(image: http://images.wisegeek.com/)

Hipoksia dan Terapi Oksigen

(image: http://images.wisegeek.com/)
(image: http://images.wisegeek.com/)

Terapi oksigen merupakan salah satu terapi yang paling mendasar dalam kasus gawat darurat medik. Terapi oksigen pertama kali mulai dipraktekkan sebagai salah satu moda terapi kasus gawat darurat pada tahun 1920 oleh Baruch dkk. Beberapa tahun setelahnya yakni pada awal tahun 1960-an, sebuah penelitian dasar membuktikan adanya perbaikan kualitas hidup pada pasien yang menderita penyakit paru obstruktif kronik setelah diberikan terapi oksigen ini.🙂

#Hipoksia

Terapi oksigen diberikan pada kasus hipoksia. Hipoksia adalah kondisi dimana jaringan tubuh mengalami kekurangan pasokan oksigen. Hipoksia akan terjadi pada tiga kondisi, yaitu apabila kadar oksigen di dalam arteri berkurang (hipoksemia), aliran darah mengalami gangguan, atau jaringan menggunakan oksigen secara berlebihan.

Apa akibatnya? Jika hipoksia terjadi, maka jaringan akan berusaha mencari alternatif pembakar zat metabolisme lain selain oksigen, yaitu dari sistem an-aerob (tanpa oksigen). Akibatnya, asam laktat yang merupakan salah satu hasil metabolisme an-aerob akan meningkat. Jika terlalu berlebihan, maka asam laktat ini dapat masuk ke darah dan menyebabkan darah menjadi lebih asam (pH turun) sehingga terjadi asidosis. Jika sudah asidosis, metabolisme seluler tentu akan terganggu, sehingga sel akan mati.

#Gejala Hipoksia

Hipoksia seringkali tidak menunjukkan gejala yang jelas dan spesifik. Munculan klinisnya tergantung apakah hipoksianya akut (segera) atau kronik (bertahap). Tanda-tandanya antara lain bisa berupa perubahan status mental (sikap labil), pusing, dispneu, takipneu, respiratory distress dan aritmia. Sianosis kadang bisa juga jadi tanda, tapi setelah anemia disingkirkan.

#Hasil Labor

Pemeriksaan labor sangat vital untuk mengetahui tanda-tanda hipoksia. Pemeriksaan yang paling sering dipakai adalah PaO2 arteri (tekanan parsial oksigen dalam darah arteri) dan SaO2 arteri (saturasi oksigen dalam arteri). Pemeriksaannya agak invasif yaitu dengan AGD (analisis gas darah) dengan mengambil darah arteri langsung melalui punksi. Biasanya di arteri radialis di lipat lengan atau arteri femoralis di lipat paha.

Pemeriksaan lain yang tidak invasif yaitu pulse oximetry (dg menjepitkan alat oksimetri pada ujung jari dan melihat saturasi oksigen langsung di monitor). Tapi cara ini tidak bisa mendeteksi hipoksemia, dan hanya bisa memperkirakan PaO2 > 60mmHg atau kurang.

#Apa manfaat terapi oksigen?

Terapi oksigen sangat bermanfaat terutama untuk mengoptimalkan oksigenasi jaringan dan meminimalkan asidosis respiratorik. Manfaat lainnya adalah memperbaiki hemodinamik paru, meningkatkan kapasitas latihan, mencegah kor pulmonal, menurunkan cardiac output, meningkatkan fungsi jantung, memperbaiki fungsi neuropsikiatrik, mengurangi hipertensi pulmonal, dan memperbaiki metabolisme otot.

#Kapan terapi oksigen ini diindikasikan?

Terapi oksigen tidak boleh asal diberikan. Indikasinya harus jelas, dan jumlah oksigen yang digunakan juga harus tepat agar manfaat terapinya ada. Berikut indikasi pemberian terapi oksigen:

1. Terapi Oksigen Jangka Pendek

Terapi oksigen jangka pendek adalah terapi untuk keadaan hipoksemia akut. Kondisi seperti ini misalnya pada kasus pneumonia, PPOK dengan eksaserbasi akut, asma bronkial, gangguan kardiovaskular dan emboli paru. Kondisi ini tergolong emergensi dan harus mendapat terapi oksigen yang adekuat, jika tidak dapat menimbulkan cacat bahkan kematian.

Berikan oksigen dengan fraksi oksigen (FiO2) 60-100% sampai kondisi membaik dan terapi spesifik diberikan. Jika sudah membaik, lanjutkan oksigen dengan dosis yang dapat mengatasi hipoksemia dan meminimalisir efek samping.

Indikasi lain menurut the American College of Chest Physicians dan The National Heart, Lung and Blood Institute adalah jika:

  • Hipoksemia akut (PaO2 < 60mmHg; SaO2 < 90%)
  • Henti jantung dan henti napas
  • Hipotensi (Tekanan darah sistolik < 100mmHg)
  • Curah jantung yang rendah & asidosis metabolic (bikarbonat < 18 mmol/L)
  • Respiratory distress (frekuensi napas > 24x/menit)

2. Terapi Oksigen Jangka Panjang

Terapi oksigen jangka panjang adalah terapi untuk pasien dengan hipoksia kronis. Contohnya, PPOK dan kor pulmonal. Oksigen diberikan secara kontinyu, biasanya selama 4-8 minggu. Awalnya oksigen diberikan harus dalam konsentrasi rendah (FiO2 24-28%), lalu kemudian dapat ditingkatkan secara bertahap berdasarkan hasil pemeriksaan AGD agar hipoksemia dapat dikoreksi dan menghindari penurunan pH di bawah 7,26.

