Traveling to Sumut #5 [The End]

# DAY 7

Memasuki hari ke tujuh di Binjai, Rabu, 31 Desember, tepat di penghujung tahun 2014, mata saya kembali terbuka di permulaan hari yang ketika itu masih terlihat gelap. Hari ini adalah hari terakhir kami berkelana di Sumut, ketika esok hari hendak kembali pulang ke Payakumbuh. Sudah banyak tempat yang kami kunjungi, meskipun sebenarnya masih banyak pula yang belum. Hehe. *Padahal niatnya sampe ke Banda Aceh, hho. Tapi tak mengapa, liburan sekolah mama dan papa akan segera usai, dan waktunya bagi kami untuk pulang. Lagian badan udah pegel-pegel semua. Hehe🙂

Di hari ini, tak begitu banyak kegiatan yang kami lakukan. Pagi hari itu mama mengajak saya berjalan kaki menyusuri kota Binjai hingga melihat-lihat pasar kota ini di pagi hari. Pasar Kota Binjai tak begitu jauh dari tempat kami menginap. Keluar sekitar 500 meter dari gang rumah, belok kiri menelusuri pinggiran lapangan Merdeka sambil berjalan menelusuri pedestrian yang ada, hingga tak berapa lama kami pun sampai sudah di pasar kota ini.

Pasar kota Binjai sedikit mengingatkanku dengan pasar Payakumbuh, tentunya lebih bersih dan tertata rapi, nyaman diajak berjalan kaki. Pedestriannya yang cukup memadai dan terbebas dari pedagang kaki lima menambah kenyamanan di bawah sayup-sayup cahaya matahari yang sesekali mengintip dari balik awan. Udara pagi Kota Binjai yang sejuk membuat badan tak terasa lelah, begitu nyaman. Di sepanjang jalanan pasar, di sisi kiri dan kanan yang dibelah oleh jalan raya dua arah, terdapat ratusan toko-toko yang menjual beraneka macam dagangan. Mulai dari peralatan rumah tangga, makanan dan minuman, perhiasan, pakaian, perabotan dan bermacam-macam pun lengkap di sini. Jejeran becak sepeda motor pun dengan ramah terparkir rapi di sepanjang jalan, demikian juga dengan bendi-bendi dengan ornamennya yang cantik. Benar-benar suasana yang nyaman untuk jalan kaki sekaligus berbelanja.

Awalnya hanya berniat menemani mama pergi berbelanja, berdua saja, namun pada akhirnya saya pun tergiur hendak membeli sebuah jam tangan keren yang harganya sangat terjangkau. Rata-rata orang di sini mematok harga yang selangit saat pertama kali menawar harga, misalnya saja jam tangan saya yang dihargai 100 ribu ketika pertama kali bertanya, namun jika ditanya, “harga pas nya berapa ya mbak”, walhasil kebeli juga seharga 70 ribu. Ada lagi misalnya tas punggung keren seharga 350 ribu, bisa turun menjadi 225 ribu rupiah saja. Jauh banget kan? Rata-rata begitulah, hehe. Untung saya dan mama cukup lihai menawar-nawar harga, akhirnya bisa kediskon sebanyak itu. Hehe.

Setelah puas berjalan kaki sekalian jajan, kami pun beranjak kembali ke rumah. Pukul 11.00 pagi kami pun bertolak ke Medan, berniat mengunjungi pusat perbelanjaan yang ada di kota metropolitan itu. Pilihan kami jatuh ke Mall Carrefour, yang lokasinya tak sulit ditemui, di jantung Kota Medan. Mall ini besar banget, saya lupa entah 6 atau 7 lantai. Di sana dijual berbagai macam barang-barang kualitas prima dan bermerek terkenal, mulai dari pakaian, sepatu, alat-alat elektronik, dan sebagainya. Cukup waktu sekitar 4 jam kami berkeliling-keliling mall, ya meskipun sebenarnya semua mall itu ya mirip aja kesannya. Ckck.



Carrefour Mall Medan (Sumber: www.lippomalls.com,

Yap, usai puas berbelanja dan mencuci mata di salah satu Mall terbesar di Kota Medan itu, kami pun kembali ke Binjai. Kebetulan sekali malam ini adalah malam pergantian tahun. Sebelumnya di Kota Binjai sendiri sudah banyak terpajang poster-poster perayaan malam tahun baru yang terpusat di Lapangan Merdeka Binjai. Ratusan kembang api pun telah disediakan oleh pemerintah kota, lengkap dengan panggung konser artis kenamaan dari ibukota dan segudang acara lainnya. Keluarga besar Om Adi pun akhirnya berkumpul semua di malam tahun baru itu, mengadakan acara besar makan bersama dan panggang ikan. Malam tahun baru pun sempat diguyur hujan lebat sebelum tepat pukul 00.00 WIB. Tapi ya, sepertinya kasur empuk jauh lebih menggoda saya dari pada harus begadang larut malam sambil berhura-hura menunggu pesta kembang api, menonton konser musik dan meniup-niup terompet. Saya pun lebih memilih tidur lebih awal. Hohohoho…

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim)

Yap, itulah malam terakhir kami di Binjai, dan ketika pagi, kami pun melepas rindu dan pamitan dengan keluarga besar papa, berterima kasih banyak atas segala kebaikan dan service nya yang to the max abiss. Alhamdulillah. Semoga suatu saat kami bisa berkumpul kembali, entah di Binjai atau di tempat dan waktu yang berbeda lagi. Dan akhirnya, pagi itu, Kamis, 1 Januari 2015, kami pun bertolak kembali ke Payakumbuh, menuju ranah minang yang telah maimbau-imbau di ujuang palupuak mato. Sungguh perjalanan yang singkat namun menyenangkan. Semoga banyak membawa berkah dan membawa hikmah untuk ke depannya, terutama bagi sanak saudara papa yang sudah lama tidak berjumpa. Terima kasih Sumatera Utara, sudah mengisi waktu liburanku setelah lelah dalam penantian yang panjang.. Hehe. See you again 🙂 Alhamdulillahirabbil’alamin..

#the end.

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s