buku juni

Reviewing Books – June 2015

Berikut sedikit ulasan saya untuk buku-buku bulan Juni lalu, semoga bermanfaat.🙂

1. Ayah… – Irfan Hamka

Penerbit Republika | xxviii + 323 halaman

hamka

Buku ini merupakan buku pertama yang saya baca awal Juni lalu. Buku yang merupakan tulisan dari anak kandung Prof.DR.H.Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih kita kenal dengan Buya Hamka ini menceritakan sisi lain kehidupan Buya Hamka sejak usia kanak-kanak hingga meninggal dunia. Kisah yang dituliskan oleh Irfan Hamka ini adalah kisah-kisah yang beliau dapati ketika pernah hidup bersama dengan ayah beliau, yakni Buya Hamka. Setelah membaca kisah hidup buya Hamka kecil hingga wafat, saya makin mengagumi sosok ulama besar asal Minangkabau ini.

Sedikit mengisahkan, di bagian awal buku ini, Irfan Hamka sedikit menguraikan siapa itu Buya Hamka bagi dirinya. Buya Hamka adalah seorang ayah yang dalam kaca mata saya, beliau menceritakan adalah seorang ayah yang sangat berjiwa besar, arif bijaksana dan penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Beliau menuliskan bagaimana prinsip-prinsip hidup Buya Hamka dalam berumah tangga, diantaranya, memupuk iman untuk takut kepada Allah, selalu berprasangka baik dengan orang lain, dan menjauhi sifat pembohong. Tiga sosok itu adalah ciri-ciri yang melekat di diri buya Hamka sebagai seorang ayah.

Di bagian selanjutnya Irfan Hamka kemudian menceritakan bagaimana buya Hamka bersama dirinya menghabiskan waktu kecilnya. Sosok buya Hamka yang dipandang oleh anak-anaknya sebagai seorang pejuang, terutama pada masa penjajahan Belanda, sebagai motivator dan penggerak perjuangan kemerdekaan hingga sering berkeliling hingga ke pelosok Sumatera Barat. Hamka juga ayah yang berwibawa, dan sangat disegani oleh masyarakat karena sifat bijaksananya. Hamka juga ayah yang pemberani dan jago silat serta ayah yang pandai mengajari anak-anaknya, luas ilmu agamanya, dan terpandang dalam politik.

Kisah menarik lainnya adalah ketika beliau mengisahkan buya Hamka yang pandai berdamai dengan jin – yang mereka sebut dengan inyiak batungkek- yang sering mengganggu keluarga beliau ketika baru pindah ke Jakarta.

Selain kisah-kisah masa kecil, terdapat pula cerita dan kisah buya Hamka ketika masih kecil, dianggap remeh oleh masyarakat karena tidak punya titel diploma lalu nekat pergi merantau tanpa sepengetahuan ayahanda Syech Abdul Karim Amrullah ke Mekah Arab Saudi, hingga pulang menjadi mubaligh dan penulis yang terkenal. Bagaimana pula ketika beliau akhirnya memutuskan untuk menuntut ilmu di Yogyakarta dan akhirnya menjadi penulis terkenal di media massa, dan menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Sampai pula ketika cerita beliau mendirikan masjid Al-Azhar dan perjuangan beliau dalam berdakwah, ikut mendirikan organisasi Muhammadiyah, hingga menjabat ketua Majelis Ulama Indonesia yang pertama.

Banyak kisah inspiratif yang disajikan selama membaca tulisan Irfan Hamka ini, termasuk ketika beliau bersama ummi dan ayahandanya yakni buya Hamka pergi naik Haji ke Mekah, lalu harus menempuh perjalanan yang mempertaruhkan nyawa di tanah Arab. Kisah pun berlanjut hingga cerita tentang kezaliman yang dialamatkan pada beliau, diantaranya ketika karya beliau “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” dituduh merupakan plagiat dari karya pengarang Alvonso care, seorang pujangga Perancis, lalu ketika beliau difitnah pasca terpilih sebagai ketua MUI, bahkan oleh orang-orang dekat beliau, mereka menuduh buya Hamka telah menjual dirinya dengan uang satu miliar untuk dapat menduduki jabatan mulia itu. Sungguh ironis, namun yang paling membuat saya takjub adalah, sikap buya Hamka dalam menghadapi itu semua. Beliau amatlah berbaik sangka, pemaaf, penyabar, lalu menanggapinya dengan cerdas dan bijaksana.

