Penampakanku ketika sedang bertualang sebagai backpacker, hhe

Suka Duka Seorang Backpacker #Italychronicles – Part 8 [The End]

Kesempatan belajar selama satu bulan di Italia merupakan waktu yang amat sangat berharga untukku berpetualang. Alhamdulillah, setiap minggu, profesorku di Instituto Gaslini memberikanku libur akhir pekan setiap Sabtu dan Minggu. Kadang-kadang, profesorku yang baik hati itupun memberikanku liburan akhir pekan tambahan di Hari Jum’at, bahkan beliau sendiri yang memintaku untuk mengelilingi dan mengunjungi tempat-tempat baru di Italia. Tentu saja kebaikan hati beliau tak akan ku sia-siakan. Sudah jauh-jauh datang ke Italia, tidak mungkin aku akan melewatkan kesempatan ini begitu saja.

Keputusan Menjelajah Italia Seorang Diri

Program pertukaran pelajar di Genova ini sejatinya memang perjalanan mencari pengalaman magang di rumah sakit. Program ini tidak mengakomodir kegiatan wisata atau jalan-jalan atau semacamnya. Teman-teman sesama progam pun memiliki agenda mereka masing-masing, sementara aku ingin sekali melihat-lihat hal baru di tempat ini. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk melakukan perjalanan sebagai seorang backpacker menjelajahi seantero Italia dengan biaya pas-pasan yang kupunya, sendirian. Berbekal sebuah ransel berisi dokumen-dokumen penting (paspor, visa, dll), pakaian, alat-alat kebutuhan pribadi, dan beberapa bekal makanan, lengkap dengan alat-alat wajib seperti kamera, tablet, ponsel dan powerbank, aku pun siap menjelajahi Italia meski harus seorang diri. Perjalanan itupun ku rencanakan setiap akhir pekan.

Penampakanku ketika sedang bertualang sebagai backpacker, hhe
Penampakanku ketika sedang bertualang sebagai backpacker, hhe

Sistem Transportasi di Italia

Sistem transportasi di Italia sangat mudah diakses baik dari internet maupun dengan bertanya ke petugas di stasiun atau penjual tiket all in one 24 jam di toko-toko penjual tiket. Kereta api (train/treno) adalah sarana termurah dan termudah untuk berkeliling antar kota di Italia. Jadwal kereta, tujuan dan jam keberangkatan pun tersedia di papan informasi yang ada di setiap stasiun. Aplikasi google maps pun memudahkanku untuk melihat dan memilih moda transportasi tercepat yang dapat ku ambil, dan aku pun tak terlalu khawatir akan tersesat. Mesin pencetak tiket pun berjejer di setiap stasiun jika kita enggan mengantri untuk membeli tiket secara manual ke petugas. Cukup melihat-lihat bagaimana orang menggunakannya aku pun kemudian bisa pula, tinggal memilih kereta tujuan dan membayar tiket dengan memasukkannya ke mulut penarik uang, tara..! tiket pun jadi. Jangan khawatir kalau uang yang kita masukkan berlebih, nanti kembaliannya otomatis keluar bersama dengan tiket. Hehe. Tiket itupun nanti tinggal divalidasi sebelum kita menaiki kereta. Di pintu tempat tunggu penumpang tersedia sebuah alat untuk memvalidasi tiket kereta yang kita beli. Jika tidak mau tertangkap petugas di kereta karena tidak punya tiket yang sudah divalidasi sehingga harus membayar uang puluhan Euro, maka validasi tiket sebelum naik kereta wajib dilakuin. Lagi-lagi, caranya adalah dengan meniru orang-orang melakukannya. Hehe

Selain kereta api untuk berkelana jarak jauh, di dalam kota biasanya tersedia moda transportasi lainnya. Bus, trem, kereta bawah tanah pun siap melayani kita. Tiketnya pun bisa dibeli di toko-toko yang ada di dekat-dekat tempat umum, dan jenis tiketnya pun bermacam-macam. Ada yang untuk sekali jalan, untuk sekian jam, untuk 24 jam, hingga satu bulan penuh. Harganya berbeda-beda tergantung lama pemakaian. Tiket yang akan digunakan cukup divalidasi satu kali sebelum menaiki moda transportasi yang kita perlukan. Dengan satu tiket kita bisa naik apa saja di dalam kota sampai waktu tenggang tiket telah habis. Menyenangkan bukan?

Sungguh sistem transportasi di Italia membuatku terkesan, semuanya teratur, terjadwal dengan rapi, aman dan nyaman, sehingga tak perlu khawatir akan terlambat atau mengalami masalah di perjalanan. Bicara tentang transportasi massal di negara maju, memang belum sebanding dengan negara berkembang seperti Indonesia, baik dari segi keamanan, kenyamanan, dan waktu keberangkatan.

Berkeliling Kota Seorang Diri

Minggu pertama pun akhirnya ku habiskan untuk mengelilingi kota Genova, kota tempatku tinggal. Kota ini merupakan kota pelabuhan raksasa dan kota terbesar ke enam di Italia, tempat penjelajah Eropa yang terkenal yakni Christopher Colombus dilahirkan dan dibesarkan. Kota ini menyimpan peninggalan sejarah dan bangunan-bangunan kuno abad pertengahan yang masih terjaga. Cukup dengan berjalan kaki, menaiki bis, kereta, dan kereta bawah tanah, kita bisa menikmati kota ini dengan sepuasnya. Hawa dingin dengan suhu berkisar antara 8 sampai 14 derajat celcius yang menemani tidak membuat badanku cepat kelelahan, bahkan jarang dibasahi keringat, sebab kelembaban udara di tempat ini tidak terlalu tinggi, meskipun berada di tepi pantai Mediterania. Jadi, jalan kaki dan menggunakan transportasi publik adalah pilihan yang paling tepat.

Pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika pertama kali sampai di Kota Pisa, sekitar 3 jam perjalanan kereta api dari Genova. Dari kejauhan aku melihat menara yang selama ini ku lihat di buku-buku geografi ketika SMA. Ia terlihat miring menjulang tinggi di balik dinding benteng yang kokoh. Rasanya seperti mimpi melihat salah satu keajaiban dunia, yakni Menara Pisa!

Momen lain adalah ketika aku sampai di Roma, melihat peninggalan-peninggalan sejarah masa lalu yang melegenda. Tentang cerita kebudayaan bangsa Romawi kuno yang telah ada berabad-abad sebelum masehi. Aku pun akhirnya bertemu dengan Colosseum di Roma. Sebagai kota yang menjadi saksi peradaban masa lalu, bangunan-bangunan bersejarah di kota ini benar-benar masih asli dan terjaga dengan baik. Kota ini merupakan salah satu dari kota terindah yang pernah ku lihat seumur hidup. Berjalan kaki di Roma seakan-akan sedang berpetualang ke masa lalu. Tak berlebihan lah kiranya pepatah menyebutkan, “Tidak satu jalan ke Roma”.

Selama berpetualang, tentu saja kamera digital sederhanaku tidak kan pernah lepas dari list barang bawaan. Berjalan sendirian membuatku sedikit sulit mengabadikan diri sendiri di dalam lensa kamera. Terpaksa, foto selfie atau dengan timer menjadi jalan termudah yang ku punya untuk sekedar mengambil gambar untuk kenang-kenangan. Kalau lagi rejeki, kadang-kadang pengunjung atau orang lain pun bersedia ngambilin foto, tentu saja sebagai imbalannya aku balik memfoto mereka. Hehehehe.

Terpaksa selfie di bawah Menara Pisa, ckck
Terpaksa selfie di bawah Menara Pisa, ckck

Telunta-lunta di Dinginnya Tengah Malam Verona

Selain cerita menakjubkan melihat kota-kota di Italia, seperti Pisa, Florence, Roma, Milan, dan Venezia (silakan melihat dokumentasinya di Exploring Ancient Cities of Italy #Italychronicles – Part 5), aku mungkin tak kan pernah melupakan pengalamanku ketika terlunta-lunta di tengah malam ketika pergi ke Venezia.

Untuk menuju Venezia, aku harus mengambil dua kali kereta, pertama dari Milan ke Verona, lalu membeli tiket lagi dari Verona ke Venezia. Aku kemudian sengaja mengambil kereta pada malam hari agar aku bisa tidur tanpa harus menyewa kamar hostel yang harganya cukup mahal.  Namun perhitunganku ternyata tak begitu matang, ketika akhirnya aku sampai di Kota Verona di tengah malam yang pekat setelah terbangun dari kereta dari Milan, dan harus menunggu kereta dari Verona ke Venezia yang berangkat pukul 05.30 pagi.

Udara dingin pun menyapaku dengan sangat menusuk. Suhu 5 derajat celcius di tengah malam itu seolah ingin menemaniku sendirian di tengah Kota Verona. Tiada tempat untuk istirahat melainkan sebuah bangku di taman terbuka di depan stasiun yang teramat dingin untuk ku duduki. Baju tebalku tak berkutik menahan dingin yang ingin menerobos kulit-kulitku. Kaki yang telah lelah berjalan seharian mengelilingi Milan di siang hari harus pasrah kuakui tak sanggup lagi melangkah.

Ku lihat jam tanganku masih pukul 00.00. Ketika ku sedang mencari-cari tempat istirahat di dalam gedung stasiun, petugas pun mengumumkan stasiun akan segera ditutup dan dibuka lagi pukul 05.00. Akupun terdiam tak tahu lagi harus kemana untuk sekedar memejamkan mata. Akhirnya aku paksakan kaki ini berjalan berkilo-kilo meter menelusuri sudut-sudut kota Verona yang membisu di malam hari untuk mencari tempat  untuk sekedar beristirahat. Aku bagaikan gelandangan yang punya tempat tinggal dan tak punya arah tujuan. Hingga akhirnya setelah lelah berjalan, aku duduk bersandar di sebuah halte bis di tengah malam. Aku melihat satu dua orang berkulit hitam yang melintas, preman-preman kota tengah malam, dan orang-orang aneh yang membuatku agak ketakutan. Dalam hati aku berkata, biarlah Allah yang melindungi setiap langkah.

Meski telah mencoba berkali-kali tidur sambil duduk bersandar di halte bis itu, tetap saja tidak bisa. Aku selalu melihat-lihat jam tangan yang berjalan seperti keong kesakitan, begitu lama. Masih 4 jam lagi sebelum jam 5.30. Berkali-kali aku bolak balik dari halte bis itu ke tempat yang lain untuk sekedar mencari tempat istirahat yang lebih nyaman, aku harus mengakui bahwa halte itu adalah tempat yang paling nyaman saat itu. Hingga aku menunggu dan menunggu hingga pukul 04.00 pagi. Karena sudah tak tahan, aku pun mencoba melihat-lihat stasiun, apakah sudah buka atau belum. Dari jauh ku melihat beberapa orang berdiri di depan stasiun, ku kira mereka adalah supir taksi atau penjaga keamanan stasiun. Diam-diam aku menyelinap masuk ke dalam stasiun di tengah malam yang gelap itu, dan alhamdulillah aku bisa masuk ke stasiun, dan tidur di bangku penunggu kereta meski harus melawan dinginnya Verona malam itu, hingga stasiun kembali dibuka pukul 05.00 pagi. Benar-benar pengalaman yang berkesan.

Demikianlah, sejatinya perjalanan itu mengajarkan kita akan banyak hal. Pengalaman, ilmu dan wawasan adalah satu dari sekian banyak berkah yang Allah berikan. Dalam Islam, bahkan Allah SWT pun memerintahkan hamba-Nya untuk melakukan perjalanan. “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS.Al-Mulk: 15) Maka sedikit perjalanan dan pengalaman menjadi dokter muda sekaligus backpacker ini sungguh telah menambah inspirasi dan wawasan akan ciptaan-Nya, serta tentu saja serasa menambah iman di dalam dada. Hingga sepulang dari Italia, aku pun merasa semakin ingin dan ingin mengunjungi tempat-tempat lainnya di dunia, dan mungkin akan menjadi mimpi-mimpiku selanjutnya yang harus ku wujudkan, setelah menjadi seorang dokter yang bermanfaat untuk masyarakat banyak, khususnya untuk negeriku Indonesia. Sungguh, perjalanan singkatku ke Italia seperti telah mengubah cara pandangku melihat dunia. Alhamdulillahirabbi’alamin. Subhanallahi tawakkaltu ‘alallah. Laa hawlaa wa laa quwwata illa billah..

#The End

2 thoughts on “Suka Duka Seorang Backpacker #Italychronicles – Part 8 [The End]

  1. Waahh..amazing. Apalagi yang episode di Verona itu, saat tiba di sana tengah malam dan harus menunggu berjam-jam sampai stasiun dibuka. Solo backpacker memang melatih keberanian dan pengambilan keputusan dan di sanalah letak keunggulan traveler muslim. Mereka percaya bahwa Alah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berda dalam kesulitan. d^^b

    Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s