ilustrasi: saungmuslimblog.wordpress.com

Salah Niat

Siklus bangun dan tidur berlanjut setiap hari. Jam bangun pagi pun berbeda-beda pada setiap orang. Bagi pelajar yang ingin ke sekolah dan tak ingin terlambat mestilah bangun lebih pagi, demikian juga dengan pekerja kantoran dan pegawai tetap yang setiap hari memiliki jadwal khusus untuk agenda setiap pagi. Namun, bagaimana dengan orang-orang di luar sana yang tidak memiliki siklus tetap dalam hidupnya? Atau, ketika hari libur telah tiba akankah bangun pagi seperti pada hari-hari biasanya? Who knows.

Itu baru dalam masalah bangun pagi, belum lagi yang lain. Akitivitas sehari-hari, seperti sarapan, mandi, belajar, olahraga dan sebagainya pun berbeda-beda pada setiap orang. Apakah penyebabnya? Mungkin hal yang bisa kita jadikan jawaban adalah, “niat”. Yap. Tak kan mungkin seorang bekerja sesuatu tanpa didahului niat, walaupun tak disadari, walaupun tak diucapkan. Benar tidak? Ketika bangun pagi, sang mahasiswa berniat bangun lebih pagi karena takut terlambat masuk kelas yang dijadwalkan jam tujuh pagi. Petani menanam bibit di sawah, dengan niat memanen beras ketika musimnya tiba. Bahkan ke toilet pun ada niatnya kan? Hehe.

Rasulullah saw bersabda, “Innama a’malu binniat”“sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (H.R. Muttafaq ‘alaih). Maka benarlah apa yang disabdakan oleh beliau saw. Lebih lengkapnya haditsnya seperti ini:

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Mari istighfar.

Sebagai seorang muslim, akankah perkara niat kita hanya sesepele niat di atas? Bangun pagi untuk pergi sekolah, belajar untuk lulus ujian, olah raga untuk lebih sehat, dan lain-lain sebagainya. Sekilas mungkin ada benarnya, namun Allah mengajak kita untuk “berfikir”. Untuk apa sebenarnya kita melakukan semua itu?

Mungkin selama ini diri ini sudah salah niat. Mestinya kita menyadari hal yang jauh lebih dari itu. Karena seharusnya, bagi seorang muslim, niat kita adalah seperti yang disabdakan baginda rasulullah saw, “Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.” Maka, kita bangun karena Allah dan Rasul-Nya. Kita belajar pun karena Allah dan Rasul-Nya. Kita melakukan apapun karena Allah dan Rasul-Nya. Namun ironisnya setelah mengetahui semua itu, kenapa masih tetap saja kita selalu mempraktekkan, “barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.”?

Astaghfirullahal’adzhim. Maka sampai kapan kita bisa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya?😥

Ya Allah, tunjukkanlah kami jalan yang lurus.

Ilustrasi: saungmuslimblog.wordpress.com

2 thoughts on “Salah Niat

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s