Namun yang paling membekas untuk saya adalah ketika membaca kisah beliau difitnah oleh rezim Soekarno, ketika beliau dituduh berencana membunuh Presiden Soekarno, sampai ketika akhirnya beliau ditangkap dan dipenjara bertahun-tahun atas hal yang sama sekali tidak benar. Namun justru kejadian itu membuat lahirnya karya agung Tafsir Al-Azhar. Dan ketika Soekarno wafat, justru presiden RI itu berwasiat, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.” Masya Allah. Buya Hamka yang tiada berdendam itu justru mengimami shalat jenazah orang yang telah memenjarakannya itu. Sungguh akhlak yang amat mulia.

Kisah mengagumkan itu berlanjut ketika beliau wafat. Saya tak berhenti terkagum-kagum dengan Buya Hamka setelah membaca buku ini. Silakan baca dan nikmati sisi lain kehidupan buya Hamka dengan membacanya. Really, this one is highly recommended!😀

2. Falsafah Hidup – Prof.Dr.HAMKA

Penerbit Republika | xxxiv + 428 halaman

Falsafah Hidup-500x500

Subhanallah. Itulah satu kata yang dapat saya ungkapkan setelah membaca buku ini. Ini adalah buku yang ditulis oleh tangan buya yang sangat saya kagumi, Buya Hamka. Judul lengkapnya, Falsafah Hidup, Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1940, tapi meski sudah berumur 75 tahun, tulisan buya Hamka ini masih sangat relevan untuk diamalkan dalam masa modern seperti sekarang ini. Gaya bahasa beliau apalagi, sungguh puitis dan memiliki makna yang dalam.

Ya, sesuai judulnya, “Falsafah Hidup”. Buku ini menggambarkan falsafah hidup yang dimiliki oleh seorang buya Hamka. Buku ini mungkin dapat disejajarkan dengan karya sastra karangan Al Ghazali -menurut saya, yang menggali tuntunan dan cara hidup yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Di antara hal yang dibahas di dalam buku ini, adalah tentang arti dari sendi-sendi kehidupan. Bab pertama membahas tentang Hidup, apa itu hidup? Untuk apa? Untuk siapa? Lalu kemudian Ilmu dan Akal, Hukum Alam, Adap Kesopanan, Sederhana, Berani, Keadilan, Persahabatan dan Islam sebagai Pembentuk Pandangan Hidup. Itulah prinsip-prinsip pokok kehidupan yang harus dimiliki oleh seorang Muslim, ditulis oleh buya Hamka.

Sungguh banyak petuah yang luar biasa di dalamnya, salah satu yang saya favoritkan di antaranya, ketika beliau menulis..

“Orang yang berakal hanyalah merindui tiga perkara: Pertama, menyediakan bekal untuk hari kemudian. Kedua, mencari kelezatan buat jiwa. Ketiga, menyelidiki arti hidup.”

Lalu,

“Maka siapa yang hendak sederhana, tawakkallah kepada Tuhan. Hidupkanlah cita-cita dan baik sangka kepada sesama manusia. Berpikirlah sederhana dan jagalah yang tiga perkara itu.”

Subhanallah. Semoga ilmu dan tulisan-tulisan beliau senantiasa mengalir menjadi penerang di sisi-Nya. Amin..

