ranah-tiga-warna1-horz

Reviewing Books – April 2015

Siklus kehidupan seperti berubah drastis ketika menyelesaikan ujian akhir dan sepulang merantau dari Italia. Waktu yang biasanya terpakai untuk mengisi hari-hari di rumah sakit, berkutat dengan pasien, buku-buku ilmiah, paper dan makalah, presentasi dan laporan kasus, reviewing materi kuliah dan pelajaran kedokteran, dan seabrek kegiatan menguras pikiran dan tenaga lainnya harus berubah dan berhenti seketika. Agak lucu saja ketika merindukan masa-masa bersusah payah ketika belajar di fase klinik dulu. Waktu yang senggang seperti sekarang ini justru membuatku mengingat masa lalu ketika masih menghadapi a lot of things to do. Ckck. Ado-ado se.

Well, namun ada satu hal yang patut ku syukuri ketika waktu senggang ini tersedia. Membaca. Ya. Dari dulu aku selalu berniat untuk membaca dan menamatkan buku-buku favorit yang tak pernah sempat dikhatamkan selama belajar di fase klinik. Buku-buku yang ku beli dari toko buku a few months to years ago hanyalah menjadi pajangan lemari yang terbaca setengah-setengah.

Leo, seorang anak Jerman yang menjadi kawanku selama di Italia memang telah membangkitkan semangat membacaku yang perlahan hilang ditelan waktu. Melihatnya membaca setiap hari membuatku merasa tersindir sebagai seorang manusia, bahkan tentu saja sebagai seorang muslim. (Baca kisahnya di Sahabat Terbaik di Italia #Italychronicles – Part 7) Kenapa kita yang nyata-nyatanya muslim dan ayat yang pertama turun itu pun adalah perintah Iqra’, bacalah, namun kenyataan yang ku lihat adalah justru orang-orang non muslim lebih kukuh mengamalkannya. Tidak boleh lagi. Aku harus memulainya!

Maka sepulang dari Italia itupun aku berniat untuk menamatkan 1 buku setiap minggu, buku apa saja.

Alhamdulillah, target sederhanaku telah tercapai untuk bulan April kemarin. Empat buku sudah ku tamatkan dalam satu bulan. Dan benar, aku merasa sangat puas setelah membacanya. Meski buku-buku yang ku baca mungkin hanya buku-buku lama, namun tetap saja, membaca ternyata memang menyenangkan!

1. Ranah Tiga Warna – Ahmad Fuadi

Gramedia | 416 Halaman

Ranah 3 Warna, karya Ahmad Fuadi (image: http://wikimedia.org)

Buku pertama yang ku baca adalah sebuah novel karangan A.Fuadi, novelis terkenal asal Maninjau Sumatera Barat yang namanya sudah tak asing lagi di Indonesia. Buku lanjutan trilogi Negeri Lima Menara berjudul Ranah Tiga Warna. Ya, buku ini sudah lama terbit, namun tak pernah ku baca. Buku yang sangat menginspirasi, mengisahkan perjuangan Alif, seorang anak Maninjau lulusan pesantren Gontor yang bercita-cita pergi ke luar negeri. Perjuangannya masuk ke perguruan tinggi negeri di Bandung dengan segala keterbatasan. Bekerja siang malam mencari sesuap nasi. Berperang batin ketika keluarga di kampung sedang kesusahan. Pasang surut semangat ketika masalah demi masalah menimpa. Kesedihan mendalam atas kepergian sang Ayah. Kegigihannya dalam mewujudkan mimpi-mimpinya. Hingga akhirnya lulus seleksi pertukaran mahasiswa ke Kanada. Mimpinya pun terwujud dengan resep man jadda wa jada, man shabara zhafira. Speechless! Buku yang recommended banget untuk para pemuda yang baru melangkah menggapai cita-cita.

2. Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam? – Graham E.Fuller

Mizan | 408 Halaman

Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam, karya Graham E.Fuller (image: http://mizanstore.com)

Buku keduaku adalah sebuah buku non-fiksi karya sejarawan internasional, Graham E.Fuller berjudul Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam? Sebuah buku terjemahan dari buku A World Without Islam yang menyajikan narasi sejarah peradaban dunia yang dibingkai dengan gagasan ilmiah yang logis dan luar biasa. Buku yang membuka cakrawala mengenai asal mula peradaban agama-agama di dunia, peristiwa-peristiwa kemanusiaan dan keagamaan berantai masa sejarah, termasuk Islam dan pengaruhnya terhadap agama-agama lain di dunia. Keren! Ya, meskipun buku terjemahan memang agak sulit dicerna. Ada baiknya jika langsung membeli karangan aslinya dalam bahasa inggris, tapi sadar diri juga bahasa inggrisku masih gimana gitu. hehe..🙂

3. Bulan Terbelah di Langit Amerika – Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Gramedia | 352 Halaman

Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum S.Rais dan Rangga Almahendra (image: http://d.gr-assets.com)

Buku ketiga adalah sebuah buku novel perjalanan seorang novelis terkenal juga, dari pengarang 99 Cahaya di Langit Eropa yang fenomenal, Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Buku itu berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika. Masya Allah. Buku novel yang satu ini benar-benar membuatku speecles! Buku yang mengisahkan perjalanan Hanum dan Rangga ke negeri Paman Sam dengan misi yang berbeda. Buku ini seolah-olah menggambarkan perjalanan Hanum menjadi seorang reporter terlihat seperti detektif, yang membongkar sisi lain dari peristiwa runtuhnya menara kembar World Trade Center 9/11. Banyak peristiwa-peristiwa penuh hikmah dan memang nyata-nyata membuat kita terengah dan berkali-kali menelan ludah. Peristiwa itu seperti berada di depan mata. Tentang cinta, harapan, kebencian, keteguhan berislam. Bagaimana orang-orang muslim diperlakukan di Amerika setelah kejadian naas itu. Buku ini membuat kita ingin dan semakin ingin mempelajari Islam. Highly recommended!

4. Man Shabara Zhafira – Ahmad Rifa’i Rif’an

Elex Media Komputindo | 308 Halaman

Man Shabara Zhafira karya Ahmad Rifa’i RIf’an (image: http://statis.dakwatuna.com)

Buku terakhir minggu lalu adalah buku motivasi berjudulu Man Shabara Zhafira karya Ahmad Rifa’i Rif’an. Buku ini, masya Allah. Benar-benar ngena! Buku yang menelanjangi dahsyatnya mimpi, ikhtiar, doa dan sabar untuk menggapai cita-cita. Buku ini dikemas ringan, santai, rapi, dan islami banget! Memang. Buku motivasi islam memang tiada bandingannya. Karena tiada yang lebih memotivasi diri kita melainkan Allah. Ya, tujuan dan impian hidup muslim di dunia. Di buku ini, tidak hanya memaparkan, namun juga membuat kita untuk segera take action! Also recommended!

Setelah ini, ingin kembali menetapkan target-target membaca lainnya. Mungkin ada baiknya jika target itu ditingkatkan dan mengarah ke buku-buku ilmiah. Jurnal, laporan kasus mungkin? Ckckck. Jika membayangkan Leo yang kukuhnya membaca buku teks kedokteran seperti membaca novel saja, rasanya aku tak boleh kalah. Namun entahlah, bicara memang mudah, actionnya kurang istiqomah. Lebih baik buktikan saja dulu dan raih manfaatnya setelah itu. Bismillah, ya kan?🙂

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s