Foto terakhir bersama Prof.Giuseppe Martucciello, Dott.Andaloro dan perawat OK di ruang operasi

Menjadi Dokter Muda di Italy #Italychronicles – Part 6

Napasku terengah-engah menelusuri jalan mendaki yang harus ditempuh berjalan kaki. Langkah kedua teman baruku ini begitu cepat dalam ekspresi santainya seolah sudah biasa. Bagi aku yang baru saja tiba di Italia tentu harus segera beradaptasi dengan kebiasaan orang-orang Italia yang berjalan sangat cepat bak diburu hantu saja. Aku tersadar begitu besar penghargaan mereka terhadap waktu yang ada, hingga aku merasa selama ini selalu berjalan seperti marapulai.

Seperti pagi ini, hari pertamaku belajar di luar negeri, di sebuah rumah sakit khusus anak bernama Instituto Giannina Gaslini. Ilaria dan Rebecka, teman baruku itu, adalah dua orang perempuan Italia seumuranku yang menjadi guide-ku selama di Kota Genova, Italia ini. Mereka mengantarku bertemu dengan kepala rumah sakit sambil memperkenalkanku sebagai mahasiswa kedokteran baru dari Indonesia, yang tengah menjalani pertukaran pelajar selama satu bulan di rumah sakit di Kota Genova Italia ini.

Unit Kegiatan Mahasiswa bernama CIMSA (Center for Indonesian Medical Student’s Association) di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas tempatku menuntut ilmu kedokteran itulah yang telah memfasilitasiku hingga bisa berangkat mengikuti studi di Italia ini. CIMSA berafiliasi dengan organisasi pelajar kedokteran sedunia, yaitu IFMSA (International Federation of Medical Student’s Association) yang rutin mengadakan kegiatan pertukaran pelajar kedokteran dari seluruh dunia setiap tahunnya. Menginjakkan kaki di Eropa kala itu, bagaikan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Genova, kota yang dihiasi dengan bangunan-bangunan abad pertengahan Eropa dan mengelilingi sebuah teluk raksasa di Laut Mediterania, merupakan sebuah kota pelabuhan di barat laut Italia. Kota yang menjadi awal segala ilmu dan pengalaman ini bermula di Eropa. Di sanalah aku akan menetap selama satu bulan ke depan. Kota yang amat bersih, teratur dan bersahaja. Kota dengan penduduknya yang ramah dan murah senyumnya. Setiap kendaraan melaju dengan mulusnya tanpa terkendala kerasnya kemacetan seperti di kota-kota Indonesia. Lampu lalu lintas bukan hanya sebagai hiasan. Pejalan kaki seolah dibuat manja dengan trotoar yang tersedia dimana-mana, melintasi pedestrian-pedestrian dengan taman-tamannya yang cantik, menyeberangi jalan di zebra cross tanpa was-was hendak dilawan kendaraan. Bus-bus besar pun berlalu-lalang di setiap sudut kota, berangkat sesuai jadwalnya, memanjakan setiap penumpangnya. Kereta bawah tanah pun siap membawa kita ke tujuan. Semuanya ditemani dengan udara dinginnya yang menusuk, ketika pergantian musim dingin ke musim semi tengah berlangsung, sehingga jaket tebal pun menjadi kawan setiap hari.

Pagi itu aku kembali mempraktikkan kepiawaianku berbahasa Inggris. Tentu saja bahasa Inggris adalah satu-satunya bahasa asing yang aku kuasai, meskipun tidak sebagus bule. Tapi setidaknya komunikasiku dengan profesor yang menyambutku pagi itu tidak terlalu buruk. Meski awalnya beliau mengiraku orang Jepang, mungkin karena rambutku hitam dan mataku agak sipit, atau mungkin karena menurut kabar juga ada mahasiswa baru dari Jepang yang ikut belajar di rumah sakit ini. Profesor Bonioli, sang kepala rumah sakit mengucapkan salam yang amat ramah dengan senyumannya yang lebar kepadaku. Beliau menyapaku dan berharap kegiatanku selama satu bulan kedepan akan menyenangkan. Sambil merogoh ponsel touchscreen-nya seperti kebanyakan ponsel di Indonesia, beliau menelepon seorang professor yang akan menjadi pembimbingku selama belajar di rumah sakit ini.