3. Mukjizat Gerakan Shalat – dr. Sagiran, M.Kes, Sp.B

Penerbit Qultum Media | xxvi + 238 halaman

1113204_M

Buku yang ketiga saya baca bulan lalu adalah buku yang ditulis oleh seorang dokter spesialis bedah, dr. Sagiran, M.Kes, Sp.B , kepala bagian Bedah FK UMY, yang meneliti tentang manfaat gerakan shalat dalam pencegahan dan penyembuhan penyakit. Buku ini dapat menambah wawasan dan keimanan kita akan besarnya manfaat shalat, yang rutin kita kerjakan lima kali sehari semalam. Dari buku ini, saya mendapatkan beberapa referensi ilmiah yang bagus untuk menambah khazanah ilmu kedokteran Islam.

Di dalam buku ini, beliau pertama-tama memaparkan sedikit tentang aspek fiqih shalat, mulai dari tata cara wudhu, dan shalat yang benar sesuai tuntunan sunnah. Sambil kemudian menyinggung pula dengan struktur anatomi tubuh dan mengkaitkannya dengan manfaat yang dapat didapatkan manusia ketika berwudhu’ dan shalat dari sisi medis. Sungguh menarik!

Beberapa rangkuman yang dapat saya bagi dari mukjizat gerakan shalat seperti yang ditulis di dalam buku ini diantaranya:

  • Berwudhu’ dapat memperlancar aliran darah perifer dan menstimulasi serabut saraf yang bermanfaat untuk menjaga pasokan makanan dan oksigen tetap terdistribusi dengan baik, terutama di organ-organ perifer, sehingga dapat mencegah penyakit pembusukan (iskemik) pada ekstrimitas. Selain itu terdapat titik-titik akupuntur yang ada di sepanjang anggota wudhu yang sangat bermanfaat untuk menstimulasi organ-organ tubuh untuk kembali normal.
  • Berwudhu’ juga dapat membersihkan keringat dan kuman-kuman dari permukaan kulit, serta membersihkan kulit dari kandungan minyak yang tertahan di kelenjar kulit yang bermanfaat untuk menjaga higienitas kulit.
  • Berdiri tegak lurus dengan benar ketika shalat dapat membuat postur tubuh menjadi lurus, serasi dan tegap sesuai bentuk anatomis, serta menambah semacam efek fisioterapi dimana terasa semacam tarikan di sepanjang sisi dalam tungkai, sehingga terjadi penyelarasan, pergeseran tumpuan berat ke sisi dalam dan menetralisir serta mengurangi risiko terkilir. Selain itu berdiri tegak dapat membuat kompaksitas susunan tulang-tulang penyangga tubuh menjadi rata, sehingga menurunkan risiko patah tulang akibat jatuh.
  • Takbiratul ihram dapat membuat tekanan udara di dalam rongga dada mengecil dan memudahkan udara nafas masuk dengan cepat, serta melatih diafragma. Selain itu gerakan takbir dapat memompa saluran limfe yang terutama berada di ketiak, sehingga menjaga stasiun peredaran limfe tetap terbuka.
  • Membaca al-quran ketika shalat dapat mencegah penyakit-penyakit psikologis, terbukti dengan penelitian professor dari Belanda, Vander Hoven (2002) yang menemukan efek sinkronisasi psikologis dan sistem organ tubuh yang mengagumkan ketika membaca huruf-huruf al-Qur’an, terutama lafadz Allah.
  • Rukuk dengan tuma’ninah menyebabkan kompresi antar ruas-ruas tulang belakang menjadi berkurang, dan menyebabkan relaksasi otot-otot punggung yang tegang.
  • Sujud dengan tuma’ninah menyebabkan terjadinya gerakan anti-kompresi (peregangan) pada ruas-ruas tulang belakang yang bermanfaat dalam pengaturan pelurusan tulang punggung. Selain itu sujud dapat menambah elastisitas pembuluh darah otak karena ketika sujud debit darah yang meningkat akibat posisi jantung yang lebih tinggi daripada otak, sehingga mencegah penyakit stroke. Ditambah lagi dengan manfaat sujud yakni memperkuat ikatan penggantung organ ke dinding rongga tempat organ itu berada.
  • Duduk dalam shalat dapat menghentikan aliran pembuluh darah utama di tungkai, sehingga menambah debit aliran darah ke otak dan organ dalam lainnya, pada waktu yang sama ia justru dapat merangsang kaki membentuk pembuluh-pembuluh darah kolateral dari efek iskemik yang ditimbulkannya, sehingga nantinya dapat memperkaya aliran oksigen ke ujung-ujung kaki. Selain itu duduk dengan jari-jari kaki menekuk dapat merelaksasikan otot-otot betis secara maksimal, sehingga membantu pemulihan dari timbunan asam laktat penyebab nyeri dan kelelahan. Dengan duduk ini pula seluruh persendian di tungkai, kaki, dan jari-jari menjadi aktif, lentur dan bebas pengapuran serta kekakuan.
  • Terakhir, gerakan salam dapat melatih kelenturan leher sehingga mencegah penjepitan saraf dan kelainan leher seeprti torticollis (kepala miring) dan gangguan anatomis lainnya.

