Traveling to Sumut #4

#DAY 5

Nggak kerasa sudah lima hari kami berkelana jauh dari rumah. Hari itu Senin, 29 Desember 2014. Saya merasa masih ada yang kurang, pasalnya masih banyak tempat khususnya di Medan sendiri yang belum kami kunjungi. Yap, perjalanan kami hari ke lima lebih terpusat di Kota Medan. Pagi-pagi sekali saya sudah siapkan list tempat-tempat yang bakal dikunjungi. Ya walaupun pada akhirnya tidak semua list bisa terpenuhi. Hehe🙂

Pagi-pagi hari saya begitu bersemangat hendak ingin melancong ke Kota Medan, namun tiba-tiba hujan deras pun turun. Alamat nasib yang gak tersampaikan, alhamdulillah hujan pun berhenti baru pukul 11 pagi. Memang beberapa hari ini Binjai sedang musim hujan, awan mendung selalu terlihat. Tapi tak mengapa, toh pagi-pagi kegiatan kami tetap seperti biasa, menghabiskan sarapan buatan tante Epi, ketawa-ketiwi pagi hari ditemani siaran TV, dan obrolan hangat keluarga. Syukurlah meskipun lagi musim hujan, acara kami tetap jalan no matter what happened.🙂

Namun, pagi itu rumah pun mejadi sedikit terdiam setelah mendengar pemberitaan tentang hilangnya Pesawat Air Asia QZ 8501 jurusan Surabaya – Singapura. Kejadian itu cukup membuat seisi rumah terfokus pada televisi. Belakangan diketahui pesawat yang membawa ratusan penumpang tersebut telah jatuh di perairan Selat Karimata. Saya turut berduka yang teramat mendalam dengan kejadian tersebut. Semoga keluarga yang ditinggalkan dapat diberi ketabahan dan korban-korban yang hilang masih dapat ditemukan. Amin..

***

Yap, kembali ke cerita jalan-jalan. Di hari ke lima ini, destinasi pertama yang kami kunjungi adalah taman buaya Asam Kumbang. Lokasinya berada di barat daya kota Medan. Meski diwarnai gerimis namun tidak menyurutkan semangat kami yang sedang haus jalan-jalan. Hehe. Seperti biasa, tante Epi dan adik-adik sepupu siap menjadi tour guide dalam perjalanan. Lokasi taman Buaya ini tidaklah di pusat kota, namun tidak pula di pinggiran kota. Pertengahan lah, sekitar 5 km dari pusat kota, tepatnya di Jalan Bunga Raya Kecamatan Medan Selayang No.59 Desa Asam Kumbang. Setibanya di sana kami memarkirkan mobil di area parkir yang sudah disediakan. Biaya masuk taman buayanya cukup terjangkau.



Taman Buaya Asam Kumbang ini merupakan taman buaya terbesar di Indonesia, luasnya sekitar 2 hektar! Bahkan katanya terbesar di Asia Tenggara. Di tempat ini, ada sekitar dua ribu lima ratus ekor buaya! Mulai dari usia baru lahir hingga yang paling tua sekitar empat puluh tahun lebih. Benar-benar menegangkan. Hoho. Taman ini terdiri dari beberapa kandang penangkaran buaya, dan sebuah area luas dengan kolam raksasa dan tanah layaknya hutan belantara. Tidak hanya ada buaya di sana, namun terdapat ratusan burung bangau, beberapa ekor ular dan kura-kura. Buaya-buaya di sini makananya adalah unggas, seperti itik dan teman-temannya. Sayangnya saya tak melihat prosesi makan siangnya, meskipun nyaris melihat, sebab ketika itu tiba-tiba ada itik nyasar ke kolam buaya raksasa, namun berhasil melarikan diri dari serbuan para buaya. Huhuhu, serem. :,( Ada juga yang unik disana, yakni seekor buaya yang tidak mempunyai ekor layaknya buaya-buaya lainnya. Dia dikandangi sendirian. Mungkin karena unik kali ya?😛


Taman Buaya Asam Kumbang

Setelah puas sekitar satu jam berkeliling di Taman Buaya Asam Kumbang, kami pun bergerak ke pusat kota Medan. Tentu saja, tempat yang wajib dikunjungi tandanya sudah pergi ke Medan adalah, Istana Maimun dan Masjid Raya Medan. Yap! Bangunan bersejarah yang menjadi ikon Kota Medan ini, dulu hanya pernah saya lihat di televisi atau foto-foto di internet, dan alhamdulillah kesampaian juga menginjakkan kaki di sana.

Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Istana Maimun. Istana ini dahulunya merupakan Istana Kesultanan Deli yang dibangun oleh Sultan Deli ketika itu, Sultan Mahmud Ar-Rasyid. Istana ini mulai dibangun pada tanggal 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891. Arsitekturnya bergaya campuran Melayu, Spayol, India dan Italia. Istana melayu ini terlihat begitu anggun, sayang kami tidak bisa masuk sebab sedang direnovasi. Saya baru mengerti sekarang, bahwa sebenarnya Medan ini sebenarnya merupakan kota peradaban bangsa Melayu. Padahal, selama ini saya memahami jika Medan itu identik dengan batak, dengan horas-nya, namun sepertinya tidaklah demikian. Bangsa Melayu di Sumatera Utara ini ternyata sangatlah besar, dan sebagian besar tinggal di pesisir timur Sumatera Utara, sepanjang Selat Malaka, sementara bangsa batak, berdomisili di bagian tengah Sumut, yaitu Toba dan Samosir, yang katanya merupakan asal-muasal bangsa Batak.

Istana Maimun (sumber: 3.bp.blogspot.com)

Setelah puas berkeliling di Istana Maimun, kami pun beranjak ke Masjid Raya Medan yang dahulu dikenal dengan sebutan Masjid Al-Mashun. Sebenarnya masjid ini merupakan satu kesatuan dengan Istana Maimun, sebab Istana Maimun juga berdiri menghadap Masjid ini. Masjid ini dibangun pada tahun 1909, oleh Sultan Deli ke sembilan, yaitu Ma’mun Ar-Rasyid. Bangunannya yang megah beraksitektur campuran Melayu, Timur Tengah, India, Spanyol dan Italia membuat masjid ini sangat unik dan tak bisa dipandang sebelah mata. Kami pun menyempatkan diri shalat di sana. Tempatnya yang lapang dan sejuk, karpetnya yang lembut, membuat shalat terasa nyaman dan lebih khusyu’. Tidak hanya orang muslim yang berkunjung, wisatawan mancanegara pun boleh masuk, dengan terlebih dahulu diwajibkan memakai jilbab bagi perempuan untuk menutup aurat, dan sarung bagi laki-laki bercelana pendek. Jilbab dan sarung disediakan oleh petugas di gerbang Masjid ini. Bahkan ada tour guide khusus yang memandu mereka mengitari masjid, dan saya melihat ketika itu merekapun belajar shalat. *Bule perempuannya cantik banget lagi pake jilbab, serius! Hahaha. Astaga..🙂’

Masjid Raya Medan

Sepulang dari Masjid Raya Medan, kami berniat menuju rumah adik Om Adi yang tinggal di Pulo Berayan, Sekitar 15 km dari pusat kota Medan. Biasalah, acara silaturahmi keluarga ditutup dengan obrolan seru yang berakhir jam 10 malam. Ckck. Seperti biasa, jalanan Kota Medan muacet mintak ampun! Lebih kurang satu setengah jam kami baru sampai di sana ketika adzan Ashar berkumandang.

#DAY 6

Hari ke enam, Selasa, 30 Desember 2014. Seperti hari sebelumnya, kami pun melanjutkan destinasi jalan-jalan keliling Medan. Di hari ini, kami beranjak menuju Kota Pelabuhan yang terbesar di Sumut, yakni ke Kota Belawan. Kota ini berjarak sekitar 25 km dari pusat Kota Medan. Jalanan ke sini, gak perlu ribet-ribet, ada jalan tol yang tersedia. Jalan ini membentang sepanjang 30 km dari Kota Belawan menuju Tanjung Morawa, Medan. Cukup membayar harga tiket masuk tol Rp 4000 untuk satu mobil pribadi, kami sampai di Belawan dalam waktu nyaris 15 menit dari kota Medan. Ya iyalah, namanya juga jalan bebas hambatan, hingga mobil kami pun mampu berlari kencang dengan kecepatan 110 km/jam, *serasa naik pesawat. Ckck.

Sepanjang jalan menuju Belawan, hanya terlihat hamparan padang rumput yang luas di balik penampakan gedung-gedung kota Medan. Ketika memasuki kota Belawan, saya cukup tertegun melihat masih adanya rumah-rumah kumuh yang berdiri di pinggiran kota Belawan, kota Pelabuhan terbesar di Sumut ini. Lupakan. Hehe. Kami pun kemudian masuk ke Pelabuhan Belawan dengan membayar karcis masuk sebesar Rp 5.000. Saya pikir bisa gratis.. Ckckck. Hanya sekedar ingin tahu, kami pun berkeliling pelabuhan yang panas ini. Tampak beberapa kapal besar pengangkut barang dan beberapa kapal kecil yang sedang bersandar di tepi pelabuhan. Selain itu banyak ditemukan peti-peti berukuran besar yang mungkin isinya barang-barang komoditi perdagangan ekspor atau impor. Selain itu di tempat ini juga terdapat pabrik pengolahan minyak kelapa sawit mentah dengan tabung-tabung raksasa hampir di setiap sudut pelabuhan, mungkin saja juga bakal diekspor. Saya juga kurang yakin. Hehe.