Ilaria dan Rebecka mengantarku hingga bertemu dengan seorang professor bedah anak di sebuah gedung bertingkat yang tak jauh dari tempat ini. Instituto Giannina Gaslini memiliki komplek bangunan yang cukup luas, masing-masing bangunan memiliki fungsi yang berbeda-beda dan beragam. Rumah sakit ini terletak di tepi pantai Mediterania dengan pemandangan alam yang sangat indah, tepat di kaki daratan yang seolah bukit beregelombang, sehingga kita harus mendakinya dengan anak tangga berkelok-kelok atau berjalan di pinggiran jalan beraspal yang tersedia. Di gerbang masuk terdapat gedung penerima tamu dengan resepsionis yang ramah dan sebuah rak buku berisi majalah, peta dan selebaran-selebaran informasi mengenai rumah sakit yang gratis untuk dibawa pulang. Masuk ke dalam kita pun akan disambut dengan sebuah taman yang luas dengan gereja putih beranak tangga di tengah-tengahnya. Berjalan sedikit kita bisa melihat denah rumah sakit yang di-desain dengan gambar-gambar binatang yang lucu, enak untuk dipandang. Gedung-gedung besar bertingkat seakan menyapaku sambil mengucapkan selamat datang.

Profesor Martucciello terlihat begitu ramah. Senyumannya yang lebar di balik badan beliau yang besar melengkapi rona kebapakannya. Beliau menyapaku hangat mengucapkan selamat datang di bagian Ilmu Bedah Anak, tempat dimana aku akan belajar selama satu bulan ke depan. Seorang perawat perempuan berambut pirang setinggi bahu yang duduk disampingnya pun menyapaku dengan senyuman yang merekah. Ia mungkin tak punya kata-kata yang dapat diutarakan selain senyumnya, karena ia hanya mengerti bahasa Italia. Padahal awalnya aku berpikir jika bule-bule Eropa ini tentulah pandai berbahasa Inggris, namun kenyataannya tidak. Orang Italia kebanyakan memang tidak piawai berbahasa Inggris, melainkan hanya berbahasa Italia. Semacam ada rasa bangga menggunakan bahasa mereka sendiri. Tentu saja, mulai hari itu aku bertekad harus pandai menyapa mereka dalam bahasa Italia.

Kegiatan di Instituto Giannina Gaslini

Sebagai seorang “dokter muda” di rumah sakit anak di Italia ini, aku pun disuguhi dengan pengalaman-pengalaman baru yang sangat berkesan. Kegiatanku di rumah sakit berlangsung setiap hari Senin sampai dengan Jumat dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 12.00 siang. Terkadang aku pun ikut jaga pada malam hari. Stase yang aku lalui bermacam-macam, mulai dari memeriksa pasien di poliklinik rawat jalan, mengikuti dinas jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD), melihat langsung operasi bedah anak di ruang operasi, hingga ikut melihat follow up pasien di ruang rawatan bersama berberapa orang dokter dan perawat.

Profesorku yang baik hati selalu menjelaskan setiap detail mengenai kasus yang ada, menjelaskan prosedur operasi, hingga melayani setiap pertanyaanku dengan sangat antusias. Tidak hanya itu, aku pun diperkenalkan dengan professor-profesor bedah anak lainnya yang juga sangat welcome dengan kedatanganku. Aku pun berusaha membaur dengan berkenalan dengan setiap staf di rumah sakit, mulai dari perawat, dokter residen, staf sekretariat, hingga petugas kebersihan. Setiap pagi aku selalu menyapa mereka dengan bahasa Italia sekedar berucap “Ciao!” (Hai!) dan “Bonjuorno!” (Selamat pagi!) dengan mimik yang berseri-seri. Mereka pun selalu sumringah ketika melihatku dan menyapaku dengan senyum merekah-rekah. Orang Italia begitu ramah dan menyenangkan, ujarku dalam hati.

Selama belajar di rumah sakit ini, banyak sekali hal-hal baru yang aku temui. Ketika di poliklinik misalnya, profesorku terlihat begitu piawai melayani setiap pasiennya. Awalnya beliau mendengarkan keluhan pasiennya dengan seksama, sesekali memasukkan canda, hingga melakukan pemeriksaan fisik dan menjelaskan kepada pasien secara detail tentang penyakitnya sejelas-jelasnya. Bahkan beliau pun selalu menjelaskan prosedur operasi mulai dari manfaat, risiko, bahkan cara operasinya sehingga pasien seolah-olah dibuat manja untuk mengetahui setiap detail tindakan dengan sejelas-jelasnya. Selain itu, disini, setiap hasil wawancara dan pemeriksaan fisik diketik secara rapi di dalam komputer yang terkoneksi secara online. Lengkap dari tanggal kunjungan, identitas pasien, hingga perjalanan penyakit dan terapi yang diberikan ditulis lengkap di dalam komputer ini. Tak heran, sebuah komputer layar lebar tersedia di meja praktek, lengkap dengan mesin pencetak kertas (printer) yang siap mencetak setiap lembaran pemeriksaan dokter semacam resume untuk pegangan bagi pasien. Kertas itupun kemudian ditanda-tangani dan distempel lalu diberikan kepada pasien. Disana tertera lengkap mengenai hasil pemeriksaan dokter sampai dengan cara meminum obat dan terapi yang dianjurkan untuk pasien. Bahkan dibawahnya terdapat alamat dan nomer telepon dokter yang bisa dihubungi jika pasien butuh bantuan. Sungguh pelayanan yang benar-benar maksimal untuk pasien.

