10584528_1507226862842972_477398587_n

Ko-As Update #Part 3 [Stase THT-KL]

Inilah stase puncak abulia. Haha. Astaghfirullah, tapi itu memang apa adanya. THT. Namun seiring berjalannya waktu, sentakannya cukup membuka mata. Di THT ini, kami ditinggal pergi oleh teman-teman 2010 yang tengah mengikuti kegiatan KKN, walhasil jumlah kami sangat sedikit dibanding biasanya, yakni hanya dua belas orang. Di THT, dengan jumlah segitu, kegiatan ilmiah seolah-olah menjadi sangat padat, karena kami dibagi lagi menjadi 2 kelompok dengan enam orang masing-masingnya. Meski demikian, abulia yang ku alami ketika itu memang memuncak pada minggu pertama, dan Ramadhan perlahan-lahan memperbaikinya. Ya, ketika itu bulan Ramadhan datang pada minggu ke dua stase, sedikit-demi sedikit, motivasi itu alhamdulillah kembali muncul.

Ada momen ketika terbentuknya kelompok kecil kami yang baru. Aku sekelompok dengan lima orang teman-teman yang luar biasa, baik dan ngangenin. Yap, mereka adalah suci, vela, febi, kak zulis dan kak elza. Kami berenam selalu bersama-sama. Dinas di THT yang ganti hari meski hanya sampai jam sembilan malam membuat kami semakin akrab dari hari ke hari. Bagaimana tidak, di saat tak ada kawan berbuka puasa, merekalah yang menjadi kawan. Di saat tak ada kawan shalat taraweh, mereka pulalah menjadi kawan. Kami kadang shalat taraweh berjamaah di dalam ruang konference THT itu. Bahkan tilawah qur’an pun kami bareng-bareng. So sweet banget. Kami juga kadang nonton bareng, ketawa-ketiwi, nyanyi-nyanyi dan selfie-selfie *sumpah alay banget. ckck. Yap, tanpa mereka mungkin hari-hari di THT akan menghambar.

Kasus-kasus THT sebenarnya cukup menarik. Pada dinas pertama kami mendapati seorang anak dengan epsitaksis berulang. Belakangan aku mengenal penyakit jouvenille angiofibroma dari anak ini. Berbeda dengan di siklus-siklus lainnya, dinas di THT seringkali hanya menjadi observer, tindakan emergensi jarang kami dapatkan, karena berbagi juga dengan residen baru. Kecuali untuk hal-hal penting seperti pemeriksaan fisik THT yang sangat rumit dan membutuhkan banyak peralatan seperti lampu kepala, spekulum hidung, otoskop, pinset telinga, tongue spatel, kaca tenggorok, dan lain-lain. Mau tak mau harus giat berlatih. Cukup menantang. Apalagi setelah melihat nasoendoskopi, otoendoskopi, melihat langsung operasi bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF) untuk kasus sinusitis dan lain-lainnnya membuat motivasi datang lagi sedikit demi sedikit.

Kegiatan kami di siklus THT memang semuanya menantang kecuali dinasnya. ckck. Pagi hari, kami semua mengisi absen di poliklinik, pukul 8.00 acara biasanya dimulai, kadang-kadang ada laporan jaga residen, atau presentasi ilmiah residen, journal reading, bedah buku dan beberapa sharing pengalaman dari konsulen yang bertandang ke luar negeri. Di ruangan itu, acara ilmiah selalu disampaikan dalam bahasa inggris, dan ini membuatku cukup antusias meskipun sesekali tak mengerti apa yang mereka sampaikan *hoho. Berasa di luar negeri. Setelah itu barulah kami beraksi. Mencari-cari pasien poliklinik yang sedang berobat untuk dibujuk dan dirayu menjadi pasien bed side teaching memang pengalaman yang kurang mengenakkan. Tapi untuk beberapa pasien, mungkin ada juga baiknya. Dimana biasanya pengobatan diberikan oleh dokter residen poli, namun jika menjadi pasien bed side teaching kami, mereka langsung diperiksa dan diberikan resep oleh dokter spesialis THT, meskipun harus rela diperiksa oleh dokter muda yang masih kurang pengalaman seperti kami sebelumnya. Hehe. Cukup melelahkan. Namun tanpa mereka, kami mungkin akan kewalahan menguasai dan membiasakan diri menggunakan alat-alat THT dan melatih skil dan kemampuan pemeriksaan fisik. Ditambah lagi kami langsung berhadapan dengan pasien yang tentu datang dengan kelainan, dan aku sangat bersyukur bisa memeriksa pasien-pasien itu dan menemukan langsung penyakitnya dengan tanganku sendiri. Semacam waw gitu. hha