Masya Allah banget bukan?🙂 Itu baru dari segi mukjizat gerakan shalat, belum lagi beberapa gerakan senam dan trik pijat refleksi yang ditulis beliau di dalam buku ini yang bermanfaat untuk dipraktekkan. Wallahu’alam.

4. Jerusalem, Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir – Trias Kuncahyono

Penerbit Kompas | xliii + 315 halaman

978-979-709-361-7-FC

Objektif. Ya, buku ini merupakan buku yang cukup objektif menurut saya ketika membahas kota suci tiga agama besar di dunia, Islam, Kristen dan Yahudi. Yaitu, Kota Jerusalem. Sebuah kota yang berdiri di sebuah tanah yang penuh dengan konfilk berkepanjangan, termasuk hingga hari ini, konfilk Palestina dan Israel.

Di buku ini, Trias Kuncahyono berusaha menjabarkan mengapa Jerusalem begitu diperebutkan oleh umat-umat di dunia. Tapi kali ini saya pikir tulisan ini tidak memihak pada salah satu kubu dari tiga agama itu, ia benar-benar mengajak pembaca untuk berpikir secara objektif, meskipun pada awal-awal tulisannya menceritakan tentang kisah-kisah yang bertentangan dengan kisah yang kita yakini sebagai seorang muslim, diantaranya kisah Nabi Daud yang dikatakan penuh dengan nafsu wanita dan kekuasaan –naudzubillah-, lalu Yesus yang mati disalib untuk menebus dosa-dosa manusia dan sebagainya. Memang butuh aqidah yang mantap untuk membacanya agar tidak bingung, tapi lambat laun setelah membaca tulisannya, saya kemudian paham bahwa penulis hanya berusaha menuliskan cara pandang yang berbeda dari setiap pemeluk agama tentang peristiwa-peristiwa nabi dan rasul yang dipahami oleh agama non-muslim, terkait pula dengan sejarahnya dengan Kota Yerusalem.

Well, buku ini memang buku sejarah tulen. Lengkap dengan gambaran peta dan kronologis perisitiwa yang terjadi di Kota Jerusalem, mulai dari ribuan tahun sebelum Masehi, hingga hari ini -selain juga membahas kota-kota yang dekat dengan Jerusalem. Tapi, buku ini memang sangat menambah wawasan dan saya bisa bilang buku ini highly recommended.

Di antara kesimpulan yang dapat saya rangkum dari buku ini adalah, kenapa Jerusalem tidak pernah usai dari konflik tiga agama ini? Antara lain kita mesti tahu arti penting Jerusalem bagi masing-masing agama.