Ketika dinas jaga di instalasi gawat darurat yang dikenal dengan istilah Pronto Soccorso, aku pun melihat langsung bagaimana penatalaksanaan kasus-kasus gawat darurat pada anak. Mulai dari kasus yang ringan sampai kasus yang berat. Dokter Avanzini, seorang spesialis bedah anak yang membimbingku ketika sedang dinas jaga di IGD memperlihatkan cara beliau menangani pasien. Tetap saja, sebuah komputer layar besar terpampang di atas meja praktek beliau, siap untuk merekam semua jejak informasi mengenai pasien. Ketika pasien masuk, dokter IGD akan terlebih dahulu memeriksa keadaan pasien, setelah itu pasien akan dikonsulkan ke Dokter Avanzini sebagai spesialis bedah anak. Beliau pun melakukan wawancara dan pemeriksaan fisik pada pasien, kemudian melakukan serangkaian pemeriksaan penunjang pada saat itu juga sampai diagnosis pasien dapat ditegakkan. Jika melibatkan kasus yang menyangkut di bidang lain, maka pasien pun akan dikonsulkan langsung saat itu juga. Pelayanan yang benar-benar maksimal dan sangat nyaman bagi pasien.

Namun, sejatinya kasus-kasus yang kutemui selama di IGD, justru kasus-kasus yang tidak parah seperti kebanyakan terjadi di Indonesia. Walaupun hanya jatuh keseleo, orang Italia akan tetap pergi berobat ke IGD, sebuah kasus yang bagi kita orang Indonesia mungkin hanya cukup dibawa ke tukang urut dan selesai. Tapi tidak disini. Orang Italia sangat memperhatikan kesehatan mereka, mereka akan langsung berobat ketika sedikit saja menderita sakit, tidak menunggu-nunggu lama hingga penyakit itu semakin parah. Kesadaran mereka akan pentingnya kesehatan sangat patut diacungi jempol, sehingga jarang sekali ditemukan kasus-kasus super berat seperti yang selalu ku temui di rumah sakit di Indonesia.

Selain di IGD, aku pun rutin mengikuti dan melihat operasi yang berlangsung setiap pagi sampai siang. Mengenakan baju khusus di ruang operasi yang steril, aku pun leluasa memilih ruangan yang ingin ku lihat. Kamar operasinya tidak jauh berbeda dengan kamar operasi yang kutemui di RS M.Djamil Padang tempat ku menuntut ilmu di Padang, namun yang membedakan adalah komputer. Ya, disini selalu saja ada komputer yang siap mencatat setiap prosedur operasi lengkap dari awal sampai akhir. Dokter asisten operator akan mengetik setiap langkah operasi sesusai operasi selesai di komputer yang dilengkapi dengan sistem online ini. Kasus-kasus yang ditangani di rumah sakit ini pun cukup beragam, mulai dari kasus tumor jinak di kulit seperti lipoma, kasus kelainan-kelainan sejak lahir seperti hipospadia, hernia inguinalis, pectus excavates, undesensus testis, hirscprung disease, hingga kasus-kasus infeksi seperti apendisitis, dan lain sebagianya.

Aku pun berkesempatan melihat prosedur operasi dari awal sampai akhir, sambil mendengarkan dokter yang menjelaskan setiap detail tindakan pada saat operasi kepadaku. Pertanyaan-pertanyaanku pun dijawab dengan sangat antusias oleh sang dokter dan professor yang tengah memakai baju steril khusus operasi, memakai sarung tangan steril dan sedang memegang pisau dan alat-alat bedah di tangan mereka. Aku pun pernah berkesempatan melihat langsung operasi menggunakan robot yang dikenal dengan robotic surgery pada sebuah kasus kelainan pada saluran kemih. Benar-benar canggih. Sang operator hanya akan mengendalikan sang robot dari monitor di sisi ruangan dan robot berukuran besar akan “membedah” pasien dengan sangat gentle. Namun professor-ku mengatakan, operasi robot ini masih sebatas percobaan, belum rutin dilakukan. Beliau pribadi sendiri pun lebih senang melakukan operasi secara manual ataupun dengan bantuan kamera yang dikenal dengan istilah endoscopy.

