Traveling to Sumut #2

Baiklah, setelah sebelumnya bercerita sedikit tentang perjalanan kami sekeluarga dari Payakumbuh menuju Binjai, Sumatera Utara, yang memakan waktu lebih kurang 2 hari (minus 1 malam karena menginap di perjalanan), hari-hari berikutnya di Medan dan Sumut kembali berlanjut.

#DAY 3

Memasuki hari ketiga, Sabtu 27 Desember 2014, pagi itu saya terbangun di sebuah kamar dengan ornamen-ornamen khas anak perempuan. Foto-foto lucu, gambar-gambar warna-warni, jejeran boneka dan meja rias menghiasi kamar itu. Ups, jangan kaget dulu, pasalnya Om Adi memang mempersilakan saya tidur sendirian di kamar Raisa selama tinggal di Binjai. Hehe. Seusai shalat subuh dan merapikan badan *mandi dll tentunya, seperti biasanya dalam keluarga, pagi itu kami sekeluarga menikmati secangkir teh hangat dan biskuit buatan tante Epi. Tante Epi benar-benar ulet bekerja, service-nya to the max. Belum lagi jam 07.00 WIB pagi sarapan pun telah siap di atas meja. Ketika itu semangkuk besar nasi goreng lengkap dengan beberapa kepingan telur mata sapi bercabai merah, sayuran hijau dan beberapa ikan goreng balado, *saya lupa-lupa ingat apa lagi, hehe.. sudah tersedia di atas meja. Waktunya sarapan!😀

Perbincangan hangat tengah berlangsung pagi itu, hingga akhirnya Om Adi, Andi dan Isfan mengajak saya dan adik saya berkeliling kota Binjai di pagi hari, padahal mereka belum mandi. Hehe. Dengan toyota avanza beliau, kami pun tancap gas dari rumah itu pukul 09.00 WIB.

Keliling-keliling kota Binjai mengingatkan saya dengan kota Payakumbuh. Menurut saya keduanya memiliki kemiripan. Tata kota, pasarnya, jalanannya, membuat saya merasa sedang berada di rumah sendiri. Binjai, merupakan sebuah kota di kabupaten Deli Serdang Sumut yang berjarak hanya 20 km dari Medan, mungkin termasuk salah satu bagian dari Medan metropolitan. Namun demikian, kota ini bukan sembarangan. Mall berukuran besar bahkan bioskop 21 pun ada. Dan yang paling iconic adalah Tugu Merdeka dan Lapangan Merdeka Binjai. Kebetulan sekali rumah Om Adi ini terletak di jantung kota Binjai, yakni di seberang Lapangan Merdeka.


Tugu Merdeka Binjai (sumber: http://www.pinterest.com)






Lapangan Merdeka Binjai



Penampakan Kota Binjai (sumber:
on-by.blogspot.com)


Binjai Supermall dan Cinema 21 (sumber:
on-by.blogspot.com)

Setelah puas berkeliling kota Binjai, kami pun hendak kembali ke rumah. Namun, rencana itu pupus setelah tanpa sengaja saya bertanya pada Om Adi.

“Om, kampus USU dimana ya Om?”, tanya saya polos.

“Mau ke kampus USU An? Ayo! Deket kok dari sini.” Om Adi pun semangat menanggapi.

“Iya ya Om, apa tidak kelamaan nanti Om?”

“Ah.. Enggak lah, deket banget dari sini kok. Yuk kita mampir ke sana!”

Tentu saja aku mengiyakan. Hehe. Lagipula aku belum pernah melihat kampus USU secara langsung. Yang paling ingin ku lihat adalah kampus FK USU, seperti apa ya kira-kira. Sebelum ke USU, kami pun singgah sebentar membeli air minum di Indomaret pinggir jalan. Di sini, banyak sekali dijumpai minimarket-minimarket bermerek seperti Indomaret dan Alfamart. Beruntung, belanjaan kami dapat diskon, rupanya lagi ada promo.

Akhirnya saya duduk manis di atas mobil menikmati jalan-jalan dadakan ke USU. Namun tiba-tiba ada perasaan aneh. Rasanya kok sudah jauh ya? Sudah hampir satu jam kok USU belum juga tampak, ditambah lagi macet mulai terasa. Saya bertanya pada Om Adi yang sedang menyetir, apakah masih jauh.

“Ah, enggak kok.. deket.. dari sini tinggal lurus lalu belok kanan, nyampe deh di USU!” Om Adi selalu semangat seperti biasa.

Rupayanya saya dibawa nun jauh ke Medan sana, aku baru sadar ketika jalanan mulai sesak oleh kendaraan. Setiap melewati persimpangan, lampu merahnya menyala begitu lama. Saking banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, mesti tiga kali lampu hijau dan merah silih berganti, barulah mobil kami bisa melewati persimpangan. Wufft.. Ini Medan bung! Dalam hati, saya jadi merasa bersalah sudah bertanya tentang USU, tapi melihat reaksi Om Adi, Andi dan Isfan yang penuh semangat ingin mengajakku ke sana, aku pun tak lagi memikirkannya. Haha.

Alhamdulilah.. Akhirnya sampai juga di USU. Universitas Sumatera Utara. Lokasinya tak jauh dari pusat kota Medan, kampusnya yang besar dibatasi oleh pagar-pagar besi yang menjulang tinggi. Inilah pertama kali saya berkunjung ke sana dan melihatnya langsung. Terutama kampus FK USU yang megah berdiri kokoh di area terdepan di dekat gerbang USU. Di seberang jalan juga terlihat Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara yang sepertinya belum lama ini selesai dibangun.