  • Bagi orang Yahudi, Jerusalem adalah warisan para leluhur, yaitu tanah yang telah dijanjikan bagi mereka (bani Israil) setelah disampaikan oleh nabi mereka Moses dan Tuhan mereka Yahwe. Sejarah mereka amat panjang termasuk ketika mereka melarikan diri bersama Nabi Musa alahissalam dari Mesir menuju negeri Palestina. Kenizah Allah (bangunan sakral dalam agama Yahudi) telah mereka yakini berdiri sejak zaman kerajaan Nabi Solomon (Sulaiman), meskipun kemudian hancur dan dibangun lagi pada zaman pemerintahan Raja Cyrus Agung dari Persia. Kenizah itu kemudian hancur lebur kembali setelah dibumi hanguskan oleh pasukan Romawi tahun 70 masehi. Dan mereka mempercayai bahwa puing-puing bangunan kenizah Allah yang tertinggal di kota itu berdiri di Temple Mount, dan satu-satunya yang utuh adalah Tembok Barat yang dulunya sering disebut Tembok Ratapan. Banyak lagi kisah-kisah yang mereka yakini terjadi di Jerusalem, sehingga mereka menegaskan bahwa sejak ribuan tahun lalu, mereka telah berhubungan dengan tempat itu, sehingga Temple Mount merupakan tempat terkudus bagi mereka, pemeluk agama Yahudi.
  • Bagi orang Kristen, Jerusalem adalah bunda semua gereja. Bagi umat Kristen, Jerusalem tidak hanya ditakzimkan karena peranannya seperti yang dikisahkan dalam Kitab Perjanjian Lama, tetapi lebih karena peranannya yang begitu penting di masa kehidupan Yesus. Kota ini merupakan kota pertama tempat lahirnya komunitas Kristen. Kota ini juga sangat sakral karena menjadi tempat yang diyakini mengandung kekuatan ilahiah karena Yesus telah berjalan di atasnya selama hidup-Nya. Di tempat ini –tepatnya di bukit Golgota- jugalah Yesus disalib dan menebus dosa-dosa manusia, yang sampai sekarang tempat itu berdiri Gereja Makam Kristus. Peristiwa-peristiwa itulah yang menjadi alasan kenapa Jerusalem disebut sebagai bunda semua gereja oleh orang-orang Kristen.
  • Sementara bagi kita umat Islam, Jerusalem adalah kota tersuci ketiga setelah Makkah dan Madinah. Disanalah terdapat Masjidil Aqsha, tempat dimana Rasulullah SAW melakukan mi’raj ke sidratul muntaha seperti yang disebut di dalam al-Qur’an. Tempat ini merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum Allah memerintahkan Rasulullah memindahkan kiblat menghadap ke Ka’bah. Di masa Khalifah Umar Bin Khattab, di dekat Masjidil Aqsha itu, -tempat dimana beliau melakukan shalat berjama’ah dengan para sahabat ketika pertama kali memasuki Jerusalem,- kemudian didirikan Masjid Umar bin Khattab yang kemudian dikenal dengan Dome of the Rock, atau masjid qubah emas. Kompleks itu kemudian dikenal dengan Al-Quds.

Beranjak dari pentingnya status Jerusalem bagi masing-masing, di akhir buku ini penulis akhirnya kembali melempar pertanyaan lewat judul “Jerusalem Milik Siapa?” Berbagai macam resolusi-resolusi yang telah diberikan hingga zaman ini, melibatkan negara-negara berseteru Israel dan Palestina, kemudian PBB dan campur tangan Amerika Serikat, belum menemui titik temu. Bahkan peperangan untuk memperebutkan kota itu setelah diklaim oleh Israel sebagai ibukota negara mereka secara sepihak masih terus berkelanjutan. Di buku ini, sejarah dicatat dengan sangat baik, hingga layak untuk dijadikan referensi ilmiah.