Mesti diingat bahwa, apabila oksigen dosis tinggi diberikan pada kasus PPOK yang sudah mengalami gagal napas tipe II justru akan berdampak buruk. Oksigen tinggi akan mengurangi efek hipoksik yang sebenarnya berguna untuk memicu gerakan bernapas. Jika efek hipoksik berkurang, gerakan napas akan menurun sehingga terjadi mismatch antara ventilasi dan perfusi. CO2 akan menumpuk (retensi) dalam darah dan akibatnya terjadi asidosis respiratorik.

Setelah diterapi, pasien harus dievaluasi ulang dalam 2 bulan apakah ada perbaikan atau masih butuh terapi oksigen. Rata-rata 40% pasien yang sudah diterapi mengalami perbaikan setelah 1 bulan dan gak perlu lagi mendapatkan suplemen oksigen.

Secara rinci, indikasi terapi jangka panjang antara lain:

  • PaO2 istirahat < 55mmHg / SaO2 < 88%
  • PaO2 istirahat 56-59mmHg atau SaO2 89% pada salah satu keadaan berikut:
    • Edema akibat CHF
    • P Pulmonal pada EKG (gelombang P > 3mm pada lead II, III, aVF)
  • Hematokrit > 56% (eritrositemia)
  • PaO2 < 59 mmHg / SaO2 < 89%

#Kontra Indikasi Terapi Oksigen

Terapi oksigen tidak direkomendasikan pada:

  • Pasien dengan gangguan jalan napas yang berat & keluhan utama dispneu, tapi PaO2 > 60 mmHg dan tidak ada hipoksia kronik.
  • merokok saat diterapi, sebab meningkatkan risiko kebakaran
  • pasien tidak menerima terapi adekuat

#Peralatan dan Teknik Pemberian Oksigen

Alat yang mesti disiapkan untuk pemberian oksigen antara lain:

  • Sumber gas: tabung oksigen dengan tekanan sekitar 50 psi.
  • Flow meter : standar harus dikalibrasi sampai 15L/menit.
  • Humidifier: alat untuk melembabkan udara (oksigen) yang diberikan (kantong yang diisi air)

Metode pemberiannya dapat bervariasi tergantung arus dan fraksi oksigen yang diperlukan. Diantaranya dapat dilihat dalam tabel:

Tabel Alat Terapi Oksigen
Tabel Alat Terapi Oksigen

Beberapa keterangan:

  1. Kanula hidung. Pilihan utama untuk terapi tambahan ringan sampai sedang. Volume yang dapat diberikan adalah 1 – 15 L/menit. Jika diberikan lebih dari 4 L/menit harus dilembabkan dengan uap air. FiO2 yang didapat adalah 24-56%.
  2. Sungkup muka. FiO2-nya lebih besar dari kanula hidung.
    1. Sungkup muka sederhana. Tidak berkantong. Jika aliran yang diberikan >6 L/menit, akan terjadi rebreather (CO2 hasil ekspirasi dihirup lagi)
    2. Sungkup muka dengan kantong penyimpanan.
      1. Parsial rebreather: kantong penyimpanan dapat mengempis. Oksigen akan mengalir kontinyu ke kantong penyimpanan. Pada saat ekspirasi 1/3 udara ekspirasi (CO2) masuk kedalam kantung penyimpanan dan bercampur dengan oksigen segar, 2/3-nya keluar melalui lubang di sisi-sisinya.
        Pada saat inspirasi pasien akan menghirup kembali sebagian udara ekspirasi (rebreathing).
        Dengan memberikan aliran oksigen sebesar 10L/menit, fraksi inspirasi tertinggi yang dapat dicapai hanya sekitar 60%.
      2. Non-rebreather (NRM): memiliki dua set katup searah, pertama yakni di atas lubang pada kedua sisinya yang bakal menutup pada saat inspirasi, dan kedua yakni di  dasar sungkup yang mencegah udara ekspirasi masuk ke kantung penyimpanan. FiO2 yang bisa diberikan sangat tinggi, yaitu 85 – 90% (O2 >10L/mnt). Aliran yang diberikan harus melebihi kecepatan ekspirasi agar usaha nafas pasien menjadi lebih besar.
    3. Sungkup venturi. Alat ini dapat digunakan pada pasien dengan PPOK dengan fraksi inspirasi oksigen bervariasi dari 24 – 50%.

Wallahu’alam bisshawwab.🙂

Referensi:

Uyainah AZN. 2010. Terapi Oksigen. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V. Hal: 161-165. Jakarta:InternaPublishing.

Puar N. 2012. Terapi Oksigen. Presentasi. Bagian Anestesiologi FK Unand-RSUP Dr.M. Djamil Padang.

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s