demokrasi_by_mhsahin

Kisruh Pilkada Langsung dan Tidak Langsung: Demokrasi Indonesia yang Tersesat

Ilustrasi: http://terpaksabikinwebsite.wordpress.com

Belakangan publik di negeri ini tengah dihebohkan dengan sistem perpolitikannya sendiri, antara pemilihan kepala daerah secara langsung atau melalui DPRD. Perdebatan hangat tengah berlangsung di mana-mana, baik di dunia nyata hingga ke dunia maya. Mulai dari perbincangan ringan di warung kopi hingga berita mancanegara. Entah berapa banyak komentar yang bermunculan, baik yang menyampaikannya dengan santun dan -tentu saja- dengan kata-kata bermakna sindiran bahkan hujatan. Media sosial negeri ini seolah-olah menjadi media “saling menghujat” antara satu kepala dengan kepala lainnya, satu pendukung partai dengan yang lainnya, satu elit dengan elit lainnya. Ketika membuka media sosial, ya, sepertinya kata sumpah serapah dan “tidak beretika” kerap menghiasi layar monitor gadget dan komputer zaman ini. Inilah zaman demokrasi.

Sedikit berpikir lepas, sebagai bagian dari warga negara di negeri ibu pertiwi yang tercinta ini, izinkan saya untuk menyampaikan sedikit pandangannya.

Dari mana sesungguhnya kita mengenal istilah “demokrasi”? Sistem pemerintahan yang diyakini muncul dari pemikiran bangsa Yunani pada 500 tahun sebelum masehi ini sekarang telah menjadi dasar dalam perpolitikan di negeri ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “demokrasi” kita kenal sebagai bentuk pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya (pemerintahan rakyat). Dalam arti yang lain demokrasi juga berarti gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara. Pertanyaannya, demokrasi seperti apa yang kita harapkan di negeri ini?

Kembali ke topik awal, antara pilkada langsung dan tidak langsung. Banyak kalangan yang membawa-bawa kata “demokrasi” ini ke dalam kisruh yang terjadi antara kedua pendukung metode pilkada tersebut. Kalangan yang pro Pilkada langsung mengatakan bahwa inilah titik dimana demokrasi di Indonesia mengalami kemunduran, mencabut hak konstitusional rakyat, hingga ada yang mengatakan “RIP Demokrasi Indonesia”, hingga sindiran pada presiden SBY, seperti #shameonyouSBY, #shamebyyouSBY karena aksi partai beliau yang walkout saat rapat paripurna tentang RUU Pilkada *yang awal mulanya ditulis oleh orang asing namun anehnya cacian itu menjadi populer dan ditulis berkali-kali hingga menjadi trending topic worldwide. Helo..? ckck.* Sementara itu kalangan yang pro pilkada tidak langsung atau melalui DPRD mengatakan bahwa Pilkada langsung berbiaya mahal dan banyak kemudaratan, sarat money politic, yang kaya yang berkuasa, dan tidak sesuai dengan Pancasila sila ke-4.

Well, memang setiap pilihan memiliki argumen tersendiri, terutama terkait dengan demokrasi. Sebenarnya, demokrasi seperti apa yang harusnya diterapkan di negeri ini? Haruskah kita menelan mentah-mentah demokrasi liberal yang dianut Amerika Serikat dimana setiap warga negaranya bebas melakukan apa saja yang dianggapnya benar, termasuk bebas memilih pemimpin yang ia suka dan pemimpin ditetapkan dengan perolehan suara terbanyak (vote)? Sepertinya kiblat demokrasi kita belakangan ini sama dengan kiblatnya Amerika Serikat. Kita mungkin melupakan esensial dari kemajemukan rakyat di negeri ini. Perlahan tapi pasti, karakter bangsa Indonesia sudah perlahan berubah. Kita lebih sering caci mencaci, membetuk kelompok-kelompok sendiri, dan menjadi lebih indivualistis dan mementingkan kepentingan kelopok masing-masing. Kita perlahan tak lagi memikirkan manfaat dan mudharat, apa kelebihan dan kekurangan seorang calon pemimpin dan mendiskusikannya bersama-sama dan mencari kesepakatan. Kejadian yang terjadi hari ini adalah, masing-masing menjadi “kekeuh” dengan pilihannya dan seolah-olah tak lagi menghormati pilihan orang lain hingga sampai ke arena sindir-menyindir dan hujat menghujat. Sosial media seolah menjadi ajang tebar aib dan keburukan seseorang, sementara dilain sisi orang berlomba-lomba memamerkan kelebihan dirinya agar dipilih menjadi pemimpin, seolah-olah menjadi pemimpin adalah sebuah obsesi. Padahal dengan tegas Nabi SAW bersabda, “Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu”.(HR. Bukhari Muslim). Naudzubillah..

