Traveling to Sumut #3

#DAY 4

Minggu, 28 Desember 2014. Pagi itu kami sekeluarga diajak oleh seluruh keluarga besar Om Adi di Binjai menuju sebuah kota di tengah gugusan perbukitan nan menawan, Berastagi. Kota ini berjarak sekitar 80 km dari Kota Binjai, menghabiskan waktu sekitar 2 jam perjalanan menuju ke sana. Kami berangkat dengan dua mobil sekaligus, mengitari jalanan yang dihiasi lembah dan perbukitan, kabut yang cukup pekat, hingga tanjakan dan turunan terjal. Seolah-olah mengingatkanku pergi menuju Maninjau dari arah Bukittinggi. Cuacanya begitu dingin, mungkin karena hari yang terlihat mendung.

Kami berangkat sekitar pukul 10.00 WIB, dan sampai di sana sekitar pukul 12.00 WIB. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Bukit Kubu, sebuah hamparan padang rumput yang luas di perbukitan yang bergelombang. Tempatnya sejuk dan sangat enak untuk dijadikan alas untuk melepas badan yang penat. Harga tiket masuknya cukup terjangkau, kami pun diberi sebuah alas tikar untuk bersantai, sebuah layangan untuk bermain dan tong sampah kecil untuk tempat membuang sampah. Ya, meskipun ramai, tempat ini sangatlah terjaga kebersihannya. Petugas kebersihan dengan sigap menyapu setiap sampah yang mungkin saja berserakan. Di bawah pohon rindang, kami pun menggelar tikar dan menikmati pemandangan langit yang alhamdulillah mulai menampakkan birunya di siang hari yang mulai terik.



(Bukit Kubu Berastagi)

Sejuknya tempat ini membuat perut terasa lapar. Hehe. Walhasil kami menggelar makan bersama di bawah pohon rindang di atas alas tikar yang kami bentangkan. Sensasinya begitu berbeda, apalagi ditambah canda dan tawa obrolan keluarga, begitu hangat. Tak puas dengan bersantai-santai, kami pun menikmati setiap kesempatan yang jarang ditemui ini. Bermain layangan, foto-foto bersama hingga mencoba wahana flying fox yang tersedia. Ya meskipun kurang menantang menurutku, namun cukup menyenangkan.

Setelah puas bermain-main di Bukit Kubu, kami pun beranjak ke pusat kota Berastagi. Kota yang dijuluki Kota Wisata dan Buah ini terletak di deretan perbukitan, diantara dua gunung yakni Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Udaranya sejuk seperti di Bukittinggi, dan penuh dengan nuansa khas masyarakat Batak. Mayoritas masyarakat di sini adalah dari etnis Batak Karo, seperti di kota Tarutung saat perjalanan pertama kami kemarin. Bangunan-bangunan di sini terkesan sangat tradisional. Rumah-rumah adat batak cukup sering terlihat.

Berkeliling sebentar, akhirnya kami berhenti di pasar tradisional Berastagi. It’s time for shopping! Selain toko buah-buahan, ada ratusan kios souvenir yang tersedia di sana. Mulai dari pernak pernik, gantungan kunci, tas, sendal, sepatu, hingga kaos dan baju hasil kerajinan Berastagi. Jika hendak membeli oleh-oleh, saya sarankan kesini saja. Tempatnya cukup strategis di pusat kota, harga barang-barangnya lumayan terjangkau dan cukup berkualitas.




Penampakan kota berastagi (sumber: m.ceritamu.com, wisatasumatera.wordpress.com, galeriwisata.wordpress.com)

Pasar tradisional Berastagi (Sumber: diarysivika.blogspot.com, pholoroid.blogspot.com, jelajah.valadoo.com, food.detik.com)

Setelah puas berbelanja di Pasar tradisional Berastagi, kami pun beranjak menuju Pagoda hindu yang terbesar di kota Berastagi yang disebut dengan Pagoda Taman Alam Lumbini. Pagoda ini berwarna kuning keemasan dan sebagian bangunannaya terbuat dari emas. Konon katanya, Pagoda ini merupakan yang terbesar yang ada di Indonesia. Sayangnya kita tidak diperbolehkan masuk ke dalam, kecuali bagi yang berniat beribadah. Pagoda ini letaknya tak begitu jauh dari pusat kota Berastagi, namun, jalanan menuju ke sana cukup sulit, pasalnya jalan tersebut tidak beraspal beton melainkan hanyalah tanah alias off road. Ditambah lagi kondisi cuaca yang hujan gerimis membuat jalan menjadi sedikit basah dan becek. Namun, jaraknya ke dalam area Pagoda dari jalan raya utama tidaklah terlalu jauh, hanya sekitar 800 meter. Selain itu di pinggir kiri dan kanan sepanjang jalan itu terdapat pemandangan hamparan kebun strawberry yang cukup luas. Kebun ini disediakan pula untuk pengunjung. Kita dapat memetik buah strawberry dan membelinya sesuai timbangan.

(Pagoda Taman Alam Lumbini, Berastagi. Sumber: 1.bp.blogspot.com, travel.detik.com)

Kunjungan kami ke Pagoda ini mau tak mau harus berhenti ketika hujan deras mengguyur tempat ini. Hoho. Tapi tak mengapa, sebelumnya saya sendiri sudah cukup puas melihat-lihat dan berfoto disana bersama keluarga. Karena hujan gak ketulungan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke objek wisata lainnya, yaitu pemandian air panas Berastagi. Meskipun diguyur hujan deras seperti ini, keluarga tetap bersemangat untuk pergi ke sana. Pasalnya cuaca yang dingin seperti ini sangat cocok berendam di air panas.

Jalan menuju ke pemandian air panas Berastagi cukup jauh dari Pagoda, sekitar 5 km. Namun, jalanannya sudah bagus dan beraspal beton. Pemandian air panas ini terletak di kaki gunung Sibayak, dengan pemandangan alamnya yang bagus sekali, namun sayang ketika itu hujan cukup deras sehingga awan mendung terlihat menutupi. Disana tersedia kolam-kolam besar yang siap menampung hasrat pengunjung untuk berendam air panas, juga sarana-sarana pendukung seperti cafe, ruang ganti dan kamar mandi. Tersedia juga kolam VIP untuk mereka yang ingin merasakan sensasi yang lebih nyaman di tengah vila-vila yang berdiri kokoh di sekelilingnya. Bahkan kita bisa menginap di tempat tersebut jika mau.

(Pemandian Air Panas Berastagi, sumber: catatankecilkeluarga.wordpress.com)

Yap, alhamdulillah, itulah keseruan kami di Kota Berastagi di hari keempat perjalanan ke Sumut. Meskipun masih banyak tempat objek wisata yang belum dijamahi, seperti Hill Park dan Bukit Lawang, jalan-jalan singkat dadakan ini sudah cukup melelahkan. Hehe. Setelah puas dari pemandian, kami pun kembali ke Binjai untuk beristirahat. Tak sabar menunggu esok untuk kembali bertualang. Yang penting, jalan-jalan sembari melihat hal-hal baru yang belum pernah ditemui.

#to be continued

2 thoughts on “Traveling to Sumut #3

  1. Kota Berastagi ini kelihatan bersih dan teratur ya🙂 Dan Pagoda Taman Lumbini ini..nggak nyangka ternyata ada pagoda berlapis emas di Indonesia, kirain hanya di negara yang mayoritas warganya menganut Hindu/Budha saja yang ada🙂

    Btw, makanan di Berastagi gimana, An? Masih banyak yang jual makanan halal?

    Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s