak. Biasanya akan menjadi lebih besar pada saat mengejan atau menangis.bestari

I. TATALAKSANA

1. Penatalaksanaan Rinosinusitis4

Tujuan terapi sinusitis ialah 1) mempercepat penyembuhan; 2) mencegah komplikasi; dan 3) mencegah perubahan menjadi kronik. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehingga drainase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami.

Antibiotik dan dekongestan merupakan pilihan pada sinusitis akut bakterial, untuk menghilagkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan ostium sinus. Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti amoksisilin. Jika diperkirakan kuman telah resisten atau memproduksi beta-laktamase, maka dapat diberikan amoksisilin-klavulanat atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis antibiotik diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang. Pada sinusitis kronik diberikan antibiotik yang sesuai untuk kuman negatif gram dan anaerob.4

Selain dekongestan oral dan topikal, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan, seperti analgetik, mukolitik, steroid oral/topikal, pencucian rongga hidung dengan NaCL atau pemanasan (diatermi). Antihistamin tidak rutin diberikan, karena sifat antikolinergiknya dapat menyebabkan sekret jadi lebih kental. Bila ada alergi berat sebaiknya diberikan antihistamin generasi ke-2. Irigasi sinus maksila atau Proetz displacement therapy juga merupakan terapi tambahan yang dapat bermanfaat. Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan alergi yang berat.

Tindakan Operasi

Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan operasi terkini untuk sinusitis kronik yang memerlukan operasi/ Tindakan ini telah menggantikan hampir semua jenis bedah sinus terdahulu karena memberikan hasil yang lebih memuaskan dan tindakan lebih ringan dan tidak radikal. Indikasinya berupa: sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi adekuat, sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang ireversibel; polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur.4

2. Penatalaksanaan Polip6

a. Non Operatif

Satu-satunya pengobatan yang efektif untuk polip nasal adalah kortikosteroid. Baik bentuk oral maupun topikal, memberikan respon anti inflamasi non -spesifik yang mengurangi ukuran polip dan mengurangi gejala sumbatan hidung. Obat- obatan lain tidak memberikan dampak yang berarti

1) Kortikosteroid oral

Pengobatan yang telah teruji untuk sumbatan yang disebabkan polip nasal adalah kortikosteroid oral seperti prednison. Agen anti inflamasi nonspesifik ini secara signifikan mengurangi ukuran peradangan polip dan memperbaiki gejala lain secara cepat. Sayangnya, masa kerja sebentar dan polip sering tumbuh kembali dan munculnya gejala yang sama dalam waktu mingguan hingga bulanan

2) Kortikosteroid Topikal Hidung

Respon antiinflamasi non-spesifiknya secara teoritis mengurangi ukuran polip dan mencegah tumbuhnya polip kembali jika digunakan berkelanjutan. Tersedia semprot hidung steroid yang efektif dan relatif aman untuk pemakaian jangka panjang dan jangka pendek seperti fluticson, mometason, budesonid dan lain-lain .

Follow up:

  • Pasien dengan gejala minimal dapat dimonitor sekali setahun atau dua kali setahun.
  • Pasien dengan gejala obstruktif yang mengganggu memerlukan follow up yang lebih sering, terutama jika mereka sedang menerima kortikosteroid oral dosis tinggi atau menggunakan semprot hidung steroid topikal dalam jangka lama.
  • Intervensi bedah pada polip nasal dipertimbangkan setelah terapi medikamentosa gagal dan untuk pasien dengan infeksi / peradangan sinus berulang yang memerlukan perawatan dengan berbagai antibiotik.

b. Operatif

Menjelang operasi, selama 4 atau 5 hari pasien diberi antibiotik dan kortikosteroid sistemik dan lokal. Hal ini penting untuk mengeliminasi bakteri dan mengurangi inflamasi, karena inflamasi akan menyebabkan edema dan perdarahan yang banyak, yang akan mengganggu kelancaran operasi. Kortikosteroid juga bermanfaat untuk mengecilkan polip sehingga operasinya akan lebih mudah. Dengan persiapan yang teliti, maka keadaan pasien akan optimal untuk menjalani bedah sinus endoskopi dan kemungkinan timbulnya komplikasi juga ditekan seminimal mungkin.

