102114_2246_KejangDemam1.jpg

Kejang Demam

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal > 38°C) akibat dari suatu proses ekstra kranial. Kejang berhubungan dengan demam, tetapi tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab lain.

Kejang demam terjadi 2-4% pada anak usia 6 bulan – 5 tahun. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului dmam, pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.

Ilustrasi: http://www.unitypoint.org

Klasifikasi

Kejang demam dapat dibagi menjadi dua, yaitu kejang demam sederhana (simpleks) dan kejang demam kompleks.

  1. Kejang demam simpleks

    Kejang demam berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan/atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam simpleks ini merupakan 80% dari seluruh kejang demam.

  2. Kejang demam kompleks

    Kejang demamnya punya salah satu dari ciri-ciri sebagai berikut:

    1. Kejang lama > 15 menit
    2. Kejang fokal atau parsial pada satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial
    3. Kejang berulang lebih dari 1 kali dalam 24 jam

Penjelasan:

  • Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit, atau kejang berulang yang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang anaknya tidak sadar. Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam.
  • Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang didahului kejang parsial.
  • Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, di antara 2 bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16% di antara anak yang mengalami kejang demam.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang dmema, tapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Bisa dilakukan pemeriksaan darah perifer, elektrolit, dan gula darah.

Pungsi lumbal

Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Risiko terjadinya meningitis bakterialis adalah 0,6-6,7%.

Pada bayi kecil seringkali sulit untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas. Oleh karena itu pungsi lumbal dianjurkan pada:

  1. Bayi kurang dari 12 bulan à sangat dianjurkan
  2. Bayi 12 – 18 bulan à dianjurkan
  3. Bayi > 18 bulan à tidak rutin

Bila yakin bukan meningtis secara klinis, tidak perlu dilakukan pungsi lumbal.

Elektroensefalografi

Pemeriksaan EEG tidak dapat memprediksi berulangnya kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh karenanya tidak direkomendasikan.

Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada kejang demam yang tidak khas. Misalnya: kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.

Pencitraan

Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti CT Scan atau MRI jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan hanya atas indikasi seperti:

  1. Kelainan neurologi fokal yang menetap (hemiparesis)
  2. Paresis nervus VI
  3. Papiledema

Prognosis

Kejang demam tidak pernah dilaporkan menyebabkan kecacatan ataupun kematian. Sebagian kecil kasus melaporkan kelainan neurologis terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang berulang baik umum atau fokal. Kejang demam dapat berulang pada sebagian kasus. Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah:

  1. Riwayat kejang demam dalam keluarga
  2. Usia kurang dari 12 bulan
  3. Tempertaur yang rendah saat kejang
  4. Cepatnya kejang setelah demam

Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang adalah 80%, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya 10%-15%. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun pertama.

Faktor risiko menjadi epilepsi adalah:

  1. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama
  2. Kejang demam kompleks
  3. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung

Penatalaksanaan

Saat kejang

Jika pasien datang saat kejang, obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah dizepam intravena 0,3-0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 20 mg.

Obat praktis yang dapat diberikan di rumah adalah diazepam rektal 0,5-0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan < 10 kg dan diazepam rektal 10 mg untuk anak dengan berat badan > 10 kg.

Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulangi lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit.

Bila sudah 2 kali pemberian diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kg.

Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin intravena dosis awal 10-20 mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau < 50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya 4-8 mg/kg/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal.

Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat di ruang rawat intensif.

Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor risikonya.

Skema penatalaksanaan saat kejang

Saat demam

Antipiretik

Dapat diberikan parasetamol 10-15 mg/kg/kali diberikan 4 x sehari dan tidak lebih dari 5x sehari atau ibuprofen 5-10 mg/kg/kali 3-4 x sehari.

Antikonvulsan

Pemakaian diazepam oral 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam menurunkan risiko berulangnya kejang pada 30%-60% kasus, begitu pula diazepam rektal 0,5 mg/kg setiap 8 jam pada suhu >38,5°C.

Obat Rumatan

Indikasi jika menunjukkan salah satu ciri berikut:

  1. Kejang lama > 15 menit
  2. Adanya kelainan neurologis yang nyata seblum atau sesudah kejang, misalnya hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus.
  3. Kejang fokal
  4. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:
  • Kejang berulang 2 x / lebih dalam 24 jam
  • Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan
  • Kejang demam > 4 x / tahun.

Jenis antikonvulasan untuk pengobatan rumat

  • Asam valproat 15-40 mg/kg/hari dalam 2-3 dosis
  • Fenobarbital 3-4 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis

Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.

Edukasi pada Orang Tua

  1. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik
  2. Memberitahukan cara penanganan kejang
  3. Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
  4. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya efek samping

Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kejang lagi:

  1. Tetap tenang dan tidak panik
  2. Kendorkan pakaian yang ketat terutama sekitar leher
  3. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring, bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu kedalam mulut
  4. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang
  5. Tetap bersama pasien selama kejang
  6. Berikan diazepam rektal, dan jangan berikan bila kejang telah berhenti
  7. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih.

Bacaan: Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam IDAI 2006

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s