Selain bed side teaching, tentu saja kami juga memiliki kegiatan ilmiah lainnya, seperti laporan kasus, journal reading dan bimbingan sore dengan residen chief jaga. Jika ada satu yang missed, prognosis buruk. ckck. Ya, itulah, di THT kondite benar-benar segalanya. Attitude benar-benar menjadi pondasi dan pijakan. Sedikit kesalahan kecil bisa menjadi kesalahan fatal. Meskipun lalai dan tak disengaja, tetap saja tak ada pengecualian. Tapi selayaknya itu tak perlu dikeluhkan, toh memang kita sedang belajar, dan mungkin memang seperti itulah harusnya, belajar menghargai orang lain, belajar memegang amanah orang lain, belajar on time, belajar memanage situasi, belajar berbicara dengan orang yang lebih tinggi, belajar berkomunikasi, belajar mencari solusi, belajar kerja sama tim, benar-benar pelajaran berharga di THT. Jika dibilang berat, memang THT ini jauh lebih berat, baik beban skilnya, dan beban morilnya.

Dan tibalah saatnya ketika ujian, aku mendapat giliran ujian di hari terakhir. Meksipun terakhir tetap saja tak bisa menganggap remeh. Kami harus mencari pasien untuk ujian. Dan alhamdulillah, Allah benar-benar memberikanku pertolongan saat itu. Memang minggu empat di THT harus banyak-banyak berdo’a dan berusaha. Karena jika sampai tak mendapat pasien untuk ujian, maka prognosis sudah pasti malam. No offence. Ditengah kegalauan mencari pasien, alhamdulillah banget ada seorang mahasiswa yang umurnya mungkin dua atau tiga tahun lebih muda dariku datang berobat. Keluhannya kurang bisa mendengar dalam dua minggu terakhir. Belakangan aku tahu bahwa beliau ini menderita OMSK sinistra tipe aman fase tenang. Meski dengan malu dan segan membujukknya menjadi pasien untuk ujian, alhamdulillah beliau bersedia, bahkan dia mau datang lagi untuk sekedar aku berlatih pemeriksaan fisik. Anak ini sungguh baik banget. Belakangan aku tahu bahwa dia adalah seorang mahasiswa yang juga seorang gharim di masjid tak jauh dari RS M Djamil. Alhamdulillah, ujianku berjalan sudah, meski belum tahu bagaimana hasilnya. Semoga Allah beri yang terbaik. Amin..

https://i0.wp.com/photos-e.ak.instagram.com/hphotos-ak-xaf1/10584528_1507226862842972_477398587_n.jpg
Teman-teman di Siklus THT, foto di atas: dari kiri ke kanan, aku, kak elza, vela, suci, kak zulis dan febi. Foto di bawah dari kiri ke kanan: dina, fani, kak ida, arif, aku, febi, reza kak elza, suci dan vela.

Demikianlah sedikit cerita di THT. Dan satu kata untuk THT, tough. Hehe. Sungguh banyak pelajaran yang ku dapat di siklus ini, semoga bisa teringat. Semoga selanjutnya bisa lebih baik. Amin..

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s