Dapat dilakukan ekstraksi polip (polipektomi) menggunakan senar polip atau cunam dengan analgetik lokal, bisa juga dengan menggunakan alat yang sangat menguntungkan seperti microdebrider yang dapat memotong langsung menghisap polip sehingga perdarahan sangat minimal, yang terbaik ialah Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF)

Skema penatalaksanaan rinosinusitis antara lain sebagai berikut:7

1. Rinosinusitis Akut Dewasa


(Gambar 6. Skema Penatalaksanaan Rinosinusitis Akut Pada Dewasa Untuk Pelayanan

Kesehatan Primer)


(Gambar 7. Skema Penatalaksanaan Rinosinusitis Akut Pada Dewasa Untuk Dokter Spesialis THT)

2. Rinosinusitis Kronis pada Dewasa


(Gambar 8. Skema Penatalaksanaan Rinosinusitis Kronik Dengan Atau Tanpa Polip Hidung Pada Dewasa Untuk Pelayanan Kesehatan Primer)


(Gambar 9. Skema Penatalaksanaan Rinosinusitis Kronik Tanpa Polip Hidung Pada

Dewasa Untuk Dokter Spesialis THT)


(Gambar 10. Skema Penatalaksanaan Rinosinusitis Kronik Dengan Polip Hidung Pada

Dewasa Untuk Dokter Spesialis THT)

3. Rinosinusitis Akut pada Anak


(Gambar 11. Skema penatalaksanaan rinosinusitis akut pada anak)

4. Rinosinusitis Kronis pada Anak


(Gambar 12. Skema penatalaksanaan rinosinusitis kronik pada anak)

J. KOMPLIKASI4

Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotik. Komplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis dengan eksaserbasi akut, berupa komplikasi orbita atau intrakranial.

  • Kelainan Orbita: Disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita), yang paling sering ialah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul ialah edema palpebra, selulitis orbita, abses subperiostal, abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi trombosis sinus kavernosus.
  • Kelainan Intrakranial: Dapat berupa meningitis, abses ekstradural atau subdural, abses otak dan trombosis sinus kavernosus.

Komplikasi juga dapat terjadi pada sinusitis kronis berupa:

  • Osteomielitis dan abses subperiostal. Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula pada pipi.
  • Kelainan paru, seperti bronkitis kronik dan bronkiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain itu dapat juga menyebabkan kambuhnya asma bronkial yang sukar dihilangkan sebelum sinusitisnya disembuhkan.

 

K. PROGNOSIS

Prognosis tergantung dari ketepatan serta cepatnya penanganan yang diberikan. Semakin cepat maka prognosis semakin baik. Pemberian antibiotika serta obat-obat simptomatis bersama dengan penanganan faktor penyebab dapat memberikan prognosis yang baik.

Polip nasi sering kambuh kembali, oleh karena itu pengobatannya juga perlu ditujukan kepada penyebabnya, misalnya alergi. Tetapi yang paling ideal pada rinitis alergi adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab. Secara medikamentosa dapat diberikan antihistamin, dengan atau tanpa dekongestan yang berbentuk tetes hidung yang bisa mengandung kortikosteroid atau tidak. Dan untuk alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama dapat dilakukan imunoterapi dengan cara desensitisasi dan hiposensitisasi, yang menjadi pilihan apabila pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang memuaskan.6

DAFTAR PUSTAKA

  1. Soetjipto D, 4 E, Wardani RS. Hidung. Dalam Soepardi EA, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi 7. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2012; hal.118-122.
  2. Soetjipto D, 4 E. Sinus Paranasal. Dalam Soepardi EA, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi 7. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2012; hal.145-149.
  3. Huvenne W, et al. Chronic Rhinosinusitis With and Without Nasal Polyps: What Is the Difference? Current Allergy and Asthma Reports. 2009;(9):213 – 220.
  4. 4 E, Soetjipto D. Sinusitis. Dalam Soepardi EA, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi 7. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2012; hal.150-153.
  5. Desrosiers M, et al. Canadian clinical practice guidelines for acute and chronic rhinosinusitis. Allergy, Asthma & Clinical Immunology. 2011;(7):2.
  6. Budiman JB, Asyari A. Diagnosis Dan Penatalaksanaan Rinosinusitis Dengan Polip Nasi. Diakses dari http://repository.unand.ac.id/17218/1/Penatalaksanaan_rinosinusitis _dengan_polip_nasi.pdf pada tanggal 9 Juli 2014.
  7. Fokkens W, et al. European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps. 2007. Rhinology , Supplement 20; http://www.rhinologyjournal.com; www.eaaci.net.
  8. Brook I, et al. Acute Sinusitis Treatment & Management. 2013. Diakses dari http://emedicine.medscape.com/article/232670-treatment pada tanggal 10 Juli 2014.

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s