Tidak hanya di Poliklinik, IGD dan ruang operasi, bahkan ketika kami melakukan kunjungan pada pasien di ruang rawat inap pasca operasi, sebuah komputer yang diletakkan di meja dorong khusus akan selalu dibawa kemana-mana selama melakukan follow up pada pasien. Setiap keluhan dan perkembangan pasien diketik rapi di dalam komputer dorong yang sangat canggih itu. Perawat-perawatnya pun memiliki komputer mereka sendiri, selain alat-alat yang diperlukan untuk mengganti perban bekas operasi pasien dan tindakan-tindakan perawatan lainnya. Kegiatan visite yang mirip dengan yang biasa ku temui di Padang juga rutin dilakukan di tempat ini. Karena selain dokter spesialis dan professor yang bertugas resmi di rumah sakit ini, terdapat beberapa orang residen yang sedang mengambil program spesialis bedah anak dan beberapa orang mahasiswa kedokteran sepertiku dari Universitas di Genova.

Sekali lagi, aku sangat terkesan dengan ramahnya pelayanan di tempat ini. Mulai dari menerima pasien, melayani pasien, menjelaskan penyakit yang diderita pasien, tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada pasien, menjelaskan komplikasi, risiko operasi dan prognosis setiap penyakit pada pasien, sampai memberikan nomer telepon dan alamat yang bisa dihubungi jika ada keluhan lagi. Selain pelayanan pasien yang maksimal aku pun juga memperhatikan bagaimana pentingnya menjaga kesterilan tindakan, melakukan pemeriksaan penunjang yang optimal, memberikan resep obat yang terstandar dan sesuai indikasi, memberikan edukasi pada pasien, hingga prosedur administrasi yang super cepat dan efisien. Meski pasien sangat banyak, nyaris tidak ada antrian yang panjang di lobi-lobi rumah sakit dan waktu pelayanan pada pasien benar-benar sangat optimal dan efisien, sehingga pasien tidak kehabisan waktu hanya untuk menunggu pelayanan, karena waktu di sini, sangat dihargai, meskipun hanya satu menit. Bahkan tidak ada absen di tempat ini, semua petugas kesehatan datang tepat waktu dengan kesadaran sendiri.

Satu hal yang sangat membekas bagiku selama belajar di Instituto Gaslini adalah suasananya yang sangat nyaman dan kondusif untuk belajar. Semua pendapat kita dihargai, pertanyaan kita dilayani, ketidaktahuan kita ditanggapi secara positif, nyaris tidak terasa hawa senioritas di antara para professor, spesialis, residen, perawat bahkan kepada mahasiswa clerckship seperti aku sendiri. Semua orang menghargai dan menghormati profesi masing-masing dengan sangat baik, sehingga nyaris tidak ada rasa takut dan segan bagiku untuk bertanya apapun yang ingin ku ketahui, bahkan kepada seorang Profesor sekalipun. Semuanya bahkan berinteraksi satu sama lain dengan sangat akrab seperti layaknya sahabat mulai dari professor sampai petugas kebersihan. Minum kopi dan menyantap vocaccia di kantin selepas kerja, bercanda dan tertawa bersama, dan bercerita lepas tentang hal-hal di luar pekerjaan. Profesor dan dokter-dokter spesialis yang mengajariku pun tak segan sesekali menaruh tangannya di pundakku, memanggilku “my friend” dan memintaku jalan-jalan setiap akhir pekan melihat indahnya Italia. Sungguh tempat ini membuatku kagum, sangat termotivasi, sekaligus iri, seandainya hal yang sama juga ada di kampus dan rumah sakit tempatku belajar di Indonesia, tentu aku akan sangat bersyukur.

Dokumentasi:

#To be continued

2 thoughts on “Menjadi Dokter Muda di Italy #Italychronicles – Part 6

  1. Beda jauh dengan di Indonesia ya. Pasien mengantre lama, pelayanan belum maksimal, dan senioritas masih sangat kentara. Semoga hal-hal baik yang ada di sana bisa dibawa pulang dan diterapkan di sini🙂.

    Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s