Ketika negara ini merdeka, para founding fathers kita sebenarnya telah mencoba memikirkan hal ini dan telah menyusun konsep perpolitikan di negeri ini dalam salah satu sila di Pancasila, yang kita kenal dengan sila ke-4. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.” Disana kita mengenal sistem perpolitikan yang berbasis kerakyatan, dan dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dan ya, itulah mungkin yang terlupa akhir-akhir ini. Disana tertulis kata-kata “kerakyatan”, “hikmat kebijaksanaan”, “musyawarah” dan “perwakilan.” Apa maksudnya? Inilah yang belakangan banyak timbul penafsiran yang berbeda-beda.

Menurut hemat saya, musyawarah adalah kunci utama politik di negeri ini. Musyawarah atau dalam bahasa arab “syura”, yang berarti “duduk bersama mencari jalan keluar” sejatinya adalah jalan yang dipilih oleh para pendiri bangsa untuk menetapkan pemimpin rakyat itu sendiri. Dan ya, inilah esensi yang hilang melalui sistem politik di negeri ini, pada hari ini. Tak ada yang pamer kelebihan, tak ada yang saling hujat menghujat, akan tetapi duduk berembuk bersama memilih pemimpin! Saya kira inilah cita-cita pendahulu kita.

Ingin sedikit berandai sekiranya sistem demokrasi Indonesia berbeda dengan yang sekarang ini. Misalkan saja ada semacam “Hari Musyawarah Nasional,” dimana rakyat di seluruh Indonesia serentak melakukan musyawarah di masing-masing daerah untuk memilih pemimpinnya. Setiap kecamatan terdiri dari orang-orang pilihan yang bisa berasal dari ketua RT/RW, alim ulama, cerdik pandai, hingga kemudian disepakati satu nama, kemudian nama dari masing-masing kecamatan itu dibawa ke perwakilan daerah di DPRD kabupaten/kota, hingga mengerucut menjadi satu nama, hingga seterusnya ke DPRD provinsi hingga terpilihlah kepala daerah. Rakyat satu dengan yang lain menerima setiap hasil keputusan dengan tenggang rasa. Demikian juga dengan pemilihan presiden. Wah, jika itu benar-benar terwujud, mungkin saja tak ada lagi yang pamer kehebatan, bayar spanduk dan iklan, caci maki dan hujat menghujat di media sosial, dan pemimpin yang terpilih adalah pemimpin yang berkualitas yang didukung penuh dan dicintai rakyat. Itulah yang saya sebut dengan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Inilah demokrasi Indonesia versi saya.

Saya masih ingat bagaimana saya belajar di Rohis ketika SMA dulu. Bagaimana kami diajarkan memilih pemimpin dan memilih penerus sesudahnya. Ketika sudah disepakati beberapa nama kandidat ketua, maka kami mengadakan musyawarah tertutup di dalam ruang majelis. Disanalah kami memberikan argumen mengenai tiap-tiap kandidat, bagaimana dia, seperti apa orangnya, sifatnya, kelebihannya, hingga kekurangannya. Lalu kami berdiskusi dan bermusyawarah menetapkan yang terbaik dari yang terbaik. Tak ada satupun kandidat yang ingin dipilih, karena sadar bahwa kepemimpinan itu adalah amanah yang sesungguhnya akan dipertanggung jawabkan di Mahkamah Allah di akhirat nanti. Akan tetapi ketika telah diberi amanah, maka amanah itu dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Namun apa yang terjadi maka terjadilah. Jika kembali ke topik Pilkada ini, hingga akhirnya saya berpendapat, pemilihan kepala daerah melalui DPRD mungkin akan lebih baik dibandingkan pemilihan langsung, apabila DPRD benar-benar menampung aspirasi dari masyarakat, tentu saja jika setelah bermusyawarah dengan rakyat masing-masing. Jika hal itu bisa terwujud, maka tak ada kata kemunduran demokrasi di negeri ini, melainkan demokrasi yang telah mendewasa. Insya Allah. Wallahu’alam bissawwab..🙂

One thought on “Kisruh Pilkada Langsung dan Tidak Langsung: Demokrasi Indonesia yang Tersesat

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s