Tetaplah Mekar Meskipun Gersang

Suatu ketika, sebuah tanaman berbunga biru pernah tumbuh subur di halaman rumah. Saat itu, udaranya begitu bagus, tidak panas, tidak dingin.. Hujan gerimis pun sesekali silih berganti membasahi tanahnya. Angin sepoi sepoi membawa serbuk sarinya beterbangan, seolah-olah, mengundang para lebah untuk segera menghisap madunya yang manis.

Tapi, yang namnya musim pasti akan silih dan berganti. Ketika tiba-tiba hujan badai dan angin kencang pun datang dan meluluh lantahkan setiap tanaman dengan mudahnya, bunga biru itupun ikut hancur dan kelopaknya beterbangan. Tak ada yang bisa ia perbuat melainkan pasrah dengan alam yang mempermainkannya. Sekarang, ia pun menjadi bunga sebatang kara di tengah semak belukar, kehilangan mahkota dan tak lagi dilihat para lebah.

Maka, suatu ketika ia bertanya pada diri sendiri, “apakah aku begitu rapuh?”

Sampai suatu saat ia pun tak kunjung mendapatkan jawabannya. Silih berganti musim pun kembali bertukar. Ia pun kembali berusaha tumbuh dengan memekarkan dedaunan dan mahkota bunganya yang biru memekar. Para lebah pun kembali termanjakan olehnya. Namun, pengalaman pahit yang ia dapatkan membuatnya ketakutan, entah apa yang ia takutkan.

“Aku takut badai itu akan kembali datang dan meluluh lantahkan semua mahkotaku.” Hati kecilnya berkata demikian. Tapi, ia sendiri tak begitu meyakininya.

Ia seolah-olah melanjutkan hidupnya dalam kebohongan. Menjadi sebuah tanaman indah yang disukai para lebah. Serbuk sarinya seolah bagaikan harapan yang akan memekarkan setiap bunga yang akan tumbuh kemudian. Kupu-kupu pun tak jarang hinggap di setiap helai mahkota birunya yang menawan. Tapi, lagi-lagi dia masih berada dalam kegelisahan. Gelisah saat musim hujan badai pun menerjang.

Mana kala sang bunga seolah terlihat tegar memekarkan kelopak dan mahkotanya, mungkin tak kan ada yang mengira adanya sebuah ketakutan bersemayam dalam dirinya. Maka, ia pun kembali diuji dengan datangnya kemarau panjang.

Ia hanyalah sang bunga yang akan mudah layu jika gersang. Kelopaknya akan jatuh satu persatu dan tak menyisakan keelokannya. Maka ketika itu, ia tak lagi bersemangat menjalani hari-harinya.

Namun, ada satu hal yang baru ia sadari.

“Ada apa dengan diriku? Kenapa aku begitu takut? Wahai diriku, bukankah tak masalah bagimu walaupun beratus kali hujan badai menerjang, walaupun beratus tahun kemarau panjang, toh kamu masih akan tetap menancapkan akarmu di tanah gersang ini, dan tumbuh mekar kembali ketika semua telah berlalu?”

Maka ketika itu, sang bunga pun perlahan mulai belajar akan arti hidup. Siapa sangka, ia baru mengetahui satu hal yang sangat penting namun tak pernah terlintas dalam benaknya. Ia jadi mengenali dirinya sendiri, karena ia telah diciptakan Rabb-nya sedimikan rupa, sebagai bunga yang akan selalu tumbuh meskipun telah dikira mati, karena ia adalah, sang Bunga Bougenvile.🙂

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.(QS. Fushilat: 30)

2 thoughts on “Tetaplah Mekar Meskipun Gersang

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s