5. Imunisasi Sunnatullah, Aplikasi Kedokteran Pencegahan untuk Meraih Sehat wal Afiat – dr.H.Sukiman Rusli, Sp.PD dan dr.Primo Parmato, Sp.A

Al-Mawardi Press | xii + 166 halaman

DSC00903

Buku ini merupakan buku yang berusaha menghubungkan antara aplikasi ilmu keislaman dengan ilmu kedokteran. Buku ini ditulis oleh putra-putra Minangkabau yang keduanya kemudian menuntut ilmu spesialistik di FK UI. Selain bahasa yang ringan dan mudah dipahami, buku ini layak untuk dijadikan rujukan akan pentingnya imunisasi sebagai aplikasi ilmu kedokteran pencegahan sebagai sebuah sunnatullah.

Sisi sunatullah yang dimaksud di buku ini dijelaskan oleh penulis, dimulai ketika bagaimana Allah swt menciptakan tubuh manusia dalam bentuk yang paling sempurna dari makhluk lainnya, menciptakan sistem kekebalan tubuh yang berfungsi dengan hukum Allah, dan kemudian menciptakan kita akal untuk berpikir untuk meraih hidup yang sehat wal afiyat, itulah yang disebut dengan sunnatullah, atau suatu ketetapan yang sudah ditentukan oleh Allah.

Melalui buku ini, penulis dengan piawai menghubungkan aspek medis imunisasi sebagai metode pengobatan pencegahan penyakit menular dengan ayat-ayat al-Qur’an, sehingga pembaca diajak merenung dan berpikir matang tentang anjuran untuk melakukan imunisasi. Seperti beberapa kalimat yang saya kutip dari buku ini, “Vaksinasi adalah wujud dari aplikasi IPTEK Kedokteran yang ‘ilmal yaqiin, dan program vaksinasi telah mendatangkan hikmah yang dapat diraih dan manfaat yang dapat dinikmati.”

Mengenai bagaimana seharusnya muslim menyikapi imunisasi, di akhir sesi tulisan juga dipaparkan beberapa aspek penting yang harus kita pahami, diantaranya bagaimana manusia dijadikan sempurna, kemudian diberi kemampuan berpikir, sistem kekebalan tubuh yang canggih, hingga mampu menghadapi musibah dengan berpikir sehingga menerapkan ilmu kedokteran pencegahan untuk menghadapi musibah yang ditimbulkan oleh penyakit infeksi.

Di bab terakhir, penulis kembali menekankan bahwa sesungguhnya imunisasi adalah upaya meningkakan kekebalan tubuh yang dibentuk tubuh sendiri sesuai sunnatullah. Ia merupakan perkembangan yang mengagumkan dari ilmu kedokteran pencegahan. Maka, kita sebagai khalifatullah fil ardhi harus berupaya menjaga dan meningkatkan status imun tubuh kita, salah satunya dengan imunisasi.

Ya, demikianlah sedikit review dari beberapa buku yang saya baca Juni lalu. Wallahu’alam. Semoga dengan membaca kita bisa menambah wawasan dan tentu saja keimanan. Yuk, biasakan baca lebih banyak lagi! Insya Allah🙂

4 thoughts on “Reviewing Books – June 2015

  1. Buku yang dibahas di tulisan ini ada beberapa di antaranya yang ada di rumah, tapi belum terbaca😐
    Makasih banyak atas review-nya, An🙂

    Like

    • Iya Mi, kadang buku2 di rumah yang sempat kebeli dulu bagus2, tapi blm sempat kebaca habis… sayang banget

      Sama2 Mi..🙂

      Like

  2. thnx atas review nya. khusus untuk buku #5, fenomena yang beredar di masyarakat adalah imunisasi dan vaksinasi adalah hal dilarang dalam Islam, dengan alasan mulai dari isu kehalalan vaksin hingga konspirasi yahudi. semoga masyarakat menjadi semakin cerdas dalam menyikapi isu tentang ini

    Liked by 1 person

    • Sama2 mas.. memang kita harus lebih teliti dan menelaah terlebih dahulu sebelum meyakini suatu kebenaran..🙂 semoga bs jd pelajaran

      Like

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s