Mental Birokrasi

Pagi itu ada pasien yang berkunjung ke poliklinik radioterapi, yakni seorang anak berumur lima tahunan yang didampingi oleh kedua orang tuanya. Sang anak merupakan pasien kanker yang rutin mendapatkan terapi radiasi dalam pengobatannya. Dibalik senyumannya yang merekah, ada penyakit serius yang dideritanya.

Ketika itu, sang ibu menceritakan pengalamannya berobat di salah satu rumah sakit pusat yang ada di Jakarta. Awalnya, beliau mengira pelayanan yang diterima di sana mungkin akan jauh lebih ribet dibandingkan pelayanan yang beliau terima di rumah sakit pusat di kota ini, namun alangkah terkejutnya beliau mendapati pelayanan rumah sakit di sana jauh lebih ramah, lebih mudah dan menyenangkan, padahal pasien yang dilayani berasal dari seluruh pelosok Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Sedangkan rumah sakit di kota ini hanyalah berisi pasien-pasien yang datang dari beberapa propinsi yang berdekatan, namun pelayanannya terkesan tidak maksimal. Selain administrasi yang berbelit-belit, birokrasi yang mempersulit, sopan santun dan ramah tamah yang pelit, apa yang salah?

Guru saya berkata sederhana. Masalahnya hanya satu, yaitu MENTAL. Selama mental tanggung jawab dan rasa mencintai pekerjaan belum melekat di diri, selama itu pula setiap pekerjaan tak akan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, baik dalam pekerjaan apapun. Apalagi bagi seorang pelayan masyarakat. Ya, sepertinya masalah birokrasi memang sejatinya adalah masalah mental. Jangan ada lagi slogan “jika bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah?”!

2 thoughts on “Mental Birokrasi

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s