Tak terasa, hari pun sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Puas berkeliling di USU melihat seluruh fakultasnya yang berdekatan, kami pun diajak oleh Om Adi makan siang di sebuah warung mie aceh yang paling enak di Medan, yaitu Mie Aceh Titi Bobrok. Dan memang begitulah rasanya. Menunya pun bermacam-macam, mulai dari mie aceh spesial, goreng maupun mie kuah, hingga dibubuhi tumisan beraneka macam dan bisa dipesan, antara lain daging sapi, cumi, udang dan kepiting. Om Adi bercerita, bahwasanya dulu kedai Mie Aceh Titi Bobrok ini hanyalah kedai kecil biasa, namun lama-kelamaan sukses dan semakin terkenal hingga membuka cabang-cabang baru di setiap pelosok kota.



Mie Aceh Titi Bobrok (Sumber: http://www.dewningrum.com)

Setelah puas berkelana dan mencicipi mie aceh yang enak, perut pun kenyang, dan mata pun mulai mengantuk. Kami pun kembali ke Binjai, tepatnya ke rumah nenek, orang tua Om Adi yang rumahnya tak jauh dari kediaman Om Adi sendiri. Biasalah, sampai di sini acara dialanjutkan dengan silaturahmi keluarga besar Om Adi. Dan akhirnya untuk pertama kali, saya bertemu dengan nenek sepupu (apa ya istilahnya? Yang jelas beliau adalah orang tua Om Adi, istri dari adik kakek kandung saya)😀

Sore harinya, kami duduk santai di kedai-kedai dekat lapangan Merdeka, dan itulah pertama kalinya aku melihat sesosok laki-laki berusia senja yang masih kuat bekerja, dan tawanya tak pernah luntur dari wajahnya yang teduh. Itulah adik kandung kakek. Umur beliau sudah lebih 70 tahun, namun beliau masih tetap bersemangat sembari berjualan es cendol di pinggir lapangan Merdeka. Tentu saja saya disuguhinya es cendol buatannya. Itulah pertama kali saya bertemu dengan beliau. Padahal, menurut cerita papa, orang kampung sudah menganggap beliau hilang sejak kecil, padahal beliau memang merantau diam-diam ke Medan hingga ke Binjai, dan di sinilah semua anak dan cucu beliau hidup hingga sekarang saya pun bertemu dengan Om Adi dan adik-adik sepupu saya. Hehe. Beliau memang super cuek dan sangat easy going, seperti tanpa beban. Saya sangat salut dengan beliau.





***

Tak terasa, langit pun telah gelap. Malam itu kami sekeluarga pun berkunjung ke rumah adik kandung Om Adi yang juga tinggal tak jauh dari tempat kami. Dan di sini pun mulailah percakapan bapak-bapak penggila batu cincin. Hahaha. Ya ampun, ternyata tidak hanya di Payakumbuh, bahkan di Binjai pun batu cincin ini sedang naik daun. Dimana-mana orang tengah banyak mengoleksi batu cincin berwarna-warni ini. Tak hanya yang tua-tua, yang muda-muda pun tentu saja banyak yang tergila-gila. Ckck. Sampai di sini saya sudah tak begitu mengerti. Hha. Harganya bisa ratusan ribu hingga jutaan!


Batu cincin (sumber: mutiaray5.blogspot.com)

***

Acara kami malam itu mungkin sudah berakhir ketika kami pulang dari tempat kediaman adik Om Adi, namun tidak dengan saya, Andi dan adik saya. Setelah terlebih dahulu memesan tiket, kami pun menghabiskan malam dengan menonton bioskop di 21 Binjai Supermall. Film yang diputar ketika itu adalah The Hobbit The Battle of Five Armies. Yay!! Akhirnya kesampaian juga nonton di 21. Ckckc.



(Bioskop 21. Sumber: staticflickr.com | cdn.screenrant.com)

Alhamdulillah, petualangan hari ini pun ditutup dengan film yang luar biasa di bioskop 21. Kami pun akhirnya pulang larut malam, sekitar jam 02.00 WIB. Sekali-sekali mungkin tak apa-apa. Hehe. Rasanya ingin menonton lagi di bioskop, yah.. Semoga saja suatu hari nanti Payakumbuh atau Padang punya bioskop 21 juga. Sayang kan sudah bertahun-tahun di Padang tanpa hiburan yang memadai. Ckck. *curcol. Semoga saja CINEMAXX yang rencananya buka di SPR Plaza Padang benar-benar diresmikan, gak sabar jika sudah kelar nanti. Semoga saja!🙂

#to be continued.

2 thoughts on “Traveling to Sumut #2

  1. Kalau bagian #1 fokus ke wisata alam, bagian #2 ini edisi kehidupan perkotaan, ada Binjai dan juga Medan. Sepertinya kota-kota di Sumatera Utara lebih banyak fasilitas modernnya, ya? Sempat ke USU juga🙂 (mantan calon kampus idaman dulu, haha)

    Serunya jalan-jalan pasti jadi bertambah kalau ada sanak saudara di daerah tujuan🙂 selain bisa bersilaturrahim, juga ada yang bisa menjadi guide selama di perjalanan.

    Baru tahu ada CINEMAXX yang akan buka di SPR, semoga bisa menikmati bioskop keren di Padang suatu saat nanti, aamiin🙂

    Like

    • Hahaha, iya mi.. banget. Keluarga disini memang gak ada capeknya mjd tour guide selama di Medan, ckck.🙂

      Bener mi.. kabar2 yang hangat beredar seperti itulah, CINEMAXX di SPR insya Allah. Semoga!

      Liked by 1 person

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s