Di depan Milano Centrale, sayangnya tidak sempat mendokumentasikan terminal stasiun Milano Centrale-nya. :'(

Towards Genova Town #Italychronicles – Part 2

Rabu, 3 Maret 2015. Sebuah tapak perjalanan kembali terukir di daratan Eropa, ketika ku mulai melangkah ke atas pesawat yang akan membawaku terbang menuju Milan, Italy. Cuaca di luar landasan pacu begitu dingin, angin sepoi-sepoi pun bahkan bagaikan butiran es yang menusuk ke setiap kulit ari. Maka setelah ku duduk di bangku pesawat Lufthansa Airline, penerbangan itupun dimulai.

Dari atas pesawat sesekali ku menengok ke luar jendela. Gugusan pegunungan bersalju pun tampak menghiasi pemandangan, diselingi dengan beberapa danau kecil yang terlihat membiru. Ku pikir amatlah dingin di luar sana. Aku tak bisa membayangkan berapakah suhunya.

Pemandangan di luar jendela pesawat
Pemandangan di luar jendela pesawat

Alhamdulillah, setelah sekitar satu jam perjalanan, aku pun mendarat di sebuah kota metropolitan di utara Italia, Milan. Kota ini cukup luas, dan mungkin merupakan pusat koneksi italia dengan dunia luar. Setelah mengambil bagasi dan menyelesaikan urusan di bandara, aku pun kembali berusaha mencari sinyal wifi gratis yang tersedia. Hehe. Apa boleh buat, selama belum memiliki SIM card Italy, wifi merupakan sarana satu-satunya bagiku untuk bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Alhamdulillah, di bandara Milan Linate ini terdapat wifi yang bisa dipakai gratis oleh semua orang, tentu saja tak kan kulewatkan.😛 Akupun kemudian menghubungi Contact person (CP) di Italy dan mereka menuntunku agar bisa sampai di Genova, Italy, tempat dimana ku akan mengikuti kegiatan medical student exchange.

Alhamdulillah, wifi ini sangat membantu. Setelah mendapat informasi yang cukup, aku pun berusaha mengikuti arahan sang CP. Pertama, aku harus mecari bis tujuan Milano Centrale Station. Bis ini rupanya ada di luar bandara, tak sulit mencarinya. Setelah membayar tiket sebanyak 5 Euro ke petugasnya, aku pun menitipkan barang di bagasi bis dan menaikinya kemudian duduk di bagian paling depan dekat dengan sang supir. Sang supir pun terlihat gagah dengan jas dan topinya yang keren. Aku pikir, orang Eropa benar-benar menghargai setiap profesi, bahkan supir pun berpakaian layaknya seorang kapten.🙂 It’s awesome!

Perjalanan pertamaku di kota Milan cukup terobati dengan menaiki bis ini. Aku pun bisa melihat sudut-sudut kota Milan yang rapi dan bersih. Nyaris tak ada kendala seperti macet dan sebagainya dalam perjalanan, semuanya tertata begitu rapi dan orang-orang melaju dengan aman. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk bisa sampai di Milano Centrale Station, pusat stasiun kereta di kota Milan.

Bus pun akhirnya berhenti tepat di depan stasiun. Aku pun turun membawa tas koper yang super berat dan berusaha mencari informasi dimana aku bisa mencari tiket kereta menuju Genova. Setelah bertanya kian kemari dengan bahasa Inggris seadanya, hehe, alhamdulillah aku menemukan sebuah loket yang menjual tiket ke berbagai macam tujuan. Aku pun membeli tiket kereta menuju Genova Piazza Principe. Dengan membayar seharga 13,5 euro aku pun mendapatkan tiket kereta reguler, dan petugasnya pun menunjukkan ku jalan kemana ku bisa mencari kereta tersebut agar bisa sampai ke Genova.

Di depan Milano Centrale, sayangnya tidak sempat mendokumentasikan terminal stasiun Milano Centrale-nya. :'(
Di depan Milano Centrale, sayangnya tidak sempat mendokumentasikan terminal stasiun Milano Centrale-nya.😥

Stasiun Milano Centrale ini begitu besar. Ada banyak terminal di sini, dan setiap terminal terdapat kereta yang akan membawa penumpang ke berbagai penjuru Italia dalam jadwal tertentu. Setiap 20 menit, kereta pun berbeda, dengan tujuan berbeda. Di lokasi ini, kita bisa membaca jadwal keberangkatan setiap kereta, lengkap dengan tujuan, waktu keberangkatan, dan terminal mana yang harus kita ambil. Jika bingung, tak perlu khawatir, disana akan ada petugas yang berseragam yang siap untuk ditanya kapan saja jika kita tersesat.

Sebelum menaiki kereta, kita harus “memvalidasi” tiket yang kita beli. Meski sedikit bingung, aku pun berusaha mencari tahu bagaimana caranya dengan melihat orang-orang melakukannya, ternyata cukup dengan hanya memasukkan ujung kertas tiket ke mesin khusus, maka secara otomatis kertas tiket kita akan divalidasi dan diberi tanda waktu dan tanggal validasi di ujung kertas tersebut.

Alhamdulillah, setelah penat berkeliling mencari informasi kereta, aku pun menemukan kereta menuju Genova, meskipun dengan rute yang berbeda, ke Genova Brignole Station. Kereta itupun berangkat pukul 16.25. Meski penuh keraguan karena mengambil rute yang berbeda dengan tiket yang ku beli, pasalnya kereta menuju Genova Piazza Principe berangkat pukul 18.15, akhirnya ku putuskan untuk naik ke kereta menuju Genova Brignole Station ini. Dengan bismillahirrahmanirrahim ku naiki kereta, ku cari tempat duduk yang nyaman, dan aku pun tertidur pulas selama perjalanan. Ku berharap aku tak tersesat dan Allah akan memberikanku pertolongan.

Rupanya Allah Maha Tahu apa yang aku gelisahkan. Allah memang senantiasa memperhatikan setiap hamba-Nya, dan pertolongan-Nya datang dengan sendirinya. Ketika aku membuka mata di atas kereta, seorang perempuan berambut ikal panjang berwarna coklat kehitaman, berpakaian jaket hitam tebal ber-syal merah, rupanya telah duduk di depanku. Rupanya dia adalah Ilaria Mirabeli, sang CP yang dari tadi menuntunku dalam perjalanan. Alhamdulillaaah, ku pikir dia sengaja duduk di depanku dan menungguku terbangun dari tidur lelapku di atas kereta yang melaju hampir selama 2 jam itu. Dengan keberadaannya disini, aku tak perlu khawatir lagi bagaimana caranya ku bisa sampai ke penginapan. Fabiayyi alaa I rabbikuma tukazzibaan..!

Cukup panjang perbincangan kami di atas kereta, meskipun dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, demikian juga dengan teman baruku ini, karena orang italia ternyata juga tidak terbiasa berbahasa Inggris, dan sesungguhnya pada umumnya orang italia memang tidak bisa berbahasa Inggris dengan lancar, karena Italian speaks Italians, not English. Tapi tak apa, Alhamdulillah kami tetap bisa mengerti satu sama lain, hingga akhirnya keretapun berhenti di Genova Piazza Principe! Meski agak sedikit bingung, ternyata kereta menuju Genova Brignole tetap akan melewati Piazza Principe ini. Alhamdulillah… Dan di luar sana, seorang perempuan berambut lurus setinggi bahu, berwarna coklat muda khas italia, dan berpakaian jaket tebal berwarna kecoklatan, pun telah siap menanti. Dia adalah CP keduaku, Rebecka. Alhamdulillah, keduanya menuntunku menuju penginapan dengan menaiki bis dan Alhamdulillah pula, aku pun sampai di penginapan dengan selamat pukul 07.30 waktu Genova.

#to be continued

2 thoughts on “Towards Genova Town #Italychronicles – Part 2

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s