Pelabuhan Belawan (sumber: infowisataterbaru.com, static.panoramio.com)

Setelah puas berkeliling Pelabuhan Belawan, kami pun menyempatkan diri untuk berkeliling ke Kota Belawan dan singgah di Pasarnya. Pasar Belawan terlihat cukup ramai namun beberapa bagian jalannya sedikit berlubang. Pasar Kota Belawan banyak dipenuhi oleh barang-barang impor, rata-rata dari Malaysia, Cina dan Singapura. Harganya pun selangit, membuat air liur menetes. Ckck. Barang-barang yang dijulan beraneka ragam, mulai dari keramik yang paling banyak dijumpai di sini, barang-barang keperluan rumah tangga, sepatu, tas, perabot, hingga makanan-makanan ringan yang sebagian besar adalah barang impor. Konon katanya, banyak juga yang menjual barang hasil selundupan ilegal di sini, siapa yang tahu.

Penampakan Kota Belawan (sumber: kemanaaja.com | panoramio.com)

Sekembalinya dari Belawan, kami pun bertolak ke sebuah pantai di pesisir timur Sumatera, di pinggiran Selat Malaka. Lokasinya jauh di sebelah tenggara pusat Kota Medan, tepatnya di utara Kota Perbaungan. Kami pun kembali bertolak ke Medan melalui jalan tol yang sama dan sampai di akhir pintu tol di Tanjung Morawa. Setelah tiba di Tanjung Morawa kami berlanjut menelusuri jalan hingga ke Lubuk Pakam, hingga sampailah di Kota Perbaungan. Dari Kota Perbaungan, kami beranjak ke arah utara menuju pantai tersebut. Pantai yang dikenal dengan sebutan Pantai Cermin ini berada sekitar 10 km dari Kota Perbaungan. Total jarak yang kami tempuh dari Belawan hingga sampai di Pantai Cermin adalah sekitar 66 km, Butuh waktu sekitar 2 jam hingga kami sampai ke sana setelah terlebih dahulu berhenti di Masjid untuk shalat.

Pantai Cermin, dinamai pantai cermin mungkin karena pasirnya yang menyerupai kaca dan cermin. Benar-benar seperti serpihan kaca. Kesat dan berkilauan, putih dan bersih. Di sana juga tersedia pondok-pondok lesehan yang berjejer mengarah ke pantai, tempat yang cukup nyaman untuk menggelar tikar dan makan bersama. Selain itu di sana tersedia wahana banana boat, dan kapal perahu untuk mereka yang ingin mengitari kawasan pantai. Mungkin pantai bukanlah hal yang baru bagi saya, sebab Padang sudah lebih dari cukup untuk melihat pantai sampai bosan, hehe, namun ada yang unik di sini. Pantai ini banyak dijumpai bermacam-macam fauna laut seperti kerang, kepiting dan udang. Penjual makanan di sini banyak menyuguhkan kita makanan hasil tangkapan laut seperti sate kerang, sate cumi, dan sejenisnya. Di sepanjang perjalanan menuju pantai yang dipenuhi kebun sawit ini pun banyak ditemukan kedai-kedai penjual kerang. Namun, jangan pernah berharap akan melihat sunset di pantai ini, sebab, pantai ini mengarah ke timur, ckck. Matahari justru akan membelakanginya ketika senja. Mungkin pemandangan sunrise di pagi hari di sinilah yang akan berbeda. Hm.. Seperti apa ya sunrise di laut? Ckck

Pantai Cermin

Yap, hingga akhirnya perjalanan kami usai sekitar pukul 17.30 WIB. Setelah menghabiskan waktu seru-seruan di pantai hingga petang, kami pun kembali ke Binjai setelah sebelumnya singgah di Medan untuk mengunjungi saudara yang sedang sakit. Akhirnya kami pun kembali selamat di Binjai sekitar pukul 21.00 WIB.

Yap, alhamdulillah, jalan-jalan di Medan selama 2 hari ini cukup menyenangkan. Banyak dijumpai hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah terlihat. Sembari menghabiskan hari-hari terakhir di kota Medan, sembari berharap hari esok masih ada dan lebih menyenangkan.🙂

